BAGIAN 19 : SAKHA KENAPA?

59.6K 8.9K 268
                                        

Sengaja double up, biar feelnya gak kepotong wkwk.

Jangan lupa tinggalin jejak, kalau kalian suka sama ceritanya.

Selamat membaca❤️

Ambil baiknya, buang buruknya, ya⚠️

Bismillahirrahmanirrahim.

Bagian 19 : Sakha Kenapa?____

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bagian 19 : Sakha Kenapa?
____

"Hati-hati, ya, Bi Eneng pulangnya!"

Qia melambaikan tangannya dengan gembira kepada Bi Eneng yang sedang menaiki sepeda dan bersiap pulang karena waktu sudah sore.

"Iya, Non. Siap!"

Wanita berkerudung itu tersenyum lantas mengayuh sepeda onthelnya menjauhi rumah sang majikan. Gadis itu terus melihat sampai Bi Eneng hilang di pertigaan. Setelah itu, Qia menutup gerbang dan berjalan masuk ke rumah.

"Ayo, Qi, udah waktunya jemput Mas Sakha!" Qia bergumam riang sambil membuka pintu rumah.

Baru juga satu langkah masuk ke dalam, suara derum mobil terdengar di telinganya. Gadis berjilbab hitam dengan gamis abu-abu muda itu berbalik memandangi mobil sedan warna hitam yang berhenti tepat di depan gerbang.

Qia mengerutkan kening. Begitu tahu siapa yang keluar dari mobil, kedua matanya melotot nyaris keluar. Ternyata seseorang yang hendak ia jemput sudah sampai duluan di rumahnya.

Qia yang masih terkejut hanya diam di tempat. Sampai pada akhirnya, Sakha sampai di dekatnya. "Mas Sakha pulang sama siapa?" tanya Qia penasaran, ia hafal betul yang tadi bukanlah mobil milik Rafka. Karena sebetulnya, Sakha diam-diam memesan taksi online dibantu pak satpam, tanpa sepengetahuan Rafka tentunya.

"Assalamualaikum." Bukannya menjawab, Sakha justru lebih dulu mengucap salam.

"Wa-wa'alaikumussalam." Qia menjawab dengan perasaan yang tiba-tiba tidak enak. Dilihat dari raut Sakha yang tanpa senyum membuat Qia takut.

"Pertanyaan Qia yang tadi---"

Tidak hanya ucapan Qia yang tidak dipedulikan, tangannya saja yang hendak menyalami juga dianggurkan oleh Sakha. Lelaki itu langsung melangkah masuk begitu saja. Kerutan di dahi Qia semakin dalam. Mengamati Sakha yang kembali bersikap seperti dulu, ketika sedang cemburu.

"Mas Sakha marah?" tanya Qia seusai menutup pintu sembari menyusul langkah jenjang suaminya. Sakha tak menjawab lagi, ia masuk ke kamar kemudian menutup pintu serta menguncinya dari dalam.

Qia yang tadinya ingin ikut masuk, kontan berjengit saat pintu ditutup begitu saja. Tebakan Qia perlahan terbukti benar. Namun Qia merasa, kalau kali ini kemarahan Sakha melebihi yang kemarin.

Qia mengetuk pintu. "Mas Sakha? Mas Sakha beneran marah?"

"Kalau Mas Sakha marah, jangan ditutup pintunya. Qia mau meluk Mas."

Feeling PerfectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang