Gimana sih rasanya dijodohin sama cowok ganteng, paham agama, lemah lembut, cintanya tulus banget, tapi tunanetra?!
***
"Kenapa Dek Qia mau nikah sama Mas yang punya kekurangan?"
"Karena gak tau dan terpaksa. Gak tau kalau sebenarnya Mas punya kekur...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bagian 29 : Kado Pernikahan ___
"Saya yakin banget, Ning Hanna bakal dapet ganti yang lebih baik. Ning Hanna hebat, saya banyak terinspirasi dari Ning Hanna."
Qia mengusap-usap punggung Ning Hanna saat mengatakan sederet kalimat tersebut di sela-sela pelukan. Perempuan bercadar itu mengangguk seakan mengerti apa yang dimaksud oleh Qia. Ia juga membalas pelukan itu.
"Jazakillahu khairan, Qia. Ana tunggu kabar baiknya, ya."
Qia melepas pelukan tanpa aba-aba, lantas menatap Ning Hanna dengan alis menukik, bingung. "Kabar baik apa?"
"Harusnya saya yang nunggu kabar baiknya Ning Hanna menikah," sambungnya diakhiri cengiran lebar.
Ning Hanna hanya menunjukkan sesuatu dengan mengangkat dagunya. Qia mengikuti arah pandang Ning Hanna dengan menunduk. Beberapa detik kemudian, Qia baru paham.
Gadis itu mengusap perutnya sambil cengengesan. "Ealah, Ning. Saya kira apaan. Doa yang terbaik aja, ya, Ning."
"InsyaAllah." Ning Hanna mengangguk-angguk seraya tersenyum di balik kain penutup yang ia gunakan.
Qia pun bergeser berpamitan dengan anggota keluarga yang lain, yang tidak sibuk dengan urusannya. Karena mereka pulang di jam sibuk, jadi suasana sepi.
"Kami pamit pulang dulu semua! Assalamualaikum!" Qia melambai dengan antusias disertai senyuman yang amat lebar.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
Setelah mendengar salam, Qia lantas menggandeng Sakha masuk ke mobil. Di dalam mobil sudah ada Kang Bejo yang duduk dan siap di belakang kemudi.
"Kita langsung pulang ke Jakarta, atau mampir dulu ke rumah Abah sama Ummah?" tanya Qia setelah memakai sabuk pengaman.
Sakha menjawab setelah duduk anteng di kursi belakang berdampingan dengan Qia. "Langsung aja, Dek. Soalnya kemarin Mas dikasih kabar sama Ayah kalau jam dua nanti ada meeting."
"Gak capek apa, Mas? Ayah tega banget, sih!" Qia melotot kaget, kemudian lanjut mengomel seperti biasa.
"Udah tugasnya suami untuk mencari nafkah, kan?"
Qia membuka mulutnya baru ingat. Ia mengangguk-angguk setelahnya. "Iya, juga, sih."
"Semangat suaminya Qia!" seru Qia saat mobil sudah berjalan seraya mengepalkan kedua tangannya lalu mengangkatnya sebatas kepala.
Sakha terkekeh. "Gemes. Jadi pengen makan Dek Qia," godanya, memiringkan kepala ke asal suara Qia. Tadinya Qia hendak salah tingkah, tetapi suara lain yang menyahut membuat suasana berubah.