Malam menjelang di St. Britannia Academy, udara terasa lebih dingin dari biasanya, seolah menyiratkan sesuatu yang akan datang. Di koridor asrama, Louis berjalan perlahan, sebuah buku tebal tergenggam erat di tangannya. Buku itu berisi teori dasar mengenai pelatihan perang, sesuatu yang ia pinjam dari perpustakaan beberapa saat lalu. Ia tak tahu pasti apakah dirinya benar-benar bersemangat untuk pelatihan itu atau hanya sekadar ingin memahami lebih jauh tentang apa yang akan dihadapinya dua hari mendatang.
Saat melangkah keluar menuju taman akademi, angin lembut menyambutnya. Cahaya bulan setengah penuh menggantung di langit, menerangi jalan setapak berbatu yang membelah taman menjadi beberapa bagian. Louis menarik napas dalam-dalam. Dia memang tidak terlalu memikirkan pelatihan ini seperti teman-temannya, tapi tetap saja, ada sesuatu di dalam dirinya yang merasa gelisah.
Di tengah keheningan malam, matanya tanpa sengaja menangkap sesosok siluet yang cukup familiar. Seorang pemuda dengan postur tegap berdiri di bawah bayang-bayang pepohonan, tampaknya sedang berbicara dengan seseorang. Louis memicingkan mata, mencoba mengenali sosok itu lebih jelas. Begitu ia sadar bahwa pemuda itu adalah Theodore, tanpa berpikir panjang, ia buru-buru melangkah lebih dekat.
Namun, ketika hampir sampai, langkahnya terhenti. Theodore sedang berbicara dengan seseorang. Louis menyadari bahwa orang itu adalah Jay. Rasa penasaran muncul di benaknya. Dia memilih