Halo para pembaca setia 7 PRINCES!
Aku ingin menjelaskan sesuatu terlebih dahulu, karena cerita ini telah diperbarui, ku harap kalian tidak menantikan beberapa hal yang pernah terjadi di cerita sebelumnya (cerita sebelum di revisi). Cerita ini akan sepenuhnya berjalan dengan alur yang berbeda, meski maksud dan tujuannya masih sama. Lagipula, karena cerita ini ku buat dengan pertemuan mereka di St. Britannia, jadi beberapa hal yang pernah terjadi di cerita sebelumnya tidak akan masuk di cerita ini.
Karena itu, mohon bantuannya dengan berikan 'vote' pada setiap part sebelum/setelah selesai membaca cerita 7 PRINCES. Dukungan kalian sangat berharga bagi seorang penulis sepertiku, terima kasih.
👑 7 PRINCES 👑
Langit siang itu menggantungkan awan tipis di atas perbukitan tempat kamp pelatihan berdiri. Sinar mentari memancar redup, terhalang selaput kelabu yang menyaring terik menjadi cahaya keemasan. Udara yang lembap menempel lembut di kulit, membawa aroma tanah dan rerumputan yang terinjak sepatu bot para kadet.
Isabella turun dari kereta yang ditarik dua ekor kuda kelabu dengan langkah pasti. Seragam akademi yang membungkus tubuhnya tampak kontras dengan tenda-tenda cokelat lusuh yang berbaris rapi di sepanjang lereng. Suasana kamp sempat terhenti sejenak. Beberapa kadet yang tengah beristirahat di dekat perapian menoleh. Seorang putri muncul di tengah tanah pelatihan jelas bukan pemandangan sehari-hari.
Tatapan Isabella tegas, namun matanya tak dapat menyembunyikan kekhawatiran. Sepatu kulit hitam yang dikenakannya menjejak tanah berkerikil dengan bunyi ringan tapi pasti. Ia ditemani seorang staf akademi yang berjalan setengah langkah di belakangnya.
Tenda utama kamp pelatihan menjulang di tengah lapangan, ditandai dengan bendera kecil berwarna merah tua dan lambang akademi. Di dalam tenda itu, Jay berdiri bersama Marco dan Komandan kamp. Ketiganya sedang berbincang dengan suara rendah, namun ekspresi mereka menggambarkan ketegangan.
Jay mengenakan seragam latihan berwarna merah marun yang sedikit kusut karena aktivitas pagi tadi. Rambut hitam pekatnya tertiup angin, dan keringat masih tampak membasahi pelipisnya. Ia tampak kaget saat melihat Isabella muncul.
Marco, berdiri dengan tangan disilangkan di dada, hanya menaikkan satu alis. Tatapannya sulit ditebak, antara geli, heran, atau tidak peduli. Komandan, pria paruh baya dengan wajah keras dan sorot mata tajam, menyipitkan mata menatap staf yang datang bersama Isabella.
"Siapa yang mengizinkan Anda ke sini?" tanya Komandan, suaranya datar tapi penuh kontrol. Ia menoleh pada staf di belakang Isabella.
Staf itu memberi hormat. "Atas perintah Kepala Akademi langsung, Tuan."
Komandan hanya mendengus ringan, tidak melanjutkan pertanyaan. Ia tampaknya enggan memperpanjang perkara yang bukan urusannya langsung. Lalu ia menoleh ke Jay dan Marco.
"Cukup untuk hari ini. Jay, Marco, kalian boleh pergi."
Jay segera melangkah mendekati Isabella. Langkahnya cepat, seperti ingin memastikan sesuatu. Matanya mencari mata Isabella seolah berharap penjelasan.
Mereka keluar dari tenda tanpa bicara sepatah kata pun. Begitu keluar dan berdiri di antara angin lapangan terbuka, Jay langsung bertanya, suaranya serak namun terdengar penuh tekanan.
"Kenapa kamu datang ke sini?"
Isabella mengangkat wajahnya, sorot matanya teduh namun serius. "Kepala Akademi bilang kamu sedang dalam masalah. Beliau mengizinkanku datang."
KAMU SEDANG MEMBACA
7 PRINCES
Historical FictionDi Tanah Aurion, perang telah mereda, tetapi bayang-bayangnya masih mengintai di setiap sudut istana. Dendam lama belum terkubur, dan rahasia yang telah lama disembunyikan mulai terungkap sedikit demi sedikit. Sebastian Whitmore dan Theodore Ashford...
