01. Kehidupan Baru
"Meskipun pernikahan ini tak diinginkan, tetap saja aku harus berbakti pada suamiku."
~Mira
____________________
Mira memandangi rumah, ralat lebih tepatnya sebuah Mension. Mension dengan cat berwarna putih tulang dengan nuansa Eropa membuat Mira terkagum sejenak.
Jika dibandingkan dengan rumah orangtuanya dulu, jelas lebih luas yang ini. Mungkin dua kali lipat, atau bisa lebih.
"Masuk!"
Mira mengangguk dan mengikuti langkah lebar Raka. Ia sedikit kesusahan karena bawaannya yang terlalu berat. Bahkan Raka tak berniat sama sekali untuk membantunya.
Sesampainya di dalam, Mira melihat banyak perempuan yang memakai pakaian hitam putih yang diketahui itu adalah para maid Mension ini.
Raka melirik kepala maid. Kepala maid yang tahu arti tatapan tuannya, mengangguk pelan. Lalu Kepala maid itu menghampiri Mira.
Raka melangkah pergi entah kemana. Ia sudah tidak peduli lagi dengan Mira. Yang terpenting keinginannya untuk menikahi Mira sudah terwujud.
"Nyonya, perkenalkan. Nama saya Wati, kepala maid di sini. Nyonya bisa panggil saya Bi Wati."
Mira mengangguk. Wanita berumur sekitar empat puluhan itu mengambil alih koper Mira.
"Mari saya antarkan, nyonya," ucap Bi Wati.
Mira mengangguk dan mengikuti Wati dari belakang. Ia melihat-lihat interior Mension ini. Terlihat mewah, classic, dan elegan.
"Astaga!"
Mira terlonjak kaget saat mendengar teriakan Bi Wati.
"Kenapa, Bi?" Tanya Mira bingung.
Raut wajah Bi Wati berubah panik. "Aduh, nyonya. Jangan berjalan di belakang saya," ucapnya sedikit panik.
Mira menautkan kedua alisnya. "Kenapa?" Tanyanya bingung.
"Saya terkesan tidak sopan. Nyonya kan atasan saya," jawab Bi Wati menundukkan kepalanya.
Mira tersenyum hangat. "Kita semua itu sama, Bi. Gak usah kayak gitu. Malahan, aku yang harusnya lebih sopan sama Bibi."
Hati Bi Wati menghangat. Ia sangat suka dengan majikannya yang seperti ini. Tidak seperti Raka.
Bi Wati mengantarkan Mira ke kamar Raka. Ia meletakkan koper-koper Mira di dekat sofa. Saat Bi Wati ingin membereskan pakaian, Mira lebih dulu mencegahnya.
"Kenapa, nyonya?" Tanya Bi Wati.
"Itu biar aku sendiri aja, Bi. Bibi ngelanjutin pekerjaan Bibi kalau ada," ucap Mira.
"Baiklah. Nyonya bisa istirahat dulu, tuan Raka sekarang pasti ada di ruang kerjanya," jelas Bi Wati.
Mira membulatkan matanya. "Ruang kerja?"
Bi Wati mengangguk. "Tuan Raka memang begitu, gila kerja."
Mira memangut paham. workaholic ternyata. Pikir Mira.
"Kalau begitu saya permisi dulu nyonya," pamit Bi Wati.
Mira mengangguk mengizinkan. Setelah itu, Bi Wati keluar dari kamar Raka. Bersamaan dengan itu, air mata Mira mengalir deras.
Jika saja Raka tidak mengancam dirinya, pasti ia tidak akan mau menikah muda seperti Zi. Ia masih ingin melanjutkan kuliah. Ia juga ingin menghabiskan masa muda seperti remaja lainnya.
Ancaman Raka berhasil membuat Mira tak berdaya dan tak mempunyai pilihan lain, selain menuruti kemauan Raka.
Mira menghapus air matanya kasar. Ia harus kuat. Ia tidak boleh terlihat lemah.
"Lo harus kuat, Mira. Jangan sampe pria brengsek itu mengingkari janjinya," gumam Mira.
Sedangkan di luar, Bi Wati memandang sendu pintu kamar Raka. Ia tidak menyangka jika Raka menikah, terlebih lagi menikah dengan perempuan seperti Mira.
