LUKA || CHAPTER 07

6.7K 922 37
                                        

07. Sifat Asli Raka

"Dijadikan babu, padahal gue itu nyonya di rumah itu."

~ Mira

________________________

Mira tersenyum mengingat hari kemarin. Pertama kalinya ia menikmati harinya sebagai istri Raka. Satu hari penuh keromantisan membuatnya tak akan bisa melupakan hari itu.

Keningnya mengerut saat melihat seorang perempuan dengan pakaian ketat dan bermake-up tebal.

Ia semakin merasa aneh saat melihat para maid yang menatap takut kepada perempuan itu.

"Maaf, anda siapa, ya?" Mira bertanya sopan.

Mendengar suara seseorang, perempuan itu membalikkan badannya. Dagunya terangkat menatap Mira dengan angkuhnya.

"Oh, dia siapa? Apa dia maid baru disini?"

Mira membulatkan matanya. Heh! Mentang-mentang dirinya memakai gamis seperti ibu-ibu, dia malah menganggapnya maid baru. Dia itu nyonya di rumah ini, bukan maid.

"Harusnya saya yang bertanya kepada anda. Anda siapa, dan ada keperluan apa datang ke rumah saya?"

Sekuat tenaga Mira menahan amarahnya agar tak menghajar perempuan di depannya ini sampai babak belur.

"Oh, jadi ini istri tuan Raka," ucap perempuan itu menatap Mira remeh.

"Apa yang dilihat tuan Raka? Dilihat-lihat, anda juga masih kecil, pasti anda hanya menginginkan harta tuan Raka, bukan? Makanya mau saja dijadikan istri."

Mira mendengus malas. Hey! Jika saja Raka tak mengancamnya, mana mau juga ia menikah dengan pria seperti Raka, ya walaupun sekarang ia sudah mencintai pria yang berstatus suaminya itu.

Satu hal lagi. Mira sedikit tersinggung saat perempuan di depannya ini yang secara tak langsung mengatai body nya.

"Gue tusuk, tuh balon pasti langsung meledak. Duar!!"

Para maid disana menahan tawanya, kecuali Ana. Wanita itu juga merasa tersindir karena bagian dadanya juga besar, walaupun tidak alami.

"Nyonya tidak boleh berbicara seperti itu," ucap Ana dengan nada yang dilembutkan.

Mira menatap Ana sinis. Masih hidup nih orang, kirain sah koid, batinnya.

Mira tak menanggapi ucapan Ana. Tangannya hampir menjambak rambut perempuan itu, namun Bi Wati segera membawanya ke dapur.

"Aduh, Bi. Kenapa di cegah, sih? Aku mau Jambak tuh orang biar kapok!" pekik Mira.

"Tapi nyonya, kalau nyonya sampai menyakiti non Crissa, bisa-bisa tuan Raka ngamuk sama nyonya."

"Maksudnya?"

Bi Wati menutup mulutnya. Tak ada pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya. Ia juga kasihan nasib nyonya nya itu.

"Saya akan mengatakan bagaimana kelakuan tuan Raka, tidak ada orang yang tahu kelakuan tuan Raka yang ini."

Bi Wati menghembuskan nafasnya. "Selama ini, tuan Raka sering bawa perempuan ke rumah. Saya tidak tahu kenapa tuan Raka seperti itu, padahal dulu tuan Raka tidak seperti itu."

"Karena mantan Raka, ya, Bi?"

Bi Wati menatap Mira terkejut. "Nyonya tahu?"

Mira tersenyum getir. "Iya, aku tau. Lanjut aja, Bi, aku mau tau."

"Semenjak mantan tuan Raka pergi, tuan Raka sering bawa perempuan ke rumah. Banyak maid disini yang jadi korban keganasan perempuan yang dibawa tuan Raka. Makanya dulu banyak maid yang mau mengundurkan diri, tapi tuan Raka langsung ngamuk gak terima."

Kening Mira mengkerut. "Kok ngamuk?!"

"Mungkin tuan Raka takut kalau rahasianya terbongkar. Tuan besar dan nyonya besar saja tidak tahu," jawab Bi Wati.

Mira berpikir, sebegitu besarnya, kah pengaruh perempuan itu sampai Raka berbuat hal yang tidak pantas?

°°°

"Itu masih kotor! Pel yang benar, dong! Mau kamu saya pecat?!"

Mira mendengus sinis. Dipecat? Hello! Disini ia yang jadi nyonya, tapi kenapa diperlakukan seperti budak oleh orang asing yang hanya menumpang?!

Dengan kesal Mira menendang ember yang berisi air pel. "Gak usah kebanyakan lambe lo, Tante. Disini gue nyonya besar, tapi lo malah seenaknya."

Mira semakin menyimpan dendam kepada Crissa. Tadi saat ia memilih ke kamar untuk rebahan, dengan seenak jidatnya Crissa menariknya dan menyuruhnya mengepel.

Karena Mira berbaik hati dan tak mau membuat perdebatan, ia akhirnya lebih memilih mengalah. Tapi sepertinya Crissa malah melunjak.

Dengan kesal Mira meninju perut Crissa sampai perempuan itu terbatuk-batuk.

Crissa yang tak mau kalah menjambak Mira sampai hijab Mira berantakan. Mira yang tak siap hanya bisa pasrah, apalagi saat Crissa membenturkan kepalanya ke meja sampai keningnya berdarah.

"CRISSA!!"

Diambang pintu sana, Raka berdiri menatap Crissa marah. Ia menampar dan menjambak rambut Crissa sampai membuat sang empu mendongak.

"Apa yang kamu lakukan kepada istri saya?"

Badan Crissa bergetar hebat mendengar bentakan Raka. "Maaf, tuan."

"Sakit..."

Mendengar lirihan itu, Raka langsung menghempaskan Crissa sampai terjatuh. Ia segera mengangkat Mira dan membawanya ke rumah sakit.

Raka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tak memperdulikan umpatan para pengendara lain. Yang penting sekarang adalah keselamatan Mira.

"Mira, dengerin saya. Jangan sampai kamu tutup mata, lihat saya."

Mira yang lemas, menoleh kearah Raka. Ia sedikit terkejut saat tangan Raka menggenggam tangannya erat.

Tak selang beberapa lama, mereka telah sampai di rumah sakit. Dengan segera ia menggendong Mira dan meletakkan Mira di brankar.

Lihat saja, Raka tak akan memberi ampun kepada resepsionis sialan itu. Ia membawa Crissa ke rumah hanya sebagai mainan saja, tapi dengan lancangnya dia membuat istrinya terluka.

To be continued...

_________________________

Gabut karena nungguin antrian vaksin, jadi mendingan update aja deh!

Yang minta aku up jangan lama-lama, nih udah. Tapi jangan lupa untuk vote kalau perlu sama komen.

Next??

L U K A || Mira&RakaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang