Di dalam istana Ravellion yang megah, Raja Charles tengah mengadakan rapat rahasia bersama para menterinya. Di ruangan yang diterangi cahaya lilin dan dihiasi lambang kebesaran kerajaan, Raja Charles duduk di kursi singgasananya dengan ekspresi tajam dan penuh perhitungan.
"Bagaimana hasilnya?" tanyanya dengan nada dingin, menatap para menteri yang berdiri di sekeliling meja besar.
Salah satu menteri, seorang pria tua dengan janggut kelabu, berdeham sebelum berbicara. "Yang Mulia, kami telah mencoba segala cara untuk mencabut hak asesi Theodore Ashford, tetapi ada peraturan kerajaan yang tidak bisa diubah begitu saja. Hak pewarisannya telah ditetapkan oleh raja sebelumnya dan tidak dapat diganggu gugat tanpa alasan yang kuat."
Wajah Charles mengeras. "Omong kosong! Aku ini raja Ravellion! Tidak adakah celah hukum yang bisa kita manfaatkan?" Nada suaranya mulai meninggi.
Seorang menteri lain, yang lebih muda dan tampak lebih berani, melangkah maju. "Kami sedang mencari cara untuk merombak undang-undang kerajaan, tetapi prosesnya membutuhkan waktu. Jika kami bertindak gegabah, para bangsawan dan rakyat bisa mencurigai adanya permainan kotor."
Charles mengepalkan tangannya di atas meja. "Percuma aku menjadi raja jika Theodore tetap memiliki hak atas takhta! Aku ingin namanya benar-benar dihapus dari Ravellion. Tidak boleh ada jejak yang tersisa. Dia tidak boleh memiliki hak apa pun di kerajaan ini!"
Para menteri saling bertukar pandang, mengetahui bahwa ambisi Raja Charles semakin berbahaya. Mereka harus berhati-hati dalam menjalankan perintah ini, karena satu kesalahan saja bisa berakibat fatal bagi posisi mereka sendiri.
Charles menghela napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya. "Aku tidak peduli bagaimana caranya. Aku ingin hasil sebelum tahun ini berakhir. Theodore harus lenyap dari sejarah Ravellion. Jika kalian tidak bisa menyelesaikan ini, maka aku akan mencari orang lain yang mampu."
Ruangan itu jatuh dalam keheningan tegang. Para menteri mengangguk patuh, meski di dalam hati mereka bertanya-tanya, seberapa jauh lagi Raja Charles akan melangkah demi mempertahankan kekuasaannya?
Setelah meninggalkan ruang pertemuan dengan para menteri, Raja Charles melangkah menuju ruang pribadinya dengan geram yang masih membara. Sepanjang perjalanan menyusuri koridor megah istana Ravellion, derap langkahnya terdengar tegas, mencerminkan kegelisahan dan amarah yang bergolak dalam dirinya. Para pelayan yang berpapasan dengannya segera menundukkan kepala dalam-dalam, enggan menarik perhatian atau bahkan sekadar bernapas terlalu keras di dekatnya.
Saat memasuki ruangannya, ia menutup pintu dengan kasar. Derak kayu yang bergema dalam ruangan seakan menjadi saksi betapa berat beban yang kini menggelayut di pikirannya. Ia melepaskan mantel kebesarannya dan melemparkannya ke kursi dekat perapian. Tanpa menunggu lebih lama, ia duduk di kursi kerjanya, kepalanya bersandar pada sandaran kayu yang dingin.
Tangannya terkepal di atas meja. Tidak ada jalan keluar. Menyingkirkan Theodore bukanlah perkara mudah, bahkan dengan kekuasaan yang ia genggam. Hukum kerajaan Ravellion tidak semudah itu diubah, terutama dalam hal pewarisan takhta. Jika ia bertindak gegabah, para bangsawan dan rakyat bisa mulai mempertanyakan keabsahannya sebagai raja. Sebuah pemikiran yang semakin menyulut emosinya.
"Sial!" bentaknya, meninju permukaan meja hingga tinta dalam botol kecil terguncang sedikit. Ia tidak ingin Ravellion terus berada dalam kendali keluarga Ashford. Itu adalah ambisi yang telah ia genggam sejak lama. Mengorbankan Edmund adalah salah satu langkah awal yang ia ambil demi mengamankan posisi ini. Namun kini, Theodore masih berdiri sebagai penghalang terbesar. Ia tidak ingin mengotori tangannya sendiri lagi. Tidak untuk ponakannya sendiri. Jika Sebastian tahu, putranya pasti akan kecewa.
Ia meremas pelipisnya, mencoba meredakan denyut di kepalanya. Pikirannya berputar mencari jalan keluar, namun semuanya menemui jalan buntu. Ia menutup matanya sesaat, mengatur napas. Lalu, sekelebat ingatan lama menghantamnya tanpa peringatan. Sebuah bayangan yang sudah lama ia kubur dalam-dalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
7 PRINCES
RomanceDi Tanah Aurion, perang telah mereda, tetapi bayang-bayangnya masih mengintai di setiap sudut istana. Dendam lama belum terkubur, dan rahasia yang telah lama disembunyikan mulai terungkap sedikit demi sedikit. Sebastian Whitmore dan Theodore Ashford...