Bi Wati tahu jika Mira baru lulus SMA. Mira yang seharusnya kuliah, lebih memilih untuk menikah dengan Raka dan merelakan masa mudanya.
Tidak! Bukannya Bi Wati tidak suka dengan kehadiran Mira. Ia malah nyaman dengan sosok Mira. Namun, ia hanya menyayangkan jika perempuan sebaik Mira menikah dengan laki-laki semacam Raka.
"Semoga nyonya bisa bertahan dengan pernikahan ini," lirihnya.
°°°
Raka memijit tengkuk hidungnya. Baru saja ia menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda selama tiga hari karena pernikahannya.
Lalu, ia melirik foto Mira yang terpajang di meja kerjanya. Ia tersenyum miring saat teringat dimana Mira menyerah dan menuruti kemauannya.
"Saya tidak akan melepaskan kamu, Almira Haritsah," ucapnya penuh penekanan.
Dari awal bertemu, Raka tertarik dengan Mira. Ingat, hanya tertarik. Raka memang bilang kepada semua orang jika ia mencintai Mira, namun nyatanya dia hanya tertarik dan penasaran dengan Mira.
Brengsek? Yah, Raka mengakuinya. Tidak ada yang tahu akan hal ini, meskipun keluarganya sendiri. Ralat, lebih tepatnya hanya pekerja di Mension yang tahu. Dia merahasiakannya dengan sangat baik.
Orang melihat, Raka seperti pria baik-baik. Raka terlihat seperti pria bertanggungjawab, terlihat seperti pria yang akan memanjakan istrinya.
Tapi semua itu hanya akan menjadi seperti. Raka memang licik. Memanfaatkan pandangan orang hanya untuk rasa penasarannya.
"Saya tidak akan membiarkan kamu lepas dari genggaman saya, Mira. Kamu milik saya, hanya milik saya," ujarnya penuh ambisi.
Raka memang sudah menjadi suami Mira, dan itu artinya ia memang memiliki Mira. Tapi itu semua hanya sebatas diatas kertas dan status.
Raka bangkit dan keluar dari ruang kerjanya. Ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya, dan kamar Mira, mungkin. Dia melihat Mira yang sibuk menata baju-bajunya. Secara tidak sadar, kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.
"Cepat bereskan, setelah itu buatkan saya kopi tanpa gula"
Mira melirik Raka sekilas lalu mengangguk pelan. Raka yang tidak puas dengan jawaban Mira mengeraskan rahangnya. Dia melangkah mendekat dan mengurung tubuh ramping Mira.
Mira yang merasa aura mengerikan dari Raka, perlahan tubuhnya bergetar. Dengan sisa keberaniannya, ia menatap manik hitam yang tersirat kemarahan.
"Jawab saya dengan benar. Saya tidak mau kamu menjawab dengan bahasa isyarat," ucap Raka dengan nada rendah.
Mira menunjuk saat manik hitam Raka menatapnya dengan intens. "Iya, maaf," balasnya pelan.
Raka memundurkan badannya dan mengusap pucuk kepala Mira dengan lembut. "Jadilah istri penurut," ucapnya lalu melenggang pergi entah kemana.
Mira memejamkan matanya dan mencoba mengatur nafasnya. Raka itu sulit ditebak dan temperamental. Mira tidak tahu bagaimana nantinya jika bertahan lama dengan sifat Raka yang seperti itu.
Ada sedikit rasa penyesalan di benak Mira saat menerima lamaran Raka. Namun, ia harus melakukannya agar orangtuanya bisa hidup dengan tenang tanpa teror dari anak buah Raka.
"Ya Allah. Kuatkan hamba untuk menjalani kehidupan baru hamba."
____________________
Tbc.
Ada sesuatu yang disembunyikan Raka.
Dan ada beberapa alasan mengapa Mira bisa menerima Raka sebagai suaminya.
Jangan lupa untuk vote dan komen.
KAMU SEDANG MEMBACA
L U K A || Mira&Raka
Literatura FemininaImpian Mira yang ingin melanjutkan pendidikannya ke Universitas menjadi angan-angan saja. Gadis itu harus merelakan impiannya dan menikah dengan laki-laki seperti Raka. Raka bilang, dia sangat mencintai dirinya. Tapi nyatanya? Semua itu hanya OMONG...
