Kanaya masuk ke dalam kamar barunya di antar oleh wanita berpipi chubby yang Melinda perkenalkan sebagai adik bungsu mereka yang secara tidak langsung adalah adik Kanaya juga. Kalau tidak salah dia berbeda lima tahun dengan Kanaya. Setidaknya dia tidak seketus wanita tadi meski tercetak jelas raut canggung di wajahnya.
"Eum---ini kamar Mbak.. eh Kakak.. eungg---Teteh?" Wanita berambut panjang itu menatap Kanaya tidak enak sembari menggaruk kepalanya bingung, "um---Cacha harus manggil Mbak apa ya?"
"Gitu juga boleh"
Cacha tersenyum lebar, "Oke. Mbak Kanaya semoga nyaman ya dengan kamar barunya"
Kanaya membuka mulutnya sampai setengah saat Cacha salah paham mengira bahwa dirinya lebih suka dipanggil 'Mbak' padahal maksud dari Kanaya adalah dia lebih suka dipanggil 'Teteh' panggilan 'Kakak' khas kota kelahirannya.
Baiklah terserah adiknya saja. Rasanya juga terlalu malas kalau harus repot-repot mempermasalahkan hal sesederhana itu.
Cacha pun segera pamit pergi, tapi sebelum itu Kanaya sudah lebih dulu menahan pergelangan tangan Cacha. Cacha tersenyum tidak enak bersentuhan dengan kakak tirinya, rasanya sedikit aneh dan canggung.
"Gue hargai sikap ramah lo. Tapi kalau ternyata lo anggap gue seperti cara kakak lo mengganggap gue, mendingan lo berhenti bersikap ramah sama gue"
Cacha menggelengkan kepalanya cepat, tentu saja tidak begitu. Cacha tulus kok bersikap ramah begini, "Enggak kok, Cacha nggak beranggapan begitu. Cacha tulus kok ramah sama Mbak. Dan soal Mbak Ambar, maafin dia ya Mbak. Harusnya Mbak Ambar nggak perlu marah-marah begitu tadi" cicit Cacha pada kalimat terakhirnya.
Kanaya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Dia melepas genggamannya ditangan Cacha, "Gue ngerti kok" gumam Kanaya yang dibalas senyuman lega Cacha.
"Eum---Cacha ke bawah dulu, ya, Mbak. Kalau Mbak Kanaya butuh sesuatu, panggil aja Cacha. Kamar Cacha itu di deket kamar Mbak Mel terus warna pintunya warna putih--eh tapi semua pintu di rumah ini warna putih sih. Eung---Mbak nggak usah panik atau bingung pokoknya. Soalnya nanti Cacha beli papan nama terus nanti Cacha pajang di depan pintu supaya Mbak tau itu kamar Cacha..." Cacha menghentikan ucapannya saat Kanaya hanya melongo tampak takjub dengan kemampuan Cacha dalam berbicara panjang lebar tanpa tersedak bahkan pengucapannya juga cukup jelas ditelinga Kanaya.
Cacha menepuk pelan bahu Kanaya, Kanaya sendiri langsung tersadar dari lamunannya kemudian menatap penuh tanya pada Cacha.
Cacha mengangkat dua jempolnya ke depan wajahnya, "oke Mbak?"
"Hah?!"
Cacha berdecak pelan, "ih, Mbak, kan tadi Cacha bilang kalau..."
Kanaya membulatkan matanya saat Cacha akan kembali mengulang perkataannya barusan, "oke, oke, gue paham kok paham... Pahaaammm banget"
Cacha tersenyum ceria karena ternyata kakak tirinya ini paham dengan perkataannya. Cacha kemudian pamit pergi meninggalkan Kanaya sendirian.
Kanaya menghela napasnya berat, jujur dia merasa pusing sendiri dengan tingkah ajaib putri bungsu Ayahnya itu. Kanaya pun segera masuk ke dalam kamarnya setelah itu dia segera menutup pintu bahkan mengunci rapat pintu kamarnya. Takut saja manusia berambut pendek tadi tiba-tiba masuk ke kamarnya dan menyeretnya keluar rumah ini lagi atau mungkin satu-satunya adik yang Kanaya miliki yang tiba-tiba masuk ke kamarnya lalu berceloteh tiada henti.
Bruk!
Kanaya melempar tasnya ke atas kasur lalu menjatuhkan badannya ke atas kasurnya. Kedua matanya terpejam dengan erat sembari menghela napas panjang. Jujur Kanaya masih merasa tidak percaya dia sudah menginjakkan kaki di rumah Ayahnya. Penyambutan yang dia dapatkan ternyata jauh dari segala kemungkinan buruk yang dia pikirkan. Karena apa yang dia dapat di hari ini jauh lebih buruk dari itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
COLORS (✓)
Hayran Kurgu(Completed) Local Fanfiction Cast : Gfriend and Seventeen Percintaan | Keluarga | Persaudaraan | Drama COLORS Sinopsis : Kehidupan keluarga Senandika terlihat begitu sempurna meskipun tanpa kehadiran sosok seorang Ibu. Sang Ayah yang notabennya ada...
