Gimana sih rasanya dijodohin sama cowok ganteng, paham agama, lemah lembut, cintanya tulus banget, tapi tunanetra?!
***
"Kenapa Dek Qia mau nikah sama Mas yang punya kekurangan?"
"Karena gak tau dan terpaksa. Gak tau kalau sebenarnya Mas punya kekur...
Jujurly, aku juga ikut gedeg sama Qia. Apalagi setelah baca part ini😔
Ambil baiknya, buang buruknya, ya ⚠️
Bismillaahirrohmaanirrohiim.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bagian 36 : Jangan Pergi ____
"Dek Qia makan dulu, ya?"
Melihat siapa yang datang menemuinya, membuat Qia memalingkan wajahnya seraya berdecak malas. Ia mengeratkan pelukannya pada boneka, sambil menjauhkan diri dan mendekat pada tembok.
Gadis itu sedang malas berurusan dengan Sakha.
"Gak," ucap Qia dingin.
Sakha menghela napasnya. Tersenyum berupaya memaklumi. Ini sudah larut malam, sejak tadi Qia enggan keluar dari kamar. Makanya, Sakha datang membawa sebungkus nasi goreng untuk dimakan.
"Dek Qia masih sedih?" tebak Sakha, namun tidak mendapatkan jawaban.
Sakha yang awalnya berdiri, mulai memposisikan diri dengan duduk perlahan-lahan di sebelah Qia. Setelah ia merasa yakin sudah berada tepat di samping gadis itu, Sakha kembali bersuara.
"Dek Qia boleh sedih, tapi jangan sampai menyiksa diri, ya. Tubuh kita, kan, juga termasuk titipan dari Allah. Jadi, harus dijaga sebaik-baiknya."
Qia mendengus geli mendengar penuturan dari suaminya. Ia lantas tersenyum miring, sama sekali enggan menoleh.
"Mas Sakha gak tahu apa-apa."
"Sekarang makan dulu, ya? Mas suapin."
Sakha tak berhenti membujuk Qia dengan lembut, karena ia sangat mencemaskan kondisi istrinya. Ia mulai mengaduk-aduk nasi yang masih hangat dengan sendok.
Qia sama sekali tak habis pikir. "Coba aja kalau bisa. Palingan juga meleset."
Seketika sendok yang berada di tangan Sakha berhenti bergerak saat mendengar perkataan Qia yang terselip nada tak suka. Sakha jelas merasa heran, tak biasanya Qia bersikap seperti ini.
"Dek Qia kenapa? Biasanya gak pernah bilang gitu."
Dengan hati-hati, Sakha meletakkan makanannya di lantai. Lalu ia meraba udara sampai akhirnya menemukan pundak Qia yang langsung diusapnya.
Qia berdecak seraya menepis tangan Sakha. Melirik kesal lelaki tunanetra itu. Sejauh ini Sakha mulai mengerti. Qia benar-benar sedang marah padanya.
"Marah sama Mas, ya? Sini, peluk Mas."
Setelah mengatakan itu, Sakha merentangkan tangannya. Sudah menunggu cukup lama, tidak ada respon apapun dari Qia. Gadis itu diam membisu.
Sakha menurunkan tangannya. Belum melunturkan senyumnya sama sekali. "Dek---"