Gimana sih rasanya dijodohin sama cowok ganteng, paham agama, lemah lembut, cintanya tulus banget, tapi tunanetra?!
***
"Kenapa Dek Qia mau nikah sama Mas yang punya kekurangan?"
"Karena gak tau dan terpaksa. Gak tau kalau sebenarnya Mas punya kekur...
Alhamdullilah, bisa double up buat ganti kemarin hehe. Semoga gak bosen ya, soalnya dua part panjang-panjang✌🏻
Koreksi ya, kalau ada salah🙊
Ambil baiknya, buang buruknya, ya ⚠️
Bismillahirrahmanirrahim.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bagian 17 : Sunnah Hari Jumat ____
Samar-samar Qia mendengar suara merdu seseorang tengah melantunkan ayat suci Al-Quran. Gadis itu menggeliat dalam tidurnya, membuka mata perlahan-lahan sambil menguceknya. Temaram cahaya lampu tidur mulai masuk ke mata, ia membalikkan badan tapi tak menemukan Sakha di sebelahnya.
Qia justru mendapati Sakha tengah duduk membelakangi nakas dengan meja kecil untuk meletakkan Al-Qur'an. Tangan kanan laki-laki yang memakai baju koko putih itu meraba cepat di atas kertas. Ternyata suara merdu itu keluar dari mulut Sakha.
"Qul lau kānal-bahru midādal likalimāti rabbī lanafidal-bahruqablaantanfada kalimātu rabbī wa lau ji'nābimislihīmadadā."
Qia membentuk kurva lebar di bibirnya, menggeser posisi tidurnya dengan hati-hati, tanpa menimbulkan suara dan tetap memakai selimut setengah badan. Dipandanginya wajah Sakha yang meneduhkan dari samping, mengamati guratan serius di wajah laki-laki yang selisih empat tahun di atasnya itu.
"Qul innamā ana basyarummislukumyūhāilayyaannamāilāhukumilāhuw wāhid, fa man kānayarjūliqā'a rabbihī falya'mal 'amalan sālihaw wa lāyusyrikbi'ibādati rabbihī ahadā."
Cukup lama Qia menyimak bacaan Sakha dengan seksama. Menghayati setiap ayat yang berhasil masuk ke telinganya. Meskipun ia tak hapal artinya, Qia merasakan hatinya bergetar bahkan seluruh tubuhnya merinding. Ditambah Sakha yang membacanya, membuat Qia benar-benar merasa seperti melayang.
"Dek Qia udah bangun?" tanya Sakha membuyarkan lamunan Qia. Ternyata lelaki itu sudah menyelesaikan bacaan surah Al-Kahfi.
Qia mengerjap saat tangan Sakha mulai menyentuh keningnya dan lanjut mengelus pipinya. Gadis itu mematung beberapa saat, karena seluruh tubuhnya langsung kaku.
"U-udah," jawab Qia mendadak gagu.
Sakha tersenyum menarik tangannya untuk menutup Al-Qur'an braille bertuliskan juz 15 lantas memegangnya di tangan kanan, melipat meja dengan hati-hati. Membalikkan badan guna meletakkan meja dengan posisi miring di sebelah nakas. Sakha lantas berdiri untuk menaruh Al-Qur'an di rak dekat meja kerja sesuai urutannya supaya tidak bingung.
"Dek Qia mau lanjut tidur lagi atau gimana?" tanya Sakha seraya berbalik badan, membuka kancing baju kokonya. Ia berjalan menuju lemari. Setelah lepas, Sakha menggantungnya di dalam dan lanjut melepas sarung yang kemudian dilipat rapi.