BAGIAN 32 : HUJAN

50.5K 7.2K 274
                                        

Sepertinya sudah lama tidak up, ya wkwk.

Ada yang kangen gak? Maksudnya kangen sama Mas Sakha😎

Kuy, kuy, langsung ajaa. Jangan lupa koreksi kalau ada salah😍

Ambil baiknya, buang buruknya ya ⚠️

Bismillahirrahmanirrahim.

Bismillahirrahmanirrahim

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bagian 32 : Hujan
_____

Setelah pulang dari Bogor atau Qia menyebutnya sebagai 'bulan madu' dan seusai kejadian aneh tentang kaca pecah di rumahnya, Salsa mengajak sahabatnya untuk ikut pengajian. Rutinitas yang tak berubah meski Qia sudah menikah. Tentu, Qia keluar atas izin dari Sakha.

"Celamahnya bikin gue keinget belita," ucap Salsa sekeluarnya dari area masjid. Gadis cadel itu berjalan bersama Qia menuju parkiran sambil mengobrol santai seperti biasanya.

Sejak dulu tugas mereka tak pernah berubah. Salsa yang mencari informasi tentang kajian, sementara Qia yang menyediakan transportasi dengan mengantar menggunakan motor.

Qia menoleh ke samping kanan dengan raut bertanya-tanya. "Berita apaan?"

"Belita kecelakaan!" Salsa melebarkan matanya heboh sampai Qia menghentikan langkahnya mengikuti gadis itu.

"Ada pengendala motol boncengan gitu. Masih lemaja. Yang satu umul sembilan belas, satunya delapan belas. Ketablak mobil di pelempatan, telus meninggal."

Qia menyimak Salsa bercerita. Menyuruh sahabatnya itu untuk terus berjalan agar tidak menghalangi jalan.

"Eh? Kok sama?" heran Qia sesampainya di dekat motor mereka.

"Kita naik motor boncengan," ucap gadis berjilbab segiempat itu seraya menunjuk ke motornya, membuat Salsa mengikuti arah pandang Qia.

"Umur gue sembilan belas." Qia kemudian menunjuk dirinya sendiri.

"Umur lo delapan belas." Qia gantian menuding Salsa.

"Terus----"

Salsa langsung mengangkat kedua tangannya, menyuruh Qia diam. Gadis itu sudah tahu apa lanjutan dari ucapan Qia.

"Udah, deh, Qi. Jangan nakut-nakutin!"

"HAHAHA!"

Seketika, Qia tertawa sambil geleng-geleng dan menepuk-nepuk pundak Salsa.

Salsa menyingkirkan tangan Qia yang asal memukul lengannya, lantas ia mendengus kesal. Sepersekian detik selanjutnya, saat tawa sudah mereda, Salsa kembali mengeluarkan kata-kata.

"Walaupun tiap hali bahasnya tentang kematian, tetep aja ngelasa gak siap, ya?" katanya mengalihkan pandangannya dari Qia.

"Iya." Qia mengangguk setuju, setelah itu ia memakai helmnya. "Sebenarnya kita ini gak takut mati, tapi takut sama kehidupan setelah mati."

Feeling PerfectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang