Chapter 17: Bayang-Bayang dan Kekhawatiran

166 8 0
                                        

Di siang hari yang cerah, sinar matahari memancarkan kehangatan melalui jendela-jendela besar ruang pertemuan Istana Lunar, menciptakan kilauan emas di atas lantai marmer yang berkilau. Suasana ruangan megah itu, dengan dinding-dinding yang dihiasi lukisan sejarah dan ukiran kayu halus, selalu menjadi saksi bisu dari peristiwa-peristiwa penting kerajaan. Hari itu, meski tampak tenang dari luar, ada getaran kecemasan yang mulai menyelinap di antara kerumunan pejabat istana.

Tiba-tiba, pintu ruang pertemuan terbuka perlahan dan seorang pemberi pesan melangkah masuk. Pria itu berpakaian rapi dengan jas panjang berwarna biru tua, dihiasi aksen emas yang memantulkan kemegahan istana. Dengan langkah pasti, ia mendekati meja besar yang dipenuhi dokumen-dokumen kerajaan, membawa secarik surat yang tampak usang namun sarat makna. Wajahnya yang serius mencerminkan bahwa pesan yang dibawanya tidak biasa.

Dengan suara yang tenang namun penuh otoritas, pria itu berkata, "Yang Mulia, aku datang untuk menyampaikan kabar penting: 'orang itu' telah kembali." Kalimat sederhana itu seketika menggema di seluruh ruangan, membuat setiap mata di sekelilingnya tertuju pada sang pemberi pesan. Setiap kata terdengar seperti petunjuk rahasia yang telah lama dinantikan, memicu keingintahuan sekaligus kekhawatiran.

Mendengar pengumuman itu, Raja Frederik segera mengerutkan dahi. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi kekhawatiran. Matanya menyipit, memperhatikan setiap detail di sekitar, seolah mencoba mencari-cari makna di balik pesan singkat itu. Kerutan mulai muncul di dahinya, dan tangan gemetar sedikit saat ia meraih surat tersebut untuk membacanya.

Bacaan pesan itu seakan menggantung di udara, menyisakan keheningan yang mencekam. Raja Frederik mengangguk perlahan, meskipun tidak banyak kata yang diucapkan, ia telah jelas mengerti bahwa hal ini bukanlah hal sepele. Ia merasa cemas dan tertekan, terutama karena ia tahu bahwa kedua pewaris yang sangat dinantikan, Jay dan Isabella, saat ini sedang menempuh pendidikan di St. Britannia Academy dan belum kembali ke istana.

Di balik kesan kemegahan ruangan, Raja Frederik terlihat duduk dengan punggung tegak namun wajahnya menyimpan kegelisahan yang mendalam. Ia mengirimkan tatapan penuh makna ke arah para penasihat yang duduk di sekelilingnya, seolah memberi isyarat bahwa pesan ini akan berdampak besar pada kondisi kerajaan. Suasana ruangan sejenak berubah menjadi serius, setiap detik terasa berat dengan implikasi dari pesan tersebut.

Sang pemberi pesan, yang kini telah mengakhiri penyampaiannya, berdiri tegap di samping meja, menunggu instruksi lebih lanjut dari Raja Frederik. Di antara hembusan angin lembut yang masuk melalui celah jendela, suasana istana terasa seperti tengah menunggu momen krusial—sesuatu yang mungkin akan mengubah arah kebijakan dan masa depan kerajaan Lunar.

Akhirnya, dengan suara serak yang penuh tekad, Raja Frederik mengangkat tangannya seolah memberi perintah tak terucap. "Cari tahu lebih lanjut tentang 'orang itu'," bisiknya kepada penasihat terdekatnya. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa kembalinya sosok misterius itu bisa berarti banyak hal, terutama jika Jay dan Isabella belum kembali. Pesan itu menjadi pertanda bahwa ada sesuatu yang mendesak dan besar sedang terjadi, dan Raja Frederik siap untuk mencari kebenaran di baliknya.

— 7 PRINCES —

Di luar istana Lunar, di sebuah hutan kecil yang mengelilingi halaman kerajaan, suasana dipenuhi oleh suara derap langkah dan riuh rendah anak-anak bangsawan yang tengah berlatih memanah. Udara sejuk pasca hujan masih terasa menyegarkan, sementara cahaya matahari menembus celah-celah dedaunan, menciptakan pola-pola bayangan yang bergerak di atas tanah berbatu. Suasana alami ini memberikan kontras yang indah dengan kekakuan latihan militer yang biasa mereka jalani.

