L U K A || CHAPTER 04

7.3K 925 56
                                        

04. Menyimpan Luka

"Andai gue perempuan pertama setelah Mama lo, gue bersyukur. Meskipun lo gak cinta sama gue."

~Mira

________________________

Raka mengernyit heran melihat salah satu temannya berdiri menghalanginya. "Kenapa?"

"Sampai kapan lo kayak gini?"

Kening Raka mengkerut. "Maksud lo? Gue gak ngerti?"

Dia terkekeh sinis. "Kapan lo bisa ngelupain dia, dan bisa mencintai Mira dengan tulus?"

Raka sudah tak kaget dengan temannya yang satu ini. Wajar saja, karena memang dia sudah berteman dengannya saat kecil.

"Entah," jawab Raka acuh.

"Mungkin kalau dia kembali, gue bakal ceraikan Mira," lanjutnya terkekeh tanpa beban.

"Anjing!"

Bug

Raka mengusap sudut bibirnya yang sedikit berdarah. Dia menatap remeh temannya. "Kenapa lo, gak terima?"

"Gue gak habis pikir sama pikiran lo yang buntu. Buat apa lo nunggu dia kembali? Jelas-jelas dia yang udah ninggalin elo dan milih pria lain." Bentaknya.

Dia memegang pundak Raka. "Buka mata lo, Ka. Sekarang udah ada Mira, istri lo. Coba buka hati lo dan berusaha mencintai Mira."

Raka menepis tangan temannya itu. "Tapi gue gak cinta sama Mira, gimana dong?" Raka menatap remeh temannya itu.

"Oke. Jangan menyesal kalau Mira menyerah dan ninggalin elo. Dan jika saat itu datang, jangan marah sama nanti gue kalau gue yang nikahin dia," ucapnya melenggang pergi.

Mendengar itu, tanpa sadar Raka mengepalkan tangannya. Tidak! Tidak boleh ada yang merebut Mira darinya. Mira-nya juga tidak boleh pergi kemanapun. Mira-nya harus tetap bersamanya. Selamanya.

°°°

Mira mengerutkan keningnya saat melihat sudut bibir Raka yang sedikit berdarah. Ada apa dengan suaminya itu?

"Itu bibirnya kenapa?" Tanya Mira.

Raka tak menjawab. Pria itu membawa kotak obat dan menyuruh Mira membersihkan sudut bibirnya yang berdarah. Mau tak mau Mira melakukan apa yang dimaksud Raka.

Mira membersihkan luka Raka dengan telaten tanpa memperdulikan Raka yang menatapnya intens.

"Udah, sana keluar!"

Satu alis Raka terangkat. "Kamu ngusir saya?"

"Iya," jawab Mira yang tengah membereskan kotak obat.

"Udah sana, keluar! Gue mau meditasi."

Mira mendorong Raka sampai pria itu keluar, setelah itu ia mengunci pintu kamar. Ia menghela nafas panjang, mengusap wajahnya kasar dan mencoba menstabilkan emosinya.

Melihat Raka membuat hatinya berdenyut sakit. Ia sadar, jika sekarang ia telah mencintai Raka. Ia telah melanggar janji yang telah ia buat dulu. Jangan jatuh cinta kalau Raka belum mengungkapkan cinta.

L U K A || Mira&RakaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang