23. Berubah
"Terimakasih karena pernah hadir, walaupun akhirnya kamu meninggalkan luka di hati."
~ Mira
_________________________
Oxford, Inggris
Mira tersenyum menatap teman-temannya. Hari ini, ia dinyatakan lulus dengan hasil yang memuaskan. Tak sia-sia pengorbanannya selama empat tahun ini.
Yah, hari ini adalah hari kelulusan Mira. Gadis itu menyelesaikan pendidikannya selama empat tahun untuk Sarjana S1. Awal datang ke Inggris, Mira langsung mencari beasiswa dan diterima di Oxford University.
Meskipun pernikahannya tidak seindah yang diharapkan, namun impiannya menjadi sarjana tercapai.
Empat tahun yang lalu, setelah meninggalkan Mension Raka, ia langsung berangkat ke Inggris dengan bantuan Andy. Tak ada yang tahu jika dirinya berada di Inggris. Ia hanya memberitahu Zi setelah hampir setahun menetap berada di sini.
Memang empat tahun yang lalu ia mengalami kecelakaan. Mobilnya mengalami rem blong dan akhirnya menubruk truk.
Syukurlah Mira tidak mengalami luka berat, namun gadis itu harus dirawat selama beberapa hari. Andy tentu menyembunyikan Mira dari Raka. Ia tak mau jika Mira bertemu dengan orang yang memberinya luka paling dalam.
"Congratulations, Al."
Mira menerima buket bunga yang diberikan temannya. "Thanks you, Barlee."
"You're walcome."
Barlee merangkul lengan Mira. "Sebagai perayaan hari kelulusan mu, kau ingin hadiah apa?"
Pulang dan bertemu Raka. Ingin sekali rasanya Mira meneriakkan keinginannya. Namun rasanya sangat tidak mungkin.
"Aku tidak butuh apa-apa lagi. Cukup kau bahagia itu sudah lebih dari cukup."
"Baiklah. Sekarang aku akan membawamu ke suatu tempat."
Saat keduanya ingin beranjak pergi, seorang pria tampan yang juga memakai toga menghalangi jalan mereka.
"Sepertinya sekarang aku ingin sesuatu," bisik Mira.
"Kau ingin aku mengusirnya?" Mira mengangguk.
"Baiklah. Serahkan semuanya kepada ku." Barlee mengibaskan rambut pirangnya sombong.
Mira mengacungkan jempolnya. "Semoga berhasil."
"Jangan sebut aku Barlee jika hanya mengusir playboy seperti dia saja tidak bisa."
Barlee maju dan langsung mendorong bahu pria itu. "Kau ingin mengganggu sahabatku lagi, Paul?"
Paul menatap Barlee sinis. "Bukan urusanmu."
"Itu urusanku, karena Al adalah sahabatku. Lagipula kau selalu mengganggu Al dan membuatnya risih."
Paul mendorong Barlee sampai membuat gadis itu hampir terjatuh. Paul menghampiri Mira dan memberikan buket bunga kepadanya.
"Congratulations. Aku membuatnya sendiri."
Mira hanya menatap buket bunga itu tanpa berniat menerimanya. Ia tak mau memberikan harapan kepada Paul yang sudah mengejarnya selama satu tahun belakangan.
"Maaf, aku tidak bisa menerimanya."
Bahu Paul merosot. "Kenapa kau tidak pernah menerima sesuatu pemberian dariku?"
"Paul, aku tahu kau pasti paham dengan ini. Agama kita berbeda. Aku tak ingin memberikan harapan padamu. Lagipula aku sudah menikah."
"Dengar sendiri, kan?" sahut Barlee.
"Aku tak percaya," ucap Paul.
Barlee menetap jengah pria di depannya ini. Ia mengangkat tangan kanan Mira yang terpasang cincin di jari manisnya.
Paul menatap Mira kaget. Selama ini Mira tidak pernah memakai cincin atau perhiasan apapun. Pria itu menelan ludahnya kasar.
"Tapi aku masih tidak percaya."
Barlee yang sudah geram, maju dan menyeret Paul. Gadis berambut pirang itu mengode Mira untuk segera pergi.
"Ada-ada aja tuh cowok," gumamnya.
Baru satu langkah berjalan, ia dikagetkan dengan kedatangan seseorang. Seorang pria yang menggendong anak berusia empat tahun dengan membawa bunga.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Pria itu menyerahkan buket bunga yang dibawanya. "Selamat Mira."
"Makasih, Patih."
"Selamat, aunty."
Mira menatap Iyan gemas. "Makasih, Iyan."
Walaupun Iyan mengucapkan dengan wajah datar andalannya, namun bagi Mira itu sangat berkesan.
"Oh, iya. Si cempreng kemana?" tanya Mira saat tidak melihat kehadiran sepupunya.
"Zi masih beli sesuatu. Biasa lah. Kamu tau sendiri, kan, impian Zi itu pengen honeymoon ke sini. Waktu udah keturunan, semangatnya gak ketolong. Kesana beli ini, kesitu beli itu. Segala macam dia beli."
Mira meringis tak enak. Pasti biaya yang dikeluarkan Fatih sangat banyak. Barang-barang dan makanan disini memang mahal jika dirupiahkan, bayangkan saja jika Zi belanja banyak. Berapa uang yang dikeluarkan Fatih untuk membayar semua yang dibeli Zi.
"Maafin tuh si cempreng, ya. Dia kalau udah jalan-jalan, matanya gak bisa di jaga. Liat yang enak langsung dibeli, lihat yang bagus langsung dibeli."
Fatih tersenyum tipis. "Gak apa-apa kalau buat istri. Sekalipun uang habis aku rela, yang penting itu Zi yang habisin."
Buchen!
"Aunty ngejek Umma?" ucap Iyan kesal.
"Lah? Aunty gak ngejek Umma, tapi itu emang kenyataannya," balas Mira tak mau kalah. Enak saja ia dituduh. Kan memang kenyataannya begitu.
"Assalamualaikum, MiraMpret."
"Waalaikumsalam cempreng."
Zi memberikan Mira coklat yang barusan ia beli. "Buat lo."
"Makasih."
"Sama-sama."
"Daripada ngomong di sini, mending di apartemen gue aja," ajak Mira.
Keluarga kecil itu mengangguk dan mengikuti Mira dengan berjalan kaki karena hanya berjarak dua ratus meter dari sana.
To be continued...
___________________________
Ada yang masih stay baca nih cerita gak jelas?
Absen dulu, yuk!
KAMU SEDANG MEMBACA
L U K A || Mira&Raka
Literatura KobiecaImpian Mira yang ingin melanjutkan pendidikannya ke Universitas menjadi angan-angan saja. Gadis itu harus merelakan impiannya dan menikah dengan laki-laki seperti Raka. Raka bilang, dia sangat mencintai dirinya. Tapi nyatanya? Semua itu hanya OMONG...
