Gimana sih rasanya dijodohin sama cowok ganteng, paham agama, lemah lembut, cintanya tulus banget, tapi tunanetra?!
***
"Kenapa Dek Qia mau nikah sama Mas yang punya kekurangan?"
"Karena gak tau dan terpaksa. Gak tau kalau sebenarnya Mas punya kekur...
Sejauh ini, berapa kira-kira rating yang cocok buat cerita ini?😳💘
Siap komen setiap paragraf?!
Kalau udah siap, let's go!
Ambil baiknya, buang buruknya, ya!⚠️
Bismillahirrahmanirrahim.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bagian 5 : Pindah Rumah ____
Berita pengantin perempuan pingsan, hampir membuat seluruh keluarga panik bukan main. Lebih parahnya lagi, Sakha mengalami sedikit kesusahan saat meminta bantuan, apalagi setelah mengetahui pintu kamar terkunci.
Namun, keyakinannya kepada Allah membuat Sakha berhasil melalui semuanya. Kejadian menegangkan tersebut sudah berlalu dan kini saatnya Qia mendapatkan sefruit omelan sesudah ia sadar dari pingsannya.
"Kamu gak inget atau sengaja lupa, kalau suami kamu itu punya keterbatasan, hm?"
"Apa maksudnya kunci kamar kayak tadi? Kalau terjadi apa-apa sama kamu gimana? Kamu sengaja mau ngerepotin semua orang?"
Qia berdeham malas ketika satu suap bubur masuk ke mulutnya. Roti beserta susu yang tadi diantar oleh Fatma tidak jadi ia makan dengan alasan sudah kenyang. Inilah hasil dari gengsinya, pingsan di saat acara sekali seumur hidup tengah berlangsung.
"Dengerin gak, Dek?" ulang Fardan memastikan. Ia diperintahkan untuk menemani sang adik di kamar, sementara yang lain tengah sibuk melayani tamu undangan. Keduanya berada di kamar Qia yang sudah sepi.
"Denger!" jawab Qia sedikit ketus.
Gadis yang masih memakai baju akad itu duduk bersandar di kepala kasur dengan kedua kaki yang diselanjarkan. Sedangkan Fardan yang duduk di kursi sisi tempat tidur kembali menyuapkan bubur ke mulut adiknya.
"Tadi Bunda cerita kalau sebelum akad, kamu sempet tiduran, ya? Kenapa? Padahal Bunda udah susah-susah dandanin kamu, tapi kamunya kayak gak peduli gitu."
Qia masih diam menyimak kakaknya sambil mengunyah makanan. Ia juga enggan menatap wajah Fardan yang sedang menasehatinya itu.
"Kenapa, sih, kamu hobi banget bikin Ayah sama Bunda malu? Gunanya kamu ngacak-ngacak kamar tadi apa? Gak bisa ya, sehari aja gak bikin ulah?" tutur Fardan sembari mengaduk buburnya pelan.
Gigi-gigi Qia mengerat. Kedua tangannya yang terpangku saling mengepal. Napasnya mulai memburu. Perkataan Fardan kali ini membuatnya benar-benar terpancing emosi.
"Wanita itu harus punya rasa malu, Dek. Udah Kakak beliin banyak buku tentang wanita-wanita penghuni surga itu dibaca, dicontoh, diterapin. Bukan dijadiin koleksi--"