Di tengah-tengah keramaian itu, Luca dan Matthias tampak fokus pada target mereka. Luca, dengan rambut pirang yang selalu tertata rapi, mengenakan kemeja linen putih lengan panjang yang digulung hingga siku, serta celana panjang hitam dari wol berkualitas. Sepatu bot kulit hitamnya telah berdebu setelah seharian berjalan di jalan setapak berbatu. Ia berdiri dengan penuh semangat, menarik busurnya dan melepaskan panah dengan gerakan yang cukup presisi.

Tak jauh dari Luca, Matthias, dengan rambut cokelat terang yang dipotong rapi, juga tengah asyik berlatih. Ia mengenakan seragam latihan yang mirip, namun rompinya berwarna abu-abu dengan aksen emas dan kancing perak, menonjolkan sisi formal meski dalam suasana santai latihan. Walaupun ia tampak tenang, ada kerutan kecil di dahinya yang menandakan kekhawatiran tersembunyi, seolah merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

Tiba-tiba, beberapa pengawal istana muncul dari balik pepohonan, mengenakan seragam resmi berwarna hitam dengan aksen emas dan perisai kecil yang terpampang di dada. Langkah mereka cepat dan tegas, menembus keheningan latihan dengan perintah yang tak bisa diabaikan.

"Kalian, segera kembali ke dalam istana!" teriak salah satu dari mereka dengan nada otoritatif.

Luca berhenti di tempatnya, keningnya berkerut karena perintah mendadak itu. "Kenapa harus segera kembali? Kami masih dalam sesi latihan," gumamnya dengan nada penuh keberatan, berharap bisa melanjutkan latihan memanah yang baru saja membuatnya merasa hidup.

Di sisi lain, Matthias menyaksikan dengan pandangan yang lebih serius. Ia tahu, meski latihan itu sangat penting, ada sesuatu dalam intonasi pengawal yang membuatnya merasakan adanya situasi mendesak di istana. "Mungkin ada hal lain yang harus kita ketahui," bisiknya pelan kepada Luca, yang tampak ragu dan enggan meninggalkan arena latihan.

Melihat kebimbangan saudaranya, Matthias dengan cepat mengajukan alibi. "Luca, ayo ikut aku ke ruang seni di dalam istana. Aku ingin belajar teknik melukis darimu—aku butuh bantuan untuk mengasah kemampuan itu." Ucapnya dengan nada santai namun meyakinkan, seolah mengalihkan perhatian dari perintah mendadak pengawal.

Luca mengerutkan alisnya, tampak masih ingin menyelesaikan sesi latihannya. "Aku belum selesai, dan jujur saja, aku belum merasa lelah," jawabnya sambil menggenggam busurnya. Namun, wajahnya menunjukkan keraguan di antara keinginan untuk terus berlatih dan rasa tanggung jawab atas perintah yang diberikan.

Matthias menatap Luca dengan mata yang penuh pengertian, seolah membaca perasaan saudaranya. "Percayalah, ada sesuatu yang lebih penting saat ini. Kalau kau bersedia mengajar sedikit tentang melukis, aku akan membantumu memahami seni itu. Aku janji, ini hanya sementara," ujarnya sambil tersenyum, mencoba melonggarkan suasana.

Setelah beberapa saat berunding secara diam-diam, akhirnya Luca mengangguk, menyerah pada pendekatan Matthias. Mereka pun bersama-sama meninggalkan lapangan latihan, berjalan menyusuri jalan setapak menuju pintu masuk istana. Dalam hati, Luca masih merasa keberatan karena meninggalkan latihan, namun tekad Matthias dan perasaan bahwa ada hal yang sedang terjadi di istana membuatnya memutuskan untuk mengikuti perintah.

Mereka masuk ke dalam istana, menyusuri lorong-lorong yang dihiasi dengan ukiran-ukiran halus dan lampu-lampu gantung yang menggantung megah. Di balik wajah formal para pengawal, terbersit keprihatinan yang membuat kedua pangeran itu merasa bahwa perintah mendadak tersebut bukan hanya soal latihan, melainkan ada rahasia atau peristiwa penting yang sedang terjadi di istana Lunar.

7 PRINCESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang