Gimana sih rasanya dijodohin sama cowok ganteng, paham agama, lemah lembut, cintanya tulus banget, tapi tunanetra?!
***
"Kenapa Dek Qia mau nikah sama Mas yang punya kekurangan?"
"Karena gak tau dan terpaksa. Gak tau kalau sebenarnya Mas punya kekur...
Baca Feeling Perfect itu santai aja, ya, gak usah tegang-tegang🤣😭
Sengaja uptade cepet, biar digantungnya gak terlalu lama wkwk.
Selamat membaca ❤️
Ambil baiknya, buang buruknya, ya ⚠️
Bismillahirrahmanirrahim.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bagian 27 : Bunuh Diri? ____
Qia mematri langkahnya cepat. Saking hanyut dalam suasana, Qia tak dapat menahan air matanya lagi. Melewati beberapa orang sampai kadang tak sengaja menubruknya. Qia tak peduli lagi jika menjadi bahan tontonan, tidak apa-apa kalau dibilang cengeng.
"Kenapa, sih? Baru juga kemarin Mbak Raisa, masa sekarang Ning Hanna?" gerutu gadis terus saja berjalan, mengusap air matanya dengan kasar.
Qia menyedot ingusnya. "Kenapa Mas Sakha gak pernah cerita? Jadi, sebenernya berita perjodohan itu bener atau gak?!"
"Mas Sakha ngeselin!"
"Mas Sakha----punya mata gak lo?!"
Qia uring-uringan saat ada seseorang menabraknya dengan kasar. Tubuhnya sampai mundur beberapa langkah. Dengan sesenggukan, Qia menatap tajam orang itu.
"Afwan, ana gak sengaja."
Qia mendengus, membuang wajahnya. Kemudian lanjut berjalan setelah mengusap wajahnya yang berair dengan kerudung.
"Tunggu, Mbak."
Qia berhenti melangkah. Ia membalikkan badan mengangkat dagunya sekilas. "Apa?!" emosinya malas berlama-lama.
"Istrinya Ustadz Sakha bukan?" tebaknya menatap Qia dengan alis bertaut.
"Gak usah ngeliatin gue segitunya!" ingat Qia, membuat laki-laki yang berpenampilan rapi di hadapannya itu segera menunduk.
"Iya, emang kenapa?" Qia menyedot ingusnya kembali, berkata dengan intonasi yang masih tinggi. Ia mengelap mukanya yang sudah memerah dan sembab.
Cowok itu menggaruk tengkuknya. "Ana Haikal, Mbak. Adiknya Ustadz Sakha."
"Haikal?" beo Qia melotot.
Gadis itu tiba-tiba teringat akan cerita Sakha mengenai cowok bernama Haikal itu. Setahu Qia, Haikal ini adiknya Sakha, anak kandung dari Abdul dan Fatma yang usianya setahun lebih muda dari Qia. Pertanyaan, kenapa Sakha tak membahas persoalan yang sekarang mengganggu hatinya?
Haikal mengangguk. Setelah terdiam beberapa detik, Qia mulai sadar dengan sesuatu. Sesuatu yang membuatnya menangis selama perjalanan.
"Gue mau tanya," kata Qia dengan wajah garang. Melihat itu, Haikal buru-buru menundukkan kepalanya lagi.
"Emang bener, Ustadz Sakha sama Ning Hanna pernah dijodohin?"
Haikal nampak terkejut. Mimik wajahnya terlihat jelas jika ia ragu dan takut untuk menjawab.