Chapter 40: Antara Cahaya dan Kegelapan

31 2 0
                                        

Langit malam membentang luas di atas Akademi St. Britannia. Udara dingin menyusup melewati jendela yang sedikit terbuka, membawa aroma khas rerumputan yang masih lembap setelah embun turun. Di dalam kamar asrama yang diterangi cahaya lampu minyak, Luca duduk di hadapan kanvasnya, jemarinya memegang kuas dengan ringan. Warna-warna lembut mulai membentuk sketsa pemandangan malam dari jendelanya—sebuah lanskap akademi yang tampak tenang di bawah cahaya bulan.

Tiba-tiba, suara ketukan terdengar dari pintu. Luca menghentikan gerakan kuasnya dan menoleh. Dengan sedikit heran, ia meletakkan kuas ke dalam wadah air, bangkit dari kursinya, dan berjalan ke pintu. Begitu ia membukanya, sosok Nicolas berdiri di sana, mengenakan kemeja tidur longgar berwarna putih gading dan celana panjang berbahan ringan yang cocok untuk tidur.

Luca mengangkat alis. "Nicolas?"

Nicolas tampak sedikit ragu sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Aku mengganggumu?"

Luca menggeleng. "Tidak, aku hanya sedang melukis. Masuklah."

Nicolas melangkah masuk, matanya langsung tertuju pada kanvas yang belum selesai. Ia memperhatikan sapuan warna yang membentuk bayangan atap akademi dengan langit malam sebagai latarnya. 

"Kau melukis?"

"Ya," jawab Luca santai, kembali mengambil tempat duduknya. "Pemandangan dari sini bagus. Aku ingin mengabadikannya."

Nicolas berjalan lebih dekat, menatap lukisan itu dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ia lalu melangkah menuju balkon kamar Luca dan membuka pintunya. Angin malam yang sejuk langsung menyapa wajahnya. Dari balkon, pemandangan yang tersaji memang jauh lebih indah dibandingkan dari kamarnya sendiri. Lampu-lampu di sekitar akademi menyala redup, menciptakan siluet bangunan yang megah. Hamparan pepohonan di kejauhan bergoyang pelan tertiup angin malam, menciptakan suasana yang begitu damai.

"Memang bagus," gumam Nicolas, tangannya bertumpu pada pagar balkon.

Luca mendekat dan menyandarkan bahunya di pintu balkon. "Jadi, ada apa? Kau datang ke sini karena sesuatu?"

Nicolas tetap menatap ke luar, suaranya terdengar tenang. "Aku tidak bisa tidur. Kupikir, mungkin aku bisa mampir ke sini dan mengobrol denganmu."

Luca menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil. "Jadi, kau butuh teman bicara?"

Nicolas mengangguk, masih enggan melepaskan pandangannya dari panorama malam. "Aku baru menyadari sesuatu... Aku belum punya teman di sini. Aku hanya mengenalmu dan Matthias, dan entah kenapa, aku merasa sedikit terisolasi."

Luca tertawa kecil. "Itu karena kau belum terbiasa. Aku juga merasa asing pada awalnya, tapi lama-kelamaan akan terbiasa."

Nicolas akhirnya menoleh ke arah Luca, matanya yang tajam sedikit melembut. "Kau selalu setenang ini?"

Luca tersenyum sambil mengangkat bahu. "Mungkin. Aku tidak terlalu banyak berpikir. Jika ada sesuatu yang menggangguku, aku menuangkannya dalam lukisan."

Nicolas memandangi lukisan setengah jadi yang masih berada di atas meja. "Lukisanmu mencerminkan kedamaian. Itu sesuatu yang jarang kumiliki."

Luca menatap Nicolas dengan sedikit penasaran. "Kau orang yang berpikir terlalu dalam, ya?"

Nicolas menghela napas panjang sebelum menjawab, "Aku tidak bisa menahannya. Politik, sejarah, status... semuanya membuatku selalu berpikir."

Luca kembali duduk, mengambil kuasnya, dan mulai menggoreskan warna baru di atas kanvas. "Kau mungkin perlu sesuatu untuk menenangkan pikiranmu. Lukisan bisa jadi pilihan yang bagus."

Nicolas tersenyum tipis, lalu berjalan kembali ke dalam kamar. "Aku tidak pandai melukis."

Luca menatapnya dengan tatapan jahil. "Mungkin aku bisa mengajarimu."

7 PRINCESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang