L U K A || CHAPTER 14

6.1K 818 47
                                        

14. Emma

"Memperjuangkan apa yang seharusnya hak kita, apakah salah?"

~ Mira

______________________

Mira mengernyit heran melihat Raka yang pulang dengan tersenyum lebar. Ia berpikir, apakah ada hal yang membahagiakan sampai membuat orang kaku itu tersenyum lebar?

"Kayaknya ada kabar gembira, nih?"

Raka menggeleng. Ia berlari menuju ruang kerjanya. Ia meletakkan kotak pemberian seseorang yang ia yakini dari Emma. Ia tak bisa menahan rasa bahagianya kala bertemu dengan Emma tadi.

Dengan langkah tegas, Raka keluar dari kantornya. Langit sudah hampir gelap, semua karyawan sudah pulang melepas penat.

Saat ingin memasuki mobil, tubuhnya menegang kala merasakan pelukan seseorang. Wangi parfum itu sangat  familiar. Emma.

Dan benar saja, saat ia membalikkan tubuhnya, orang yang memeluknya adalah Emma. Perempuan yang selama ini ia rindukan.

"Emma."

Emma tersenyum. "I'm comeback," ucapnya.

Seakan tersihir, Raka memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut Emma di pipinya.

"Kamu kemana aja?"

Diam-diam Emma tersenyum licik. Benar ternyata, Raka masih belum bisa melupakannya.

"Aku pergi untuk pengobatan, maaf karena pernah mengkhianati kamu."

Raka menggenggam tangan Emma. "Tak apa, yang penting sekarang kamu kembali."

Mengingat itu senyumnya tak bisa ditahan lagi. Ia juga telah memaafkan Emma, karena melihat perban yang ada di kening Emma membuatnya yakin jika perempuan itu memang tengah menjalani pengobatan.

Ia sempat bertanya, mengapa tidak meminta uang kepadanya saja. Namun dengan lugas Emma menjawab karena perempuan itu tak mau menambah beban pikirannya, ditambah lagi perusahaannya dulu hampir bangkrut.

"Sekarang Emma sudah kembali, berarti hidupku sekarang  sudah lengkap, tidak ada yang kurang."

Raka mengelus foto Emma, seakan-akan foto itu nyata. "Tunggu beberapa saat lagi, aku akan menceraikan Mira dan menikahi kamu, Emma."

Tanpa Raka sadari, Mira mendengar semua itu. Niatnya tadi ingin menjahili Raka, namun yang ia dapat adalah keputusan Raka yang ingin menceraikannya.

Apakah Raka hanya menganggapnya sebagai mainan saja? Apakah Raka menikahinya hanya menjadikannya sebagai pelampiasan?

Ia tak menyangka. Cintanya yang tulus terbalaskan dengan pengkhianatan.

°°°

Andy menggenggam erat cangkir ditangannya. Ia mendapat kabar jika mantan kekasih putranya kini sudah kembali ke Indonesia.

Ketakutannya ternyata memang terjadi. Wanita itu sekarang kembali dan tentunya pasti hanya ingin menguras harta Raka, sama seperti dulu.

Bukannya ia su'udzon, namun ia sangat hafal bagaimana tabiat dan ciri-ciri wanita yang haus harta. Dan Emma contohnya.

Ia tak tahu bagaimana nasib Mira selanjutnya. Apakah menantunya itu akan bertahan atau memilih berpisah.

Sepertinya Mira akan memilih bertahan, mengingat gadis itu yang mencintai Raka. Namun jika Mira memilih berpisah, Raka pasti akan mengancam Mira dengan itu, sama saat Raka mengancam Mira jika gadis itu tak mau menikah dengannya.

Jika pun menasehati Raka, pasti dia tidak akan percaya, meskipun bukti-bukti yang cukup kuat untuk membuktikan bahwa Emma bukanlah wanita yang baik.

"Memang benar apa kata orang. Sangat sulit meyakinkan lalat jika bunga lebih dari sampah," ucap Andy kesal.

Ia hanya bisa berdoa, apapun akhir dari rumah tangga Raka dan Mira,itu adalah yang terbaik untuk keduanya.

Jika nantinya Mira memilih mempertahankan pernikahannya, maka ia akan membantu menantunya. Tapi jika Mira memilih berpisah, maka dengan senang hati ia mengurus surat perceraian.

Itulah janjinya.

°°°

"Nyonya kenapa?"

Mira langsung menghapus air matanya kala seseorang memergokinya tengah menangis. Ia tersenyum kepada Bi Wati.

"Gak apa-apa, kok, bi."

"Nyonya cerita aja sama saya, barangkali saya bisa bantu."

Mira langsung memeluk wanita paruh baya itu. "Bi, dia kembali. Dia mau ngerebut Raka dari aku, bi."

Bi Wati menegang. Ternyata wanita ular itu sudah kembali. Pasti niatnya hanya ingin merusak rumah tangga majikannya, lalu menguras harta Raka sampai habis, seperti dulu.

"Nyonya tenang aja. Bibi sama yang lain akan terus mendukung dan membantu nyonya semampu kami."

Mira mengangguk pelan di pelukan Bi Wati. Setidaknya ia tidak merasa sendirian, masih ada orang yang mendukungnya.

Para maid yang melihat majikannya menangis hanya bisa mendoakan. Semoga saja Raka tidak termakan hasutan wanita ular itu.

Namun tentu saja ada yang merasa senang, siapa lagi kalau bukan Anna. Wanita itu merencanakan sesuatu yang membuatnya merasa ada keuntungan.

To be continued...

____________________

Aku gak mau basa-basi lagi. Jadi, aku keluarin aja semuanya.

Mungkin masalah Emma ini ada sekitar kurang lebih sepuluh chapter, dan chapter seterusnya aku bikin Raka nyesel banget.

Dah, segini aja dulu, sekian.

Jangan lupa untuk vote dan komen chapter ini.

Follow akun dmasyitha

L U K A || Mira&RakaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang