Seorang wanita berambut cokelat datang menghampiri wanita lainnya yang tengah sibuk mengepak pakaiannya ke dalam koper besarnya. Wanita berambut cokelat itu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur begitu saja sampai membuat koper yang memang berada di atas kasur tersebut memantul beberapa kali karena ulahnya.
Wanita berambut panjang yang semula sibuk mengepak pakaiannya itu tampak berjalan menuju lemari pakaiannya kemudian membukanya lebar-lebar memperlihatkan beberapa tempat kosong di dalam lemarinya lantaran pakaian yang semula mengisi tempat kosong itu sudah tersimpan rapi di dalam koper yang satunya.
Pindah rumah memang tidak semudah kelihatannya. Meski dia diminta adiknya membawa barang secukupnya, tapi rasanya pasti akan tidak tenang kalau dia meninggalkan semua barang-barang peninggalan ibunya juga beberapa barang kesayangannya di rumah yang akan mereka tinggalkan ini.
Wanita berambut panjang itu mengangkat tumpukan baju yang tersisa di dalam lemari ke atas kasur kemudian dia mengepaknya dengan perlahan-lahan ke dalam koper agar rapi.
Wanita berambut cokelat yang datang menghampirinya tadi diabaikan begitu saja. Wanita itu tampak menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang sambil melirik serius dirinya, "Teh, serius deh, kita itu cuma mau pindahan bukan berarti rumah ini dijual" komentarnya.
Wanita berambut panjang itu melirik wanita berambut cokelat yang jauh lebih muda darinya sekilas, "Nay, Teteh juga serius kalau Teteh nggak bisa biarin barang-barang Teteh ditinggalin begitu aja di rumah ini"
Wanita berambut cokelat itu mendesah kecewa mendengar jawaban wanita yang lebih tua dua tahun darinya tersebut. Sudah dia duga sebelumnya, tapi rasanya tetap menyebalkan saat kalimat semacam itu benar-benar keluar dari mulut kakaknya, Raya namanya.
"Kanaya itu udah kerja di sini dua tahun Teh, Kanaya juga udah terlanjur nyaman sama pekerjaan Kanaya"
"Dulu awal-awal juga kamu ngeluh karena nggak cocok sama kerjaan kamu yang sekarang, Nay" jawabnya dengan santai.
Kanaya menghela napasnya berat. Kakaknya ini memang sulit sekali dibujuk rayu, "Teh, belum tentu di sana Kanaya dapet kerjaan" keluhnya.
"Teteh bantu" ujar Raya dengan tegas.
Raya meresleting koper miliknya kemudian menaruhnya di lantai. Kemudian dia menggeser posisinya untuk bisa duduk berhadapan dengan adiknya. Adiknya yang sedari tadi terus menatap kesal dirinya, tentu saja karena selalu kalah dalam pembicaraan ---bisa juga dikatakan perdebatan--- serius diantara mereka berdua. Raya mengulurkan tangannya ke depan, menggapai kedua tangan Kanaya dengan lembut, "Nay, Teteh tau kalau semua ini benar-benar di luar dugaan. Tapi, ini amanah Ibu. Teteh harap kamu bisa belajar untuk menerima semuanya ya"
Kanaya melirik Raya dengan malas kemudian memilih keluar kamar meninggalkan Raya yang hanya bisa menatap kepergian adiknya dengan sendu. Adiknya hanya belum bisa menerima takdir yang harus dia jalani mulai dari hari ini.
Yah, faktanya Raya pun tidak benar-benar bisa menerimanya.
Raya pun bangkit dari posisinya kemudian berjalan menuju ke kamar Ibunya. Kamar Ibunya sendiri terletak tepat di sisi kiri kamarnya.
Begitu sampai di depan pintu kamar Ibu, Raya segera mengeluarkan sebuah kunci dari dalam laci nakas di sisi pintu sebelum akhirnya membuka kuncian pintu.
Krieett~
Suara decitan pintu seolah menggema memenuhi kedua telinga Raya kala Raya mendorong pintu kamar Ibunya lebar-lebar. Raya mengedarkan pandangannya menelusuri tiap sudut kamar Ibunya yang kini sudah tidak sehangat sebelumnya. Menghela napasnya sejenak untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya, Raya kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam, menapaki tiap sudut kamar Ibunya yang hanya akan menjadi kenangan dalam ingatannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
COLORS (✓)
Fanfiction(Completed) Local Fanfiction Cast : Gfriend and Seventeen Percintaan | Keluarga | Persaudaraan | Drama COLORS Sinopsis : Kehidupan keluarga Senandika terlihat begitu sempurna meskipun tanpa kehadiran sosok seorang Ibu. Sang Ayah yang notabennya ada...
