Langit subuh di atas St. Britannia masih berwarna biru pucat yang nyaris keperakan, dengan semburat jingga tipis di ufuk timur yang perlahan mulai bangkit. Udara terasa dingin, namun tidak menusuk, justru membawa ketenangan yang lembut bagi siapa pun yang terjaga di jam-jam sunyi itu. Dari kejauhan, terdengar kicauan burung pertama yang menyambut pagi, suaranya halus seperti bisikan yang mengalun di antara pepohonan taman akademi. Cahaya matahari belum sepenuhnya hadir, hanya menyisakan pantulan lembut yang menembus jendela-jendela tinggi asrama putri. Suasana itu begitu tenang, seolah dunia masih belum sepenuhnya terbangun dari tidurnya.
Di dalam ruang santai asrama putri, keheningan subuh terasa lebih hangat. Perapian kecil di sudut ruangan masih menyala pelan, menyisakan bara merah yang memancarkan cahaya temaram. Karpet tebal berwarna krem membentang di lantai, menyerap setiap langkah kaki sehingga tidak ada suara yang mengganggu ketenangan. Kursi-kursi empuk dengan kain beludru tersusun rapi mengelilingi meja rendah dari kayu mahoni. Di atas meja itu, sebuah teko porselen putih mengeluarkan uap tipis, menandakan teh hangat baru saja diseduh.
Isabella duduk dengan anggun di salah satu kursi, tubuhnya dibalut gaun tidur panjang berwarna biru pucat yang lembut seperti kabut pagi. Kainnya jatuh ringan mengikuti lekuk tubuhnya, dengan renda halus di bagian lengan yang menambah kesan elegan. Rambut pirangnya terurai bebas, sedikit bergelombang di ujungnya, seolah belum sepenuhnya dirapikan setelah bangun tidur. Wajahnya terlihat segar, namun matanya masih menyimpan sisa kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Ia memegang cangkir teh dengan kedua tangan, membiarkan hangatnya meresap ke telapak tangannya.
Di hadapannya, Eleanor duduk dengan posisi yang jauh lebih santai. Ia mengenakan gaun tidur berwarna gading dengan pita kecil di bagian leher, tampak sederhana namun tetap anggun. Rambut platinumnya diikat longgar ke belakang, beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang tenang. Sebuah buku tebal terbuka di tangannya, matanya bergerak pelan mengikuti baris demi baris tulisan di dalamnya. Ia tampak tenggelam dalam bacaannya, seolah dunia di sekitarnya tidak memiliki arti.
Suasana itu bertahan beberapa saat, hanya diisi oleh suara halaman buku yang sesekali dibalik dan denting halus porselen saat Isabella menggeser cangkirnya. Hingga tiba-tiba, tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang dibacanya, Eleanor membuka suara. Nada suaranya tenang, hampir datar, namun cukup untuk memecah keheningan subuh yang rapuh.
"Jadi... apa yang membuatmu terus memikirkan si pewaris itu?"
Kalimat itu menggantung di udara seperti kabut tipis yang tiba-tiba muncul di tengah ruangan. Isabella yang baru saja mengangkat cangkir tehnya berhenti di tengah gerakan. Uap hangat masih mengepul dari permukaan teh, namun ia tidak jadi meminumnya. Matanya sedikit membesar, bukan karena terkejut sepenuhnya, melainkan karena pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba dan tanpa peringatan.
Ia menatap Eleanor, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar. Namun Eleanor tetap pada posisinya, matanya masih terpaku pada buku, seakan pertanyaan itu hanya bagian kecil dari pikirannya yang ia keluarkan tanpa usaha. Tidak ada ekspresi khusus di wajahnya, tidak ada rasa ingin tahu yang berlebihan. Justru ketenangannya itulah yang membuat pertanyaan itu terasa lebih tajam.
Isabella menurunkan cangkirnya perlahan, suara porselen yang bersentuhan dengan tatakan terdengar lembut namun jelas. Ia menarik napas kecil, mencoba merangkai jawaban di dalam kepalanya. Wajahnya berubah sedikit serius, meski tidak sepenuhnya tegang. Ia membuka mulut, siap menjawab—
Namun sebelum satu kata pun keluar, pintu ruang santai terbuka perlahan.
Suara engsel yang berderit halus menarik perhatian keduanya. Seorang putri dari asrama masuk dengan langkah ringan, rambutnya masih sedikit berantakan seperti baru bangun tidur. Ia mengenakan gaun tidur berwarna merah muda lembut, dengan selendang tipis yang disampirkan di bahunya. Wajahnya cerah, penuh rasa ingin tahu yang belum teredam oleh pagi. Matanya langsung menangkap keberadaan Isabella dan Eleanor yang duduk berhadapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
7 PRINCES
Historical FictionDi Tanah Aurion, perang telah mereda, tetapi bayang-bayangnya masih mengintai di setiap sudut istana. Dendam lama belum terkubur, dan rahasia yang telah lama disembunyikan mulai terungkap sedikit demi sedikit. Sebastian Whitmore dan Theodore Ashford...
