Langkah-langkah sepuluh pemuda itu menggema lembut di aula utama St. Britannia. Langit-langit yang menjulang tinggi dengan jendela kaca patri menebarkan cahaya keemasan sore hari ke dinding-dinding batu yang dingin. Mereka adalah sepuluh besar siswa tingkat dua putra—nama-nama yang akhir-akhir ini menghiasi pengumuman hasil evaluasi akademi, dan kini dikumpulkan untuk sebuah pemberitahuan penting yang akan mengubah ritme hari-hari mereka dalam waktu dekat.
Komandan Philip berdiri tegap di depan mimbar utama, mengenakan seragam resminya yang rapi dan penuh lambang kehormatan. Suaranya tenang namun tegas, mengisi ruang dengan wibawa yang membuat semua kepala menoleh dan semua suara menguap.
"Dua hari dari sekarang," ucap Komandan Philip, "kalian akan berangkat dalam program pelatihan intensif. Lokasinya akan diberitahukan nanti malam kepada masing-masing dari kalian secara tertutup. Persiapkan fisik dan mental. Ini bukan permainan. Ini akan jadi pengujian yang menentukan."
Tak seorang pun dari mereka berani menyela. Tak seorang pun dari mereka berani menunjukkan raut ragu. Meski dalam hati, beberapa dari mereka bertanya-tanya apa yang akan menanti.
Begitu pertemuan usai, barisan itu mulai bubar. Sebagian memilih diam, sebagian lagi berbisik pelan pada rekan terdekatnya. Namun di depan pintu aula, atmosfer yang tadinya tegang bergeser menjadi lebih pribadi—dan pedas.
Hugo, dengan rambut cokelat gelap yang ditata rapi dan senyum sinis yang tampak disengaja, melangkah ke sisi Sebastian. Suara langkahnya ringan, tapi perkataannya berbobot tajam.
"Sebastian Whitmore," katanya dengan nada yang hampir terdengar ramah, namun sarat sindiran, "bagaimana rasanya menjadi peringkat ketiga? Kalah dari sepupu sendiri. Itu... cukup ironis, bukan?"
Sebastian berhenti. Sorot matanya tajam, namun bibirnya tetap tertutup rapat. Di balik pupilnya yang gelap, ada kobaran kecil yang menuntut pengendalian.
Namun sebelum ia sempat menjawab, Jasver—yang dikenal lebih lugas dan kasar dalam berbicara—menimpali tanpa ragu.
"Kau itu punya modal, Sebastian. Nama keluarga, keturunan bangsawan, bahkan sejarah darah di belakangmu. Tapi sepertinya semua itu tidak cukup untuk membuatmu berada di atas Theodore, ya?"
Kata-kata itu seperti cambuk. Tajam, dingin, dan tepat sasaran.
Jay, yang sejak tadi berjalan tidak jauh di belakang Sebastian, menghentikan langkahnya. Sorot matanya berubah tajam. Ia maju setengah langkah, berdiri sejajar dengan Sebastian, dan mengangkat suaranya.
"Hugo. Jasver. Kalian berdua pernah menjadi rekan satu tim Sebastian saat praktik medan perang. Kalian tahu betul seberapa besar kontribusinya dalam setiap strategi. Bukankah kalian sendiri yang memuji kemampuan taktisnya saat itu?"
Hugo tertawa pelan, menyilangkan tangan di depan dada. "Apa yang terjadi di lapangan praktik dan di ruang kelas hanya membuktikan bahwa seseorang bisa memainkan peran dengan baik. Tapi dunia nyata lebih kejam, Jay. Penilaian tidak hanya berdasar kecakapan. Tapi hasil. Dan hasilnya?" Ia menoleh dengan ekspresi mengejek ke arah Sebastian. "Nomor tiga."
Jasver menambahkan dengan acuh tak acuh, "Kadang aku merasa kasihan pada Sebastian. Dia terlalu dibebani bayangan kejayaan keluarga Whitmore, tapi tidak pernah benar-benar mampu memenuhi ekspektasi itu."
Wajah Sebastian menegang. Sorot matanya tetap menatap lurus ke depan, tapi rahangnya mengeras. Ia tidak menggertakkan gigi, tapi jelas ada sesuatu yang ditahan dalam dadanya—amarah, mungkin. Atau luka yang tidak ingin ia tunjukkan di hadapan orang lain.
Jay memalingkan pandangannya pada Sebastian, ingin mengatakan sesuatu, namun ia tahu ini bukan saatnya. Sebastian adalah tipe yang lebih suka menanggung segala sesuatu dalam diam. Tapi kali ini, Jay merasakan—lebih kuat dari sebelumnya—bahwa diam itu hampir meledak.
KAMU SEDANG MEMBACA
7 PRINCES
RomantizmDi Tanah Aurion, perang telah mereda, tetapi bayang-bayangnya masih mengintai di setiap sudut istana. Dendam lama belum terkubur, dan rahasia yang telah lama disembunyikan mulai terungkap sedikit demi sedikit. Sebastian Whitmore dan Theodore Ashford...
