Chapter 46: Le Silence des Loyaux

31 4 0
                                        

Mentari pagi menyusup masuk dari celah-celah jendela kaca patri di sisi timur istana Ravellion, melukis lantai marmer dengan semburat cahaya keemasan. Aroma roti panggang dan teh hitam yang mengepul telah memenuhi udara, menandakan waktu sarapan hampir tiba. Para pelayan bergerak lincah, menyiapkan hidangan di ruang makan kerajaan yang megah, dengan peralatan perak yang telah mengilap dan serbet-serbet linen berwarna gading yang terlipat sempurna.

Langkah Raja Charles menggema di sepanjang koridor. Sepatu kulit hitam menginjak karpet Persia yang terhampar luas, menambah kesan angkuh dari sosok penguasa Ravellion itu. Ia mengenakan jubah pagi berwarna marun tua dengan aksen emas di tepian, dan rambut peraknya disisir rapi ke belakang. Wajahnya tenang, matanya menatap lurus ke depan tanpa ragu, seolah tidak ada satu pun urusan kerajaan yang mampu menggoyahkan keteguhannya.

Namun ketenangan itu seketika terusik.

"Yang Mulia!"

Langkah kaki yang tergesa datang dari arah berlawanan. Seorang ajudan muda dengan napas tersengal menghampiri, menggenggam gulungan kertas yang belum sempat dirapikan.

Raja Charles mengangkat alis, menatap ajudan itu dengan pandangan yang nyaris tajam. "Ada apa pagi-pagi begini?"

"Surat kabar dari Akademi St. Britannia baru saja tiba, Yang Mulia. Daftar sepuluh besar siswa tingkat dua telah diumumkan."

Sorot mata Charles sedikit melunak. Ia mengambil gulungan kertas itu dengan tenang, bahkan sempat melirik jam kantung emas di balik jubahnya. "Sudah waktunya," gumamnya. "Sebastian tentu berada di posisi pertama."

Ajudan itu menelan ludah, tampak ragu.

Raja membuka gulungan tersebut perlahan. Matanya menelusuri deretan nama dan angka yang tertulis rapi dalam tinta hitam. Lalu matanya terhenti. Kerutan tipis muncul di antara alisnya.

"Theodore Ashford... peringkat pertama?"

Suara Charles tidak meninggi, tapi ada nada yang merambat pelan seperti badai yang tengah bertahan di ufuk. Ajudan itu menunduk, tidak berani menatap sang raja secara langsung.

"Dan Sebastian?" lanjutnya.

"...Peringkat ketiga, Yang Mulia."

Hening mencengkeram koridor itu sesaat.

Charles tidak berkata apa pun. Hanya napasnya yang mulai berat, ditahan dengan keteguhan khas seorang raja yang enggan memperlihatkan kekecewaannya di hadapan bawahan.

Ia menggulung kembali kertas itu dan menyerahkannya pada ajudan. "Utus seseorang ke akademi. Beritahukan pada Komandan Philip, kita akan meninjau ulang strategi pelatihan untuk kelompok itu. Percepat persiapan militer menjadi besok hari."

"Baik, Yang Mulia."

Ajudan itu membungkuk dan segera melesat pergi.

Sementara itu, Raja Charles melanjutkan langkahnya menuju ruang makan. Tapi kali ini, bayangan tubuhnya tampak lebih berat, lebih lambat, seperti tertahan oleh beban pikiran yang tak ia ungkapkan.

Ketika pintu ruang makan dibuka, aroma rempah hangat langsung menyambut. Pelayan membungkuk dalam diam, lalu menutup pintu kembali. Charles berjalan menuju kursi utama di ujung meja panjang, duduk perlahan sambil menatap kosong pada piring-piring perak yang terhidang rapi.

Kepalanya dipalingkan ke jendela. Burung-burung berkicau di luar sana. Musim gugur telah datang, dedaunan kuning jatuh perlahan di taman kerajaan.

"Theodore..."

Sebuah nama yang ia ucapkan lirih. Bibirnya menipis, jemarinya mengetuk meja tanpa irama.

Dalam diam, ia mulai mengingat kembali pertemuan terakhirnya dengan Theodore. Anak itu tumbuh di bawah bayang-bayang pembunuhan, dendam, dan istana yang penuh muslihat. Namun sekarang, namanya tercatat di posisi puncak.

7 PRINCESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang