20. Rencana
"Melepaskan memang mudah. Namun merelakan dan mengikhlaskan itulah yang sulit."
~ Lintang
___________________________
Andy berjalan dengan penuh wibawa. Pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu memasuki ruangannya. Senyuman tipis terukir kala melihat siapa orang yang ada di ruangannya.
"Assalamualaikum."
Enam orang yang ada di ruangan Andy melihat kearah pintu.
"Waalaikumsalam."
Andy duduk di kursi kebesarannya. Ia menatap satu persatu orang didepannya.
"Bagaimana?"
"Semua bukti sudah terkumpul, Om. Tinggal kita bongkar, maka ratu Medusa dan pacarnya itu langsung skakmat," ucap Jack.
Yah, Andy menyuruh enam orang itu datang untuk merencanakan pembongkaran sifat Emma.
Enam orang itu adalah Jack, Indra, Johan, Bi Wati, Mbak Tina dan Lintang.
Mengapa Bi Wati dan mbak Tina bisa ada di sana? Karena Andy tahu kedua maid yang bekerja di mansion Raka itu memiliki bukti tentang sifat asli Emma.
"Ambo juga tuan besar. Ambo punya video itu si Mak Lampir lagi telponan sama pacarnya. Sama itu maklam ngancam nyonya," ucap mbak Tina dengan logat Minang.
Bi Wati ikut menyahut. "Saya juga punya, tuan besar. Saya ada video yang si ular curi uang tuan Raka. Sampai-sampai tuan Raka marah besar, te--"
Ucapan Bi Wati terpotong kala Andy mengangkat tangannya, mengisyaratkan wanita itu untuk berhenti berbicara.
"Saya sudah tahu semuanya," ucap Andy.
"Kirimkan video yang kalian rekam. Ikuti rencana saya."
"Lintang, Indra. Satukan bukti-bukti yang sudah kalian dapatkan. Johan, kembali ke kantor Raka, suruh dia datang kemari!" titah Andy.
Kali ini Andy akan menyadarkan Raka dengan menunjukkan bukti-bukti yang kuat. Biar Raka tahu jika Mira adalah yang terbaik, justru Emma yang seharusnya tidak berada diantara Raka dan Mira.
°°°
Raka memandangi foto Mira. Ia sangat bimbang dengan perasaannya sendiri.
Perasaannya kepada Emma seperti berkurang seiring waktu berjalan. Hatinya seolah-olah yakin jika Emma bukanlah perempuan yang tepat untuknya.
Terutama, saat melihat Mira kesakitan karena ulahnya sendiri, hatinya sakit seakan-akan ia juga merasakan hal yang sama dengan Mira.
"Mungkin malam ini waktu yang tepat," gumam Raka.
Yah, malam ini Raka akan mengajak Mira dinner dan mengungkapkan perasaannya seperti anak muda jaman sekarang.
Hatinya telah mantap jika Mira memang perempuan yang tepat untuknya. Mungkin selama ini ia bodoh karena menyia-nyiakan Mira. Membela masa lalu suramnya dan menyiksa masa depannya yang cerah.
Ia tersadar saat menjenguk Zi beberapa bulan yang lalu. Melihat anak Fatih, membuatnya juga ingin membangun keluarga kecil bersama Mira.
Untuk Emma? Mungkin nanti ia akan berbicara baik-baik. Cukup sudah perempuan itu menginap di Mansionnya, membuat hubungannya dengan Mira menjadi renggang.
Raka kembali membaca surat yang ia tulis. Tulisannya seperti anak kecil yang baru belajar menulis, seperti ceker ayam.
Bagaimana bisa tulisannya jadi rapi, sedari tadi ia gugup setengah mati. Seumur hidup baru kali ini ia menulis surat untuk seseorang, bahkan dulu ia tidak pernah menuliskan surat untuk Emma.
Tok tok
"Masuk!"
Raka menaikkan satu alisnya melihat kedatangan Johan. Bukannya sekretaris pribadinya itu tadi izin ingin ke rumah sakit?
"Ada apa, Jo?"
"Tuan besar ingin anda segera ke kantornya, tuan."
"Papa?"
Tumben sekali Papahnya memanggilnya ke kantor. Biasanya kalau ada masalah penting saja ia akan dipanggil di kantor. Apakah ada masalah penting?
"Saya akan ke sana. Tapi, tolong kamu kirim kotak ini ke Mira. Pastikan kalau Mira sendiri yang terima."
"Baik, tuan."
Johan melakukan perintah Raka, sedangkan Raka segera menuju kantor Papahnya.
°°°
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Raka menatap heran orang-orang yang ada di ruangan papahnya, apalagi ada Bi Wati dan mbak Tina.
"Papa kenapa manggil aku?"
"Duduk!" perintah Andy.
Jack langsung memperlihatkan video yang sudah dijadikan satu.
Raka memperhatikan dengan seksama video tersebut. Sepanjang video diputar, ia tidak percaya jika itu adalah Emma.
Apalagi, saat rekaman CCTV yang menunjukkan di mana Emma sengaja menggunting rambutnya sendiri, lalu gunting itu langsung wanita itu berikan kepada Mira.
Amarahnya langsung meluap saat tahu jika Emma tidak sendirian. Ternyata Anna, pembantu yang pernah membuat Mira terluka menjalin kerjasama dengan Emma.
Jadi selama ini ia membela orang yang salah?
"Papa sengaja pasang CCTV diam-diam di mansion kamu dari dulu. Papa tahu semua kelakuan kamu yang kurang ajar, suka main tangan sama Mira."
Lintang diam, menahan diri untuk tidak memukul Raka yang tengah mendapat siraman qolbu.
Jika Raka bukan sahabatnya sudah pasti semenjak Raka main tangan dengan Mira, ia menghajar pria itu.
"Cepat perbaiki, sebelum Mira menyerah," ucap Lintang.
Raka menepuk bahu Lintang dan menatap mereka bergantian. "Terimakasih."
To be continued...
___________________________
Double up nih!!
Ada yang minta triple up, tapi ada syaratnya. Cuma ada dua kok.
1. Vote dan komen cerita ini dan lapak sebelah sebanyak-banyaknya.
2. 100 vote dan 50 komen untuk chapter ini.
Udah kok itu doang, gampang, kan?
^_^
KAMU SEDANG MEMBACA
L U K A || Mira&Raka
ChickLitImpian Mira yang ingin melanjutkan pendidikannya ke Universitas menjadi angan-angan saja. Gadis itu harus merelakan impiannya dan menikah dengan laki-laki seperti Raka. Raka bilang, dia sangat mencintai dirinya. Tapi nyatanya? Semua itu hanya OMONG...
