Chapter 49: Satu Hari Sebelum Segalanya Berubah

41 2 0
                                        

Langit pagi di atas Kerajaan Lunar tampak bersih tanpa awan. Warna birunya yang pucat dibalut sinar matahari musim gugur yang lembut, menyelimuti atap-atap istana dengan kilau keemasan. Udara sejuk menyelinap masuk lewat celah-celah jendela besar yang berjajar di sisi timur ruang makan kerajaan. Tirai tipis berwarna putih gading berkibar pelan, mengikuti irama angin yang tenang.

Di ruang makan utama istana, Raja Frederik van Aardenburg tengah menyantap sarapan terakhirnya pagi itu. Duduk di ujung meja panjang berlapis taplak beludru biru tua, raja mengenakan jubah ringan berwarna biru safir dengan sulaman emas di bagian kerah dan pergelangan tangan. Rambut peraknya tersisir rapi ke belakang, memperlihatkan wajah tegas dan dingin yang menjadi ciri khasnya.

Sarapan pagi ini disajikan sederhana—roti gandum panggang, mentega dari ladang istana, dua potong keju putih, serta segelas teh herbal hangat dengan aroma melati. Meski sederhana, segalanya ditata rapi oleh para pelayan istana yang sudah terlatih.

Suasana di ruang makan begitu hening. Hanya terdengar denting halus perak garpu dan pisau yang menyentuh permukaan porselen. Di sudut ruangan, berdiri tegak seorang pria paruh baya berpakaian serba abu-abu gelap dengan pin kerajaan tersemat di dada kirinya. Dialah Clyton, sekretaris kerajaan sekaligus penasihat pribadi Raja Frederik.

Tak lama setelah suapan terakhirnya, Frederik mengesap teh dalam diam. Matanya sempat melirik ke jendela, memperhatikan bagaimana daun-daun mapel merah berguguran dengan pelan, menandakan musim mulai berganti. Ada sesuatu dalam senyap musim gugur yang selalu mengingatkannya akan perputaran waktu—dan akan kesepian yang tak pernah benar-benar pergi dari hidupnya.

Langkah pelayan muda terdengar masuk dengan hati-hati. Ia membawa baki perak, dan di atasnya tergeletak sebuah surat bersegel merah dengan lambang Althera. Sang pelayan membungkuk, lalu menyerahkan baki itu kepada Clyton sebelum segera mundur dengan sopan.

Clyton berjalan mendekat dan meletakkan surat itu di hadapan raja.

"Kiriman pagi ini dari Kerajaan Althera, Paduka," ucapnya pelan.

Raja Frederik mengangkat alis, lalu menyentuh amplop itu dengan jari-jarinya yang panjang. Ia mengenali segel itu—lambang singa bersayap dan mahkota tiga mata. Sebuah undangan, pikirnya. Ia membuka amplop dengan gerakan tenang, lalu membaca isinya dalam diam. Tatapannya tak menunjukkan ekspresi berarti, namun matanya tampak memerhatikan setiap detail huruf dalam surat tersebut.

Setelah selesai membaca, Frederik meletakkan surat itu di samping piringnya. Ia menoleh pada Clyton.

"Apakah aku memiliki agenda hari ini? Atau dalam minggu ini?"

Clyton membuka buku catatan kulit yang selalu ia bawa ke mana pun. Beberapa detik ia mengecek lembar-lembar di dalamnya sebelum menjawab.

"Tidak ada pertemuan penting, Paduka. Seluruh urusan pemerintahan telah ditangani oleh dewan. Minggu ini sepenuhnya kosong."

Frederik mengangguk pelan. Ia mengambil satu napas panjang, lalu berdiri. Jubah birunya mengembang sebentar sebelum kembali jatuh mengikuti bentuk tubuhnya.

"Kalau begitu, siapkan kereta. Aku akan berangkat siang ini ke Althera. Lebih cepat lebih baik."

"Baik, Paduka," jawab Clyton, membungkuk hormat.

Begitu Clyton keluar dari ruang makan, Frederik menatap sejenak ke arah piring kosongnya. Ada banyak hal yang tidak dikatakannya pagi ini—termasuk perasaan aneh yang muncul setelah membaca surat dari Raja Frans. Sudah lama mereka tidak berkomunikasi langsung, dan undangan yang datang mendadak itu menimbulkan pertanyaan dalam benaknya.

Ia melangkah keluar dari ruang makan dan berjalan menyusuri lorong-lorong istana yang luas. Dinding-dinding putih pualam memantulkan cahaya matahari dari jendela-jendela besar, membuat lorong tampak lebih terang dari biasanya. Di sepanjang dinding, lukisan-lukisan leluhur keluarga van Aardenburg berjajar rapi, memandang ke arah siapa pun yang lewat.

7 PRINCESCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang