Luca berdiri di depan sebuah kanvas besar yang diletakkan dengan rapi di ruang seni yang dihiasi jendela besar, membiarkan sinar matahari lembut masuk. Tangannya memegang kuas, melukiskan lanskap hutan musim semi yang kaya akan warna hijau dan cokelat. Wajahnya terlihat tenang, seolah sepenuhnya tenggelam dalam pekerjaannya.
Warna-warna lembut menyatu di kanvas, menciptakan suasana yang damai, nyaris magis. Sebuah meja kecil di sebelahnya penuh dengan cat minyak dalam berbagai warna, palet kayu dengan cat yang menciptakan noda-noda abstrak, serta beberapa kuas yang basah.
Ruang seni tempat Luca berada adalah salah satu sudut istana Lunar yang menenangkan, dirancang khusus untuk kreativitas. Ruangan ini luas dengan langit-langit tinggi yang dihiasi relief berlapis emas. Dinding-dindingnya didominasi warna biru lembut, dihiasi bingkai lukisan lama karya pelukis-pelukis terkenal dari berbagai kerajaan. Sebuah jendela besar setinggi langit-langit memancarkan cahaya alami yang memenuhi ruangan, menyinari lantai marmer putih berkilau dengan pola biru samar.
Di tengah ruangan, ada sebuah kanvas besar yang berdiri di atas easel kayu berukir halus. Palet cat warna-warni dan kuas berbagai ukuran tergeletak di atas meja panjang dengan permukaan berlapis kaca. Di sudut lain, terdapat kursi-kursi empuk berlapis beludru biru tua dengan bantal-bantal putih bersulam benang emas, menciptakan tempat istirahat yang nyaman.
Lemari kayu besar berisi botol cat, kuas, dan alat seni lainnya berdiri di sisi ruangan, dengan pintu kaca yang memamerkan isi di dalamnya. Lantai di dekat easel tampak memiliki sedikit noda cat, tanda bahwa ruangan ini sering digunakan untuk menciptakan karya. Sebuah vas bunga putih dengan mawar biru yang langka diletakkan di dekat jendela, menambah nuansa elegan dan menyegarkan di dalam ruangan.
Ketika Isabella masuk dengan buku di tangannya, cahaya matahari yang memantul dari dinding dan lantai memberikan kesan hangat, seakan ruangan ini menyambut siapa pun yang datang dengan ketenangan dan keanggunan. Isabella memasuki ruang seni dengan langkah ringan, memegang sebuah buku tebal di tangannya. Gaunnya yang sederhana namun anggun sedikit berdesir saat ia berjalan. Ia berhenti di belakang Luca, mengamati lukisan yang sedang dikerjakan.
"Luca, lukisan ini... indah sekali. Kau selalu tahu bagaimana menangkap keindahan, bahkan dalam hal yang sederhana," pujinya tulus.
Luca menoleh, tersenyum tipis, lalu mengangkat bahu dengan rendah hati.
"Mungkin karena aku melihatnya melalui mata yang tenang. Dunia tidak selalu seburuk yang kita bayangkan, bukan?"
Isabella tersenyum, lalu berjalan ke sebuah kursi tak jauh dari Luca. Ia duduk dengan santai, membuka bukunya, namun pandangannya masih sesekali tertuju pada lukisan itu.
"Bagaimana jika kau melukis sesuatu yang lebih personal? Sesuatu yang mewakili hatimu, bukan hanya pemandangan," ucap Isabella, melirik Luca dari sudut pandangnya.
Luca terdiam sesaat, memandang kanvasnya, lalu tersenyum samar. "Mungkin suatu hari nanti. Tapi untuk saat ini, pemandangan seperti ini lebih menenangkan," ucapnya dengan suara pelan.
Mereka melanjutkan percakapan ringan, menciptakan suasana akrab dan damai di ruang seni, seolah-olah waktu berhenti sejenak untuk mereka.
— 7 PRINCES —
Matthias duduk di meja kayu besar yang berada di dekat jendela lebar kamarnya, rambutnya masih sedikit basah setelah mandi. Sebuah lilin menyala di atas meja kecil, menerangi sebuah kertas yang hampir penuh dengan tulisan tangan yang rapi namun padat. Cahaya matahari pagi masuk melalui tirai biru lembut yang tersingkap, memantulkan kilau pada ukiran emas di tepi perabotan. Ruangan itu bernuansa biru dengan sentuhan putih pada dinding-dindingnya yang dihiasi panel-panel ornamen klasik. Langit-langit kamar berbentuk kubah kecil dengan lukisan motif bintang keemasan, menguatkan kesan kerajaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
7 PRINCES
RomanceDi Tanah Aurion, perang telah mereda, tetapi bayang-bayangnya masih mengintai di setiap sudut istana. Dendam lama belum terkubur, dan rahasia yang telah lama disembunyikan mulai terungkap sedikit demi sedikit. Sebastian Whitmore dan Theodore Ashford...
