Chapter 27: Sepi di Balik Keindahan

116 6 0
                                        

Setelah jamuan makan malam yang hangat, Isabella bersiap kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Namun, langkahnya terhenti ketika seorang pelayan mendekat dengan kepala tertunduk hormat.

"Yang Mulia Raja meminta kehadiran Anda di ruang pribadinya," ucap pelayan itu dengan suara rendah.

Isabella mengangguk, lalu mengubah arah langkahnya menuju ruang pribadi Raja Frederik. Sementara itu, Jay telah lebih dulu kembali ke kamarnya, diikuti oleh Matthias dan Luca yang tampak masih ingin berbincang dengannya. Isabella menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu ruangan sang Raja.

"Masuklah," suara dalam dan tegas terdengar dari balik pintu.

Isabella melangkah masuk, mendapati ayah tirinya duduk di balik meja besar dengan beberapa lembar dokumen yang tampaknya belum sempat dibereskan. Raja Frederik mengangkat wajahnya, matanya menatap Isabella dengan lembut, berbeda dengan tatapan tajam yang biasa ia tunjukkan kepada para penasihat atau menteri istana.

"Duduklah, Isabella," ujar Raja Frederik sembari menunjuk kursi di depannya.

Isabella menurut, merapikan lipatan gaunnya sebelum duduk dengan sikap sopan. Ia menanti Raja Frederik berbicara lebih dulu.

"Bagaimana pengalamanmu di St. Britannia?" tanya sang Raja akhirnya.

"Baik, Ayah. Awalnya cukup sulit menyesuaikan diri, tetapi seiring waktu, aku mulai terbiasa," jawab Isabella dengan hati-hati.

"Bagus," Raja Frederik mengangguk pelan. "Bagaimana para pengajarnya? Apakah mereka memberikan pendidikan yang layak bagi seorang putri kerajaan?"

Isabella tersenyum tipis. "Para pengajar di sana sangat berwibawa dan kompeten. Kurikulum mereka ketat, tetapi juga membentuk karakter dengan baik."

Raja Frederik mendengar penuturan itu dengan wajah datar, tetapi matanya menyiratkan kepuasan.

"Akademi itu adalah salah satu yang terbaik di seluruh Aurion. Aku berharap kau mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman di sana," lanjutnya.

Isabella mengangguk. "Ya, Ayah. Aku belajar banyak hal baru."

Sejenak, keheningan mengisi ruangan. Raja Frederik terlihat ragu sebelum akhirnya bertanya, "Saat kau di sana... apakah ada yang datang berkunjung?"

Isabella mengerutkan keningnya. "Maksud Ayah?"

Raja Frederik bersandar di kursinya. "Apakah ada keluarga dari para siswa yang datang berkunjung?"

Isabella berpikir sejenak sebelum menjawab, "Sebagian besar orang tua atau keluarga jarang datang karena aturan akademi cukup ketat, terutama untuk siswa tahun pertama. Hanya Raja Charles yang cukup sering berkunjung. Selain itu, para tamu harus memiliki izin langsung darinya untuk bisa datang."

Raja Frederik tampak berpikir. Ia menyusuri raut wajah Isabella seolah mencari kepastian di sana. Setelah beberapa detik hening, ia menghela napas.

"Baiklah, aku mengerti."

Merasa bahwa pembicaraan akan segera berakhir, Isabella memutuskan untuk tidak berlama-lama. Ia bangkit dari duduknya dan memberi hormat.

"Jika tidak ada hal lain, aku mohon pamit, Ayah."

Raja Frederik mengangguk, mengisyaratkan bahwa pertemuan mereka telah usai. Isabella berbalik dan berjalan menuju pintu, tetapi sebelum tangannya menyentuh kenop, ia menutup matanya sejenak dan menghela napas panjang.

Dalam hatinya, ia meminta maaf.

Karena dalam pertemuan ini, ia telah menyembunyikan kebenaran. Tentang seseorang yang datang ke St. Britannia atas izin dari Raja Charles. Tentang pamannya, Hendrik Henk, yang muncul tiba-tiba, membawa keterkejutan bagi dirinya dan Jay. Jika ia jujur, maka Jay pun tak akan tinggal diam. Sebab, Jay pun menyembunyikan rahasianya—tentang perkelahian Isabella di akademi.

7 PRINCESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang