Dua hari setelah kedatangannya di Akademi St. Britannia, Louis berjalan santai di taman akademi bersama teman-temannya. Langit di atas mereka cerah, dengan awan-awan putih berarak malas, memberikan keteduhan di bawah sinar matahari musim gugur yang hangat. Angin sepoi-sepoi bertiup, menerbangkan dedaunan yang mulai menguning, mengingatkan mereka bahwa musim dingin tak lama lagi akan datang. Di sela obrolan ringan tentang pengalaman libur musim panas, perhatian mereka teralihkan oleh suara gemuruh roda kereta kuda yang melintasi jalan berbatu menuju gerbang akademi.
Seorang teman Louis yang bertubuh tinggi dengan rambut kecokelatan mengamati kereta tersebut dengan pandangan penasaran. "Hari ini adalah hari terakhir kedatangan para siswa," katanya, suaranya sedikit terangkat agar terdengar jelas di tengah riuh rendah suara siswa lain yang memenuhi taman akademi.
"Besok kita sudah mulai persiapan. Para staf akademi akan mulai membagikan seragam dan perlengkapan lainnya."
Louis mengangguk kecil, memperhatikan kereta yang perlahan berhenti di pelataran akademi. Dari dalam kereta, seorang pemuda bertubuh tinggi dengan rambut hitam pekat turun lebih dulu. Pemuda itu tampak rapi dengan mantel panjang khas bangsawan, memperlihatkan statusnya yang berasal dari keluarga kerajaan. Setelahnya, seorang gadis berambut pirang turun dengan anggun. Cahaya matahari sore menerpa helaian rambutnya, membuatnya berkilauan seperti emas.
Mata Louis terpaku pada gadis itu. Rambut pirangnya yang menjuntai indah seakan menarik perhatiannya lebih dari apa pun. Wajahnya yang lembut dan sikapnya yang tenang membuat Louis semakin penasaran. Ia belum pernah melihat gadis itu sebelumnya, tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang menyiratkan bahwa ia bukan orang biasa.
Salah seorang teman Louis menyadari tatapan Louis yang terus mengikuti gadis itu. Ia terkekeh kecil sebelum akhirnya berkata, "Kau tertarik pada mereka? Itu Jay dan Isabella dari Kerajaan Lunar. Mereka sepupu, kau tahu? Informasi ini sudah menyebar sejak lama."
Louis mengerutkan keningnya. Nama Isabella terdengar familiar, tetapi ia tidak pernah melihatnya secara langsung. "Kau tampak yakin sekali," gumamnya sambil masih menatap gadis itu dari kejauhan.
Temannya mengangkat bahu. "Aku pernah beberapa kali berkunjung ke Lunar dan bertemu mereka. Jay cukup terkenal karena posisinya di kerajaan. Isabella lebih jarang terlihat, tapi dia selalu ada di sisi Jay. Mereka tidak pernah jauh satu sama lain."
Louis menoleh kembali ke arah Jay dan Isabella. Saat itu, Jay tampak berbicara dengan Isabella sebelum akhirnya mereka berpisah arah. Jay melangkah menuju asrama putra, sementara Isabella naik ke kereta kuda menuju asrama putri. Ada sesuatu dalam ekspresi Isabella yang membuat Louis semakin tertarik. Bukan karena keanggunannya semata, tetapi ada kesan tertentu dalam caranya berjalan—tegak dan berwibawa, seolah menyembunyikan sesuatu di balik sikap tenangnya.
Ia menyimpan pertanyaan dalam benaknya. Jika mereka benar-benar sepupu, mengapa ia tidak pernah mendengar lebih banyak tentang Isabella sebelumnya? Informasi mengenai Jay jelas, tetapi Isabella terasa seperti bayangan yang tersembunyi dari mata publik. Fakta bahwa temannya mengetahui mereka membuatnya semakin penasaran.
"Kau pernah berbicara langsung dengan mereka?" tanya Louis, matanya masih mengikuti kereta yang dinaiki Isabella hingga akhirnya menghilang di balik pepohonan.
Temannya menggeleng.
"Hanya sekadar melihat dari kejauhan. Jay lebih sering terlihat dalam acara kerajaan. Isabella lebih banyak berada di belakang layar. Tapi tetap saja, mereka cukup dikenal di kalangan bangsawan."
Louis hanya mengangguk kecil. Pikirannya masih dipenuhi pertanyaan yang belum terjawab. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari Isabella, sesuatu yang membuatnya ingin tahu lebih jauh. Namun, ia sadar, sebagai seorang siswa St. Britannia, ia tidak bisa sembarangan mencari tahu tentang orang lain tanpa alasan yang jelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
7 PRINCES
RomantikDi Tanah Aurion, perang telah mereda, tetapi bayang-bayangnya masih mengintai di setiap sudut istana. Dendam lama belum terkubur, dan rahasia yang telah lama disembunyikan mulai terungkap sedikit demi sedikit. Sebastian Whitmore dan Theodore Ashford...
