Gimana sih rasanya dijodohin sama cowok ganteng, paham agama, lemah lembut, cintanya tulus banget, tapi tunanetra?!
***
"Kenapa Dek Qia mau nikah sama Mas yang punya kekurangan?"
"Karena gak tau dan terpaksa. Gak tau kalau sebenarnya Mas punya kekur...
Sakha menyengir ketika Qia menjerit panik. Mereka lantas tertawa setelahnya.
Awalnya Sakha hendak memberikan selai nanas di atas nastar yang sedang ada di tangannya. Tapi sayangnya, malah meleset ke pinggir adonan. Qia menghela napasnya lalu tersenyum dan membetulkan milik Sakha.
"Maaf, ya, Dek. Malah jadi ngebrantakin kayak gini."
Lelaki berkaos dengan tambahan apron abu-abu itu menggaruk tengkuknya menggunakan tangan yang sudah terkena tepung. Ia merasa bersalah, niatnya membantu Qia membuat nastar, tapi ia malah mengacaukannya.
"Gapapa, Mas. Namanya juga baru latihan. Qia juga gak bisa, tuh, buat kue-kue kayak gini."
"Hei-hei ... malah ngobrol sendiri. Udah sampai mana itu nastarnya?!"
Sakha dan Qia sontak cengar-cengir mendengar suara bunda yang berasal ponsel yang berdiri tak jauh dari tempat mereka membuat kue. Bunda memergoki keduanya justru bercanda saat sedang memasak. Qia meminta bantuan Naura untuk membantunya membuat kue melalui video call.
"Maaf, Bunda. Enakan ngobrol daripada masak," jawab Qia enteng mengambil adonan nastar lalu dibentuk bulat-bulat. Ia juga memberikannya kepada Sakha.
Naura menghela napasnya. Wanita itu sedang duduk di meja rias sambil mengamati putri dan menantunya. Sementara Rafka katanya sedang sibuk bekerja jadi tak bisa ikut bergabung.
"Kayak Sakha gitu, lho, bagus. Terampil, telaten, ukurannya pas. Gak kayak kamu, bentuk apa itu? Oval?"
Gadis dengan baju tidur dan rambut digulung dengan jepit itu mendengus sebal. "Bunda, ih. Jangan berat sebelah, dong!"
Naura terkekeh. Matanya tak lepas melihat sampai mana mereka sudah menyelesaikan pekerjaannya. "Qia kamu siapin oven-nya,diatur temperaturnya kira-kira seratus lima puluh derajat. Terus Sakha olesi nastar bagian atasnya pake kuning telur yang tadi udah dikocok."