"Ayah!"
Suara Jay menggema di seluruh halaman, mengundang perhatian hampir setiap orang yang ada di sekitar. Keheningan mendadak menyelimuti udara saat siswa dan staf akademi menyaksikan kejadian yang tidak terduga ini. Semua orang tahu bahwa Jay adalah putra Raja Frederik. Namun, pria yang kini berdiri di depan gerbang bukanlah Raja Lunar.
Tatapan bingung dan bisik-bisik mulai terdengar di antara siswa. Beberapa dari mereka bahkan saling bertukar pandang, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Para pengawas akademi tampak tegang, sementara beberapa bangsawan yang mengenal Jay mulai menyadari sesuatu yang ganjil.
Jay sendiri tidak memperhatikan itu semua. Matanya hanya tertuju pada pria di hadapannya. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah maju, tetapi tubuhnya masih gemetar karena adrenalin.
Di taman akademi, Sebastian yang sedang duduk di bangku taman, menggenggam biolanya dengan jemari yang baru saja hendak bergerak untuk menarik senar. Namun, suara teriakan Jay yang menggema di halaman utama membuatnya spontan menghentikan gerakan. Alisnya berkerut dalam kebingungan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Eleanor yang berada di dalam perpustakaan, berusaha fokus membaca bukunya, mulai terusik dengan pergerakan beberapa siswa yang mendekati jendela. Ia menoleh, sempat mengernyit saat melihat sebagian besar dari mereka berbisik-bisik dengan ekspresi penuh keheranan.
Di sisi lain, Isabella yang tidak lagi berada di taman—sebaliknya, ia tengah berjalan menuju perpustakaan untuk mencari Eleanor—mendengar teriakan itu. Saat ia melihat ke arah alun-alun akademi, matanya membulat dan bibirnya terkatup pelan. Dengan nada hampir berbisik, ia berkata, "Paman..." Sebuah panggilan lembut yang tiba-tiba menambah ketegangan di tengah kekacauan yang terjadi.
Tanpa berpikir panjang, Jay berlari ke arah Hendrik. Langkahnya terburu-buru, seolah takut sosok itu akan menghilang jika ia terlambat satu detik saja. Tetapi peraturannya jelas—berlari di area akademi merupakan pelanggaran. Sebelum ia sempat benar-benar mencapai Hendrik, suara tegas menggema di belakangnya.
"Adrian Jay van Rooyen!"
Langkahnya terhentik mendadak. Ia mengenali suara itu—Komandan Philip. Napas Jay masih tersengal saat ia menoleh. Sorot mata komandan itu tajam, menandakan bahwa Jay telah melakukan kesalahan besar. Bisikan di sekitarnya semakin riuh. Ia bisa merasakan jantungnya berdebar kencang, tetapi kali ini bukan karena euforia bertemu ayah kandungnya. Ini lebih dari itu—karena dalam sekejap, semua yang selama ini ia sembunyikan di akademi kini perlahan mulai terkuak.
Hendrik melangkah maju, tangan kirinya terangkat seolah ingin menenangkan keadaan. Ia menatap Komandan Philip dengan senyum tipis, sementara tangan kanannya terulur ke arah Jay, memberi isyarat agar putranya mendekat.
"Komandan," ucap Hendrik dengan nada santai, meskipun matanya menyiratkan ketegasan. "Kumohon maklumi tindakan Jay barusan. Bagaimanapun juga, ini pertemuan keluarga. Aku yakin, aturan bisa dikesampingkan sedikit untuk momen seperti ini, bukan?"
Ekspresi Komandan Philip mengeras. Rahangnya mengatup, dan sorot matanya penuh ketidaksenangan. "Dengan segala hormat, Tuan Henk," suaranya tetap tegas, "di dalam akademi ini, semua siswa tunduk pada aturan yang berlaku. Tidak ada pengecualian, termasuk bagi Pangeran Adrian Jay van Rooyen."
Jay menelan ludah, merasakan suasana di antara keduanya semakin tegang. Ia melirik ke sekeliling. Para siswa yang menyaksikan ini masih menahan napas, tidak ingin melewatkan ketegangan yang memuncak di hadapan mereka.
Hendrik tetap tersenyum, tetapi kali ini ada sedikit ketajaman di dalamnya. "Kau benar-benar disiplin, seperti yang kudengar," gumamnya, sebelum melipat kedua tangannya di depan dada. "Tapi aku datang bukan tanpa izin. Kedatanganku ke St. Britannia telah disetujui oleh Raja Charles."
KAMU SEDANG MEMBACA
7 PRINCES
RomanceDi Tanah Aurion, perang telah mereda, tetapi bayang-bayangnya masih mengintai di setiap sudut istana. Dendam lama belum terkubur, dan rahasia yang telah lama disembunyikan mulai terungkap sedikit demi sedikit. Sebastian Whitmore dan Theodore Ashford...
