Chapter 26: Kembali ke Rumah

112 5 0
                                        

Kereta kuda yang membawa Jay dan Isabella perlahan meninggalkan area St. Britannia, membawa mereka kembali menuju Lunar. Suara derap kuda berpadu dengan derak roda di atas jalan berbatu, menciptakan ritme yang monoton namun menenangkan. Isabella duduk di sisi kanan, melirik pemandangan luar dengan tatapan kosong, sementara Jay duduk berseberangan, sesekali mengamati gadis itu.

Isabella mengenakan gaun biru tua berbahan beludru dengan bordiran perak yang elegan. Jubah hitam tipis membalut bahunya, memberikan kesan misterius di balik kecantikannya. Rambut pirangnya dikepang longgar, beberapa helai terlepas, melambai lembut mengikuti gerakan kereta. Jay, di sisi lain, tampil lebih santai dengan kemeja putih yang bagian atasnya sedikit terbuka, dilapisi rompi biru dongker dengan detail emas. Celana panjang hitam dan sepatu bot kulit melengkapi penampilannya yang tetap berkelas.

Saat St. Britannia mulai menghilang dari pandangan, Isabella mendesah pelan. "Aku masih kesal," katanya, menyandarkan kepala ke dinding kereta.

Jay menaikkan sebelah alis. "Masih soal perkelahian dengan Reine?"

Isabella mengangguk, menutup matanya sejenak. "Kurasa aku kehilangan kendali. Seharusnya aku bisa menahan diri."

Jay tertawa kecil. "Yah, setidaknya kau membuatnya berpikir dua kali sebelum berani meremehkanmu lagi."

"Itu bukan sesuatu yang bisa dibanggakan," Isabella menggelengkan kepala, lalu menatap Jay dengan serius. "Aku tidak ingin Matthias atau Luca mengetahuinya. Jika itu sampai ke telinga mereka... Kau tahu bagaimana reaksi mereka nanti."

Jay mengangguk paham. "Dan jika mereka tahu, maka Ayah juga akan tahu."

Keduanya terdiam sejenak. Di luar, pemandangan mulai berubah dari bangunan akademi yang megah menjadi hamparan hijau luas, dengan ladang dan hutan kecil yang terbentang sejauh mata memandang. Udara dingin membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang tertiup angin.

Jay kembali menatap Isabella. "Kau serius tidak akan memberitahu siapa pun?"

"Tentu saja tidak. Itu memalukan," jawabnya cepat. "Dan kau juga tidak akan bicara, kan?"

Jay mengangkat kedua tangan. "Aku? Tidak mungkin. Aku lebih suka hidup tenang tanpa harus berurusan dengan Matthias yang murka."

Isabella mendengus geli. "Bagus kalau begitu."

Tiba-tiba, Jay teringat sesuatu. "Sebastian membisikkan sesuatu padamu sebelum kita berangkat. Apa yang dia katakan?"

Isabella terdiam sesaat, lalu mengalihkan pandangan keluar jendela. "Tidak ada yang penting. Dia hanya menggoda."

Jay menyipitkan mata. "Menggodamu? Apa mungkin dia tertarik padamu?"

Isabella tertawa kecil. "Sebastian? Tertarik padaku? Jangan konyol. Dia tipe pria yang suka mempermainkan gadis-gadis. Aku tidak akan jatuh ke dalam jebakannya."

Jay menggeleng pelan, menyeringai. "Mungkin dia berbeda kali ini."

"Tidak ada yang berbeda," Isabella membalas santai. "Sebastian hanya menikmati reaksiku, seperti yang selalu dia lakukan pada semua gadis yang dia temui."

Kereta terus melaju, melintasi jalan berbukit dengan pepohonan menjulang tinggi di kedua sisi. Cahaya matahari pagi menerobos di antara dedaunan, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di permukaan tanah. Burung-burung beterbangan rendah di atas ladang, sementara beberapa petani terlihat bekerja di kejauhan.

"Aku penasaran, apa yang sebenarnya dipikirkan Sebastian?" Jay bergumam lebih kepada dirinya sendiri.

Isabella tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil sebelum kembali memejamkan matanya, menikmati perjalanan panjang mereka kembali ke Lunar.

7 PRINCESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang