Chapter 47: Sebelum Pelatihan Dimulai

26 3 0
                                        

Subuh baru saja menyingsing ketika kesepuluh siswa itu berkumpul di lobi utama St. Britannia. Jam menunjukkan pukul lima dini hari, dan udara musim gugur menusuk tajam hingga ke tulang. Lobi yang biasanya ramai oleh suara langkah kaki dan sapaan formal kini terasa asing—sepi, nyaris tak berjiwa, kecuali oleh napas para pemuda yang mengembun dalam balutan mantel tebal dan syal wol yang terlilit erat di leher mereka.

Lampu-lampu minyak tergantung redup dari langit-langit tinggi, memancarkan cahaya kekuningan yang membentuk bayangan panjang di dinding batu. Kabut tipis merayap di luar jendela kaca besar, menyembunyikan pekarangan depan yang biasanya terang. Tiada suara selain detak waktu dan sesekali helaan napas yang terdengar berat, seolah udara terlalu dingin untuk dihirup utuh.

Jay duduk di salah satu bangku kayu yang menghadap ke arah pintu besar. Tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangan disatukan di antara lutut, saling menggosok mencari kehangatan. Di sebelahnya, Sebastian tampak tenang namun waspada. Bahunya bersandar ringan ke sandaran kursi, matanya menatap lurus ke depan tanpa fokus yang jelas. Ia tak berkata apa-apa, namun dari kerut kecil di dahinya, jelas ia sedang menimbang sesuatu di kepalanya.

Theodore berdiri tak jauh dari mereka. Bahunya tegap, namun jemarinya yang bersarung kulit tampak bergerak resah, seolah menyimpan gelisah yang tidak ingin ia tunjukkan. Tatapannya tidak mengarah pada siapa pun, hanya menyapu lorong dan kaca jendela yang memantulkan wajahnya dalam kabur.

Tiba-tiba, tanpa aba-aba, ia membuka suara. "Aku pamit sebentar," ucapnya pelan. Suaranya tenang, tapi mengandung nada yang tidak menunggu jawaban.

Jay menoleh, sedikit bingung. Namun sebelum sempat bertanya, Theodore sudah melangkah pergi, mantel panjangnya mengepak ringan saat ia menyibak tirai udara pagi yang membeku. Ia memilih pintu samping, yang biasa digunakan untuk menuju taman belakang. Tidak satu pun dari mereka sempat mengiyakan kepergiannya.

Sebastian mendesah pelan, lalu menoleh pada Jay. "Dia memang begitu," ujarnya datar. "Kalau ada yang mengganjal, pasti langsung pergi. Tidak pernah bisa duduk diam terlalu lama."

Jay mengangguk perlahan, mencoba mencerna. "Oh..." sahutnya pendek. Ia tidak terlalu memahami Theodore, dan dari nada Sebastian, ia tahu tidak banyak yang benar-benar memahaminya.

Hening kembali menyelimuti mereka. Dari luar, terdengar samar derik roda gerobak dan langkah kuda penjaga yang sedang berpatroli. Namun di dalam lobi, waktu seperti berhenti. Para siswa lain masih diam di tempat masing-masing—ada yang bersandar, ada yang duduk termenung, dan beberapa mulai menguap tanpa malu-malu. Belum ada tanda-tanda kereta jemputan yang dijanjikan akan tiba.

Jay menyandarkan punggungnya pada bangku, mengalihkan pandangannya pada nyala lampu yang bergetar pelan tertiup angin. Entah mengapa, dalam diam yang seperti ini, perasaan cemas justru terasa lebih jelas. Bukan karena dingin, bukan pula karena tempat pelatihan yang menanti... melainkan karena ada sesuatu yang belum terungkap—sesuatu yang tersimpan di balik langkah Theodore yang mendadak, dan sorot mata Sebastian yang tak pernah sepenuhnya bisa ditebak.

— 7 PRINCES —

Udara masih membekukan langit kala Theodore menyusuri taman belakang akademi. Kabut pagi belum surut, mengalir lembut di atas rerumputan yang basah oleh embun, seperti lapisan perak yang menutupi bumi. Ia melangkah cepat, mantelnya berkibar tertiup angin. Wajahnya datar, tak menyiratkan tujuan yang sebenarnya, karena taman ini bukan tempat yang hendak ia datangi. Taman hanya sebuah peralihan, jalur semu untuk menutupi arah langkahnya yang sesungguhnya.

Begitu keluar dari pelataran taman, ia segera berbelok masuk ke koridor sunyi yang mengarah ke perpustakaan. Langkahnya teratur dan tenang, seolah ini hanyalah rutinitas biasa, namun dalam benaknya bergemuruh satu hal yang belum sempat ia selesaikan. Dalam saku bagian dalam mantelnya, terselip secarik kertas yang dilipat rapi—surat yang ia tulis semalam, dengan tulisan tangan yang sedikit bergetar namun hati-hati.

7 PRINCESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang