Pagi yang cerah menyelimuti St. Britannia. Cahaya mentari menerobos sela-sela dedaunan, memantulkan warna keemasan di permukaan rerumputan yang masih basah oleh embun. Isabella berjalan pelan di sepanjang taman akademi, menikmati semilir angin musim gugur. Di sampingnya, Eleanor melangkah dengan tenang, senyumnya ringan seperti biasanya.
"Aku merindukan suasana ini," ujar Eleanor sambil merapikan helaian rambutnya yang tertiup angin. "Setelah liburan panjang, rasanya kembali ke akademi seperti kembali ke rumah."
Isabella mengangguk. "Benar. Meski kadang ada yang menyebalkan di sini, tapi suasana akademi tetap selalu menyenangkan."
Ketika mereka berbelok di salah satu jalur taman, pandangan Isabella mendapati sosok yang begitu familiar. Jay. Bersama Luca dan Matthias. Ketiganya tampak tengah berbincang di bawah naungan pohon yang dedaunannya mulai menguning, tertawa kecil seakan menikmati pagi yang damai. Tanpa pikir panjang, Isabella meraih lengan Eleanor dan menariknya mendekat.
"Ayo kita ke sana! Aku ingin mengenalkan seseorang padamu," ajak Isabella antusias.
Eleanor membiarkan dirinya ditarik, hanya tersenyum tipis saat melihat pancaran semangat di wajah Isabella. Begitu mereka mendekat, Jay langsung menyadari kedatangan mereka dan mengangkat alis, seolah sudah menduga hal ini akan terjadi.
"Selamat pagi," sapa Isabella dengan nada riang.
Jay membalas dengan anggukan santai, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. "Pagi. Tidak buat masalah kan?" bisiknya pelan dengan nada menggoda.
Isabella langsung memelototinya. "Kau selalu mengira aku akan membuat masalah?"
Jay hanya terkekeh.
Sementara itu, Luca dan Matthias menatap Eleanor dengan penuh ketertarikan. Isabella segera mengenalkan mereka satu sama lain. "Eleanor, ini Luca dan Matthias. Mereka adikku."
Luca menegakkan bahunya dan tersenyum lebar. "Senang bertemu denganmu, kak Eleanor."
Matthias ikut menimpali, "Sama. Kami sudah mendengar ceritamu dari kak Isabella."
Eleanor mengangguk sopan. "Aku juga senang akhirnya bisa bertemu dengan kalian. Kalian tampak seperti pemuda yang menyenangkan."
Matthias terkekeh kecil. "Oh, kau tidak tahu seberapa menyebalkannya Luca jika sudah mulai bicara."
Luca langsung melotot. "Hei! Itu penghinaan."
Mereka semua tertawa, membuat suasana menjadi lebih ringan. Isabella memperhatikan betapa cepatnya Eleanor bisa membaur dengan adik-adiknya, dan hal itu membuatnya merasa lega. Setidaknya, kini ada lebih banyak orang yang bisa ia percayai di akademi ini.
Namun, percakapan mereka belum selesai. Matthias tiba-tiba menoleh ke arah Eleanor, seolah mengingat sesuatu. "Oh ya, kak Eleanor, kau tahu tidak? Kak Isabella mengirimmu surat memakai burung peliharaanku."
Eleanor tampak terkejut. "Benarkah?"
Isabella sedikit salah tingkah. "Iya... aku hanya ingin memastikan surat itu sampai padamu dengan cepat," jujurnya.
Eleanor tersenyum, matanya berkilat geli. "Itu cara yang cukup unik. Aku bahkan tidak tahu kalau kau punya akses ke burung pengirim surat."
Luca tertawa kecil. "Matthias yang punya, sebenarnya. Isabella hanya 'meminjam' burungnya."
Percakapan terus mengalir, seakan mereka semua sudah lama saling mengenal. Eleanor mulai merasakan bahwa Matthias dan Luca memang menyenangkan, bahkan tanpa harus berusaha terlalu keras untuk membuat suasana menjadi nyaman.
Matahari semakin tinggi, dan taman St. Britannia tetap menjadi saksi bagaimana hubungan antar mereka perlahan terjalin lebih erat.
— 7 PRINCES —
KAMU SEDANG MEMBACA
7 PRINCES
RomanceDi Tanah Aurion, perang telah mereda, tetapi bayang-bayangnya masih mengintai di setiap sudut istana. Dendam lama belum terkubur, dan rahasia yang telah lama disembunyikan mulai terungkap sedikit demi sedikit. Sebastian Whitmore dan Theodore Ashford...
