Pada pagi yang cerah di St. Britannia Academy, Louis berjalan bersama teman-temannya menuju gedung kelas mereka. Langkah mereka mantap di atas lantai marmer akademi yang dingin, sembari bercakap-cakap ringan tentang harapan mereka di tahun ajaran baru.
Di antara mereka, ada Vlad Pavel, seorang putra Adipati dari wilayah timur, yang terkenal dengan kepandaiannya dalam strategi perang. Ada pula Roderic Anteros, pemuda berambut gelap dengan pembawaan serius, berasal dari keluarga marquess yang memiliki hubungan erat dengan Kekaisaran Althera. Daniel Dimitry, putra dari seorang earl, dikenal paling santai di antara mereka, sering kali membawa humor dalam setiap percakapan. Terakhir, Stephan Diego, anak dari keluarga baron yang baru naik status beberapa dekade lalu, tetapi memiliki semangat tinggi dalam membuktikan dirinya.
Ketika mereka melewati pintu besar aula yang tertutup, Louis berhenti sejenak. Tatapannya tertuju pada ukiran lambang akademi di atas pintu, seolah tengah memikirkan sesuatu.
"Hari ini anak-anak baru ada di aula, kan?" tanya Louis dengan nada datar, tetapi tetap memperlihatkan rasa ingin tahunya.
Vlad, yang berjalan di sampingnya, mengangguk tanpa menghentikan langkahnya. "Iya, sudah semestinya begitu. Harus di aula dulu, baru ke kelas masing-masing."
Louis masih diam beberapa saat, mendengarkan percakapan teman-temannya yang kembali mengalir dengan ringan. Namun, pikirannya sedikit terganggu. Ia mengingat sesuatu, meskipun belum dapat menjelaskan dengan jelas apa yang membuatnya tertarik dengan fakta bahwa para tingkat satu sedang berkumpul di aula.
Daniel menepuk bahunya, membuat Louis kembali fokus. "Hei, jangan bilang kau penasaran dengan anak-anak baru?" tanya Daniel.
Louis mendengus kecil, lalu kembali melangkah bersama mereka. "Aku hanya memastikan," katanya.
"Ah, tentu saja," sahut Roderic dengan nada menggoda. "Kau pasti ingin melihat apakah ada wajah baru yang menarik di antara mereka."
Louis tidak menanggapi, hanya terus berjalan dengan tenang menuju gedung kelas mereka. Setiap tingkatan di akademi memang memiliki gedung kelas yang berbeda, itulah sebabnya interaksi antara senior dan junior tidak terlalu sering terjadi di lingkungan akademi, kecuali dalam acara-acara tertentu.
— 7 PRINCES —
Ruangan kelas tingkatan kedua di St. Britannia Academy dipenuhi oleh para murid yang baru kembali dari liburan musim panas. Langit-langit tinggi dengan ukiran khas arsitektur klasik mencerminkan kemegahan akademi ini. Jendela-jendela besar di sisi kanan ruangan memancarkan cahaya matahari pagi yang mulai hangat, menyinari meja-meja kayu yang tersusun rapi.
Louis duduk di salah satu bangku barisan tengah, dikelilingi oleh teman-temannya: Vlad Pavel, Roderic Anteros, Daniel Dimitry, dan Stephan Diego. Mereka semua mengenakan seragam akademi yang rapi, jas dengan emblem akademi di dada kiri. Perbincangan di antara mereka tak henti-hentinya mengenai kabar yang telah beredar sebelum semester ini dimulai.
"Jadi, akhirnya kita masuk ke semester ini," ujar Vlad, menyandarkan punggungnya di kursi. "Dan yang paling ditunggu-tunggu adalah pelatihan dengan tentara Ravellion."
Roderic mengangguk, menambahkan, "Hanya sepuluh orang yang bisa lolos. Menurut kalian, siapa saja yang punya kesempatan?"
Stephan menatap mereka satu per satu, lalu menyeringai. "Aku rasa tidak perlu ditebak lagi. Kau sendiri punya peluang besar, Roderic. Dengan nilai fisik dan strategi tempurmu, tidak mungkin kau tidak masuk."
Daniel yang duduk di sebelahnya menimpali, "Jangan lupakan juga Vlad. Sejak awal masuk akademi, dia selalu ada di peringkat atas dalam ujian teori dan praktik."
KAMU SEDANG MEMBACA
7 PRINCES
Historical FictionDi Tanah Aurion, perang telah mereda, tetapi bayang-bayangnya masih mengintai di setiap sudut istana. Dendam lama belum terkubur, dan rahasia yang telah lama disembunyikan mulai terungkap sedikit demi sedikit. Sebastian Whitmore dan Theodore Ashford...
