BAGIAN 41 : SEDEKAT NADI

83.3K 8.6K 961
                                        

CIEE SEKALI BUKA LANGSUNG ENDING WKWK.

Apapun endingnya, terima dengan ikhlas ya. Setelah aku membaca kisah mereka, menurutku ini akhir yang paling baik untuk mereka.

Ambil baiknya, buang buruknya ⚠️

Bismillahirrahmanirrahim.

Bagian 41 : Sedekat Nadi____

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bagian 41 : Sedekat Nadi
____

Vandy berjalan tertatih-tatih mengikuti Dev yang nampak sangat panik, mengkhawatirkan kondisi Qia. Vandy sama sekali tak mencegah Dev yang hendak melepas ikatan di tubuh gadis itu. 

Vandy merasa lega karena sebelumnya telah berhasil mengungkap segala perbuatan buruk Dev kepada Qia. Vandy bisa membayangkan seperti apa reaksi gadis itu sebentar lagi.

"Qiara," panggil Dev membuat Qia mendongak sebentar. Ia segera mengalihkan wajahnya merasa muak melihat Dev.

Dev dengan hati-hati melepaskan ikatan di kaki dan tangan Qia. Hatinya teriris perih melihat kondisi Qia yang sangat berantakan.

"Kenalin. Dia, Devan Prasetya Wardhana," ujar Vandy menunjuk Dev dengan dagunya. Vandy lalu melipat tangannya di depan dada sambil bersandar di dinding.

"Kakak kandung gue," sambungnya ketika Qia berdiri berhadapan dengan Dev.

Tanpa Vandy jelaskan, Qia sudah mengetahuinya. Mengetahui apa yang disembunyikan dan tak pernah Dev ceritakan sebelumnya. Tentang hubungannya dengan Vandy dan kejadian di kolam renang waktu itu.

Dev yang terlanjur cemas memikirkan keadaan Qia, tak memedulikan ucapan adiknya.

"Kamu gapapa?" tanya Dev khawatir.

Plak!

Tanpa aba-aba, satu tamparan mendarat mulus di pipi Dev. Qia tak menyangka kalau Dev bisa melakukan hal serendah itu.

Vandy yang menyaksikan itu spontan menahan tawanya.

"Gak usah sok baik sama gue!" sentak Qia dengan wajah memerah menahan marah.

Sekarang Qia sadar bahwa perasaan sukanya kepada Dev resmi berubah menjadi benci. Meskipun ia tahu bahwa rasa suka itu terbalaskan.

Gadis itu menggeleng lemah. Ia tak menyangka jika Dev akan tega mencelakai Sakha.

"Gue kecewa sama lo Mas Dev."

Dev memegangi pipi kanannya yang barusan ditampar oleh Qia. "Tampar lagi aja, Ra. Tampar lagi. Tampar terus sampai kamu puas."

Dev merasa pantas mendapatkan tamparan itu. Ia sadar, banyak sekali keburukan yang telah dilakukannya. Jadi, Qia sangat berhak marah padanya.

Qia menggeleng lagi. Ia mengulum bibirnya, memalingkan wajah tak sanggup menuruti perintah Dev. Isakkan tak berdaya lolos dari mulutnya.

Feeling PerfectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang