Bonus Chapter

9.9K 765 56
                                        

Sesuai janji yang aku buat tadi. Malam ini aku up bonus chapter untuk kalian.

>1600 kata

Happy reading!

***

Via membereskan alat tulis dan bukunya, lalu memasukkannya kedalam tas. Gadis yang baru menginjak usia lima belas tahun itu keluar dari kelas dengan wajah riangnya.

"Pia!"

Via berhenti dan menoleh kebelakang, menatap temannya jengah. "Jangan teriak-teriak, Paula. Kebiasaan banget deh!"

Paula menyengir. Gadis itu merangkul bahu Via dan melanjutkan langkahnya. "Gak teriak satu hari sama aja kayak makanan tanpa penyedap, kurang enak."

Via geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya itu. Yah walaupun tingkahnya dengan Paula hampir sama, tapi Paula lebih parah.

"Gimana liburannya? Seru kagak?"

"Lo udah nanyain itu empat kali dalam sehari ini," jawab Via.

"Gue cuma nanya. Kali aja lo cerita tentang si Gila," ceplos Paula.

Alis Via bertaut. "Gila siapa woy?"

"Itu lho, cewek yang pernah lo ceritain ke gue. Cewek yang mau deketin bang Iyan."

"Gina yang bener. Main ganti nama orang aja." Via sedikit menarik rambut panjang Paula. "Tapi emang bener sih, bagi gue Gina itu gila."

"Nah kan!" Paula membenarkan tatanan rambutnya. "Lagian nih ya, gue heran sama dia. Walaupun si Gina ngejar Iyan, tapi perjuangan tuh cewek gak kelihatan sama sekali. Malahan jatuhnya Iyan yang ngejar-ngejar Gina."

"Biasalah. Orang manipulatif."

Paula mengangguk setuju. Sejujurnya Paula sangat ingin bertemu dengan Gina langsung. Paula ingin melihat bagaimana rupa asli Gina, karena selama ini Paula hanya melihat foto Gina saja.

Paula sendiri juga sangat geram dengan Gina. Via sering curhat kepadanya setiap liburan ke Surabaya. Via sering bercerita tentang Gina yang sering menarik perhatian Fatih. Untung saja Zi masih tidak terpengaruh dengan tutur kata manis Gina.

Berbicara soal Gina, gadis itu sudah pindah dari Jakarta ke Surabaya saat SMA. Gina tinggal sendirian di rumah Vini, sedangkan Dewa masih bekerja di kantor Raka dengan Vini yang setia menemani sang suami.

"Sekarang si gila kuliah dimana? Gak satu universitas sama babang kesayangan lo kan?" tanya Paula.

"Enggak, beda lagi. Abang kuliah di Universitas Airlangga, ngekos lagi. Kalau si Gina gak tau dia kuliah dimana. Itu juga bukan urusan gue. Yang penting dia gak satu universitas sama abang."

Mobil Alphard Vellfire berwarna putih berhenti di depan gerbang. Melihat itu Via berpamitan pada Paula karena supir sudah menjemputnya. Via membuka jendela mobil dan melambaikan tangan pada Paula yang dibalas juga oleh gadis itu.

"Ke kantor Abah dulu ya pak."

"Iya non."

Via mengalihkan pandangannya. Gadis itu melihat jalanan yang padat dipenuhi kendaraan.

"Assalamualaikum, Papih~~"

Tapi sepertinya Via datang di waktu yang tidak tepat. Pemandangan didepannya sangat membuatnya iri dan segera ingin menikah.

Di sofa, Mira dan Raka berbaring dengan lengan Raka yang dijadikan bantal. Untung saja sofa itu besar sampai bisa memuat dua orang untuk tidur.

Via menutup mulutnya dan mengubah ekspresinya dramatis saat Raka menatapnya tajam. "Astaghfirullah Papih. Ingat dosa Papih, ada jomblo disini. Harap jangan mesra-mesraan di depan jomblo seperti anakmu ini."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 05, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

L U K A || Mira&RakaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang