Gimana sih rasanya dijodohin sama cowok ganteng, paham agama, lemah lembut, cintanya tulus banget, tapi tunanetra?!
***
"Kenapa Dek Qia mau nikah sama Mas yang punya kekurangan?"
"Karena gak tau dan terpaksa. Gak tau kalau sebenarnya Mas punya kekur...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bagian 6 : Malam Pertama ____
Detik-detik menegangkan terus Qia rasakan. Hari semakin larut. Tak ada Rafka dan Naura di sekitarnya. Tak ada lagi tugas-tugas sekolah yang diembannya. Sungguh, Qia merasa benar-benar gugup karena satu rumah dengan laki-laki asing berstatus suaminya.
"Sal ... gue takut banget, serius gak boong!"
Seseorang di layar laptop tertawa ngakak mendengar celotehan rasa takut sahabatnya. Sementara Qia yang mengetahui respon itu menyipitkan mata sinis. Pikirannya sedang kacau, malah diledekin.
"Ya elah ... ngapain lo takut, hah? Takutdiunboxing? Dalamsejalah, gak ada tuh Qia si penakut!" Salsa melipat kedua tangannya dan memasang wajah sok berani.
Qia menoleh ke belakang--tepatnya ke pintu belakang rumahnya--dengan perasaan was-was. Ia hanya tak mau Sakha mendengarnya tengah memperbincangkan hal yang menurutnya sedikit tabu. Untung saja cowok itu masih di dalam kamar, terlihat dari pintu kamar mereka yang tertutup.
Sekarang ini ia sedang berada di taman minimalis belakang rumah sendirian, ditemani laptop yang menampilkan wajah sahabatnya yang cadel itu.
"Lo mah ... gue serius ini!" kesal Qia sedikit berbisik.
"Balu peltama ini gue nemuin sahabat yang masih sempet-sempetnya VC padahal baru aja nikah." Salsa terkekeh di akhir kalimat.
Qia mendengus saat mendengarnya. "Kalau malam pertama di liang kubur, gue tahu soalnya waktu itu, kan, Pak Jamal nanyangin waktu pelajaran agama."
Qia ingat betul bagaimana guru agamanya dulu menayangkan video azab kubur saat jam pelajaran. Hal itu sukses membuat satu kelas tobat dadakan.
"Telus?"
"Harusnya Pak Jamal nanyangin juga malam pertama habis nikah itu gimana!" geram Qia.