Goresan 19 : Usaha Pertama

287 45 3
                                        

Hari ini seluruh keturunan Ayah Senan termasuk Ayah Senan sendiri kembali melaksanakan kegiatan sarapan bersama di meja makan setelah sebelumnya sempat kehilangan momen seperti ini karena beberapa alasan. Terakhir mereka sarapan bersama seperti ini adalah seminggu yang lalu, sehari setelah kedatangan Raya dan Kanaya di rumah ini.

Tidak ada yang berubah sebenarnya dan agaknya terlalu dini juga mengharapkan perubahan signifikan seperti tiba-tiba mereka akrab, saling berbincang hangat membahas soal apa kiranya kegiatan yang akan mereka lakukan seharian ini atau melemparkan candaan ringan yang memunculkan gelak tawa membuka pagi ini penuh dengan keceriaan. Tentu saja contoh yang telah disebutkan barusan sebelumnya sangat mudah tercipta apalagi di rumah ini ada Cacha yang notabenenya selalu memberikan serbuk-serbuk keceriaan di keluarga mereka. Tapi kebiasaan yang dengan mudah tercipta sebelumnya itu semakin hari semakin terasa sulit di lakukan.

Meskipun kali ini Melinda dan Cacha mulai bisa menerima kehadiran Kanaya dan Raya tapi kecanggungan diantara kedua belah pihak baik dari pihak pertama maupun pihak kedua tetap tidak bisa serta merta pudar begitu saja. Sekat kecanggungan yang pada akhirnya mau tidak mau menumbuhkan sekat tak kasat mata sekokoh tembok beton tersebut membuat mereka berjarak satu sama lain. Membuat mereka tidak bisa untuk sekedar bertegur sapa di pagi hari, mengucapkan dua kata sederhana seperti Selamat Makan apalagi bertindak sok akrab seperti mengambil lauk pauk ke atas piring. Sejauh ini yang terlihat normal untuk dilakukan hanyalah saling melempar senyuman juga tatapan mata yang diusahakan tidak lagi menyorot tajam atau sinis.

Ayah Senan menjadi yang terakhir datang meruntuhkan sekat tak kasat mata itu dengan suasana hangat yang kini melingkupi sekeliling mereka. Mungkin hawa dari seorang ayah yang menguar itulah penyebabnya.

Ayah tersenyum penuh kebapakan melihat putri-putrinya makan dengan lahap. Ya, beliau memang sengaja meminta putri-putrinya untuk sarapan lebih dulu karena hari ini Ayah bangun kesiangan, dan agaknya kurang bagus kalau harus menyuruh mereka menunggunya ketika Melinda memanggilnya mengatakan kalau menu sarapan sudah tersedia di atas meja makan beberapa menit yang lalu. Ah, Ayah Senan hanya berusaha memahami kesibukan anak-anaknya apalagi Melinda yang bekerja sebagai seorang guru yang mana mau tidak mau harus berangkat pagi-pagi sekali karena jadwal upacara. Menjadi guru tidak serta merta membuat mereka terbebas dari upacara kan? Malah lebih parah lagi sebab mereka berdiri dibarisan paling depan dan menghadap langsung ke arah  matahari berada yang terus menyorotkan cahayanya.

Posisi duduk mereka sedikit mirip seperti saat makan malam. Di sisi kanan Ayah ada Cacha, Kanaya dan Raya. Cacha yang begitu cantik sekaligus menggemaskan dengan pakaian dan aksesoris serba kuningnya, dia jadi seperti penggemar berat anak ayam. Kemudian Kanaya yang tetap dengan pakaian tomboinya meskipun sisi manis dan feminim dari Kanaya masih menguar kuat, disusul oleh Raya yang begitu anggun dan terpancar aura kelembutannya dengan pakaian khas perawatnya. Sementara di sisi kiri Ayah ada Melinda, Sita dan Ambar. Melinda yang terlihat begitu dewasa dan keibuan dengan baju formal cokelat-cokelat khas seorang guru dan midi skirt dengan warna senada dengan bajunya tadi dan jangan lupakan rambutnya yang dicepol rapi. Kemudian ada Ambar yang begitu cantik dengan bawahan rok span dan atasan blouse berwarna biru laut, jas kebanggaannya sendiri terlihat tersampir di puncak kursi yang dia duduki dan terakhir ada Sita yang terlihat tegas sekaligus santai dengan balutan kemeja berwarna putih dan bawahan celana kulot panjang berwana hitam, sementara rambutnya dibiarkan terjurai lurus.

Kalau boleh jujur, kendati tidak terjalin keakraban diantara mereka, Ayah Senan tetap merasakan suasana hangat seolah-olah keluarganya kembali utuh. Tanpa beban dan rasa janggal yang belasan tahun menghimpit hati dan pikiran Ayah Senan akibat telah meninggalkan Ibu Risa beserta anak kandungnya.

Ditambah lagi di acara sarapan mereka kali ini Ayah merasakan hawa yang cukup berbeda. Masih terasa canggung, jelas! Sudah dijelaskan sebelumnya. Hanya saja Ayah menyadari bahwa kegiatan sarapan mereka kali ini tidak diliputi suasana yang mencekam seperti tadi malam, tidak juga semengerikan tadi malam. Tujuh puluh persen, Ayah yakin semuanya karena Ambar.

COLORS (✓)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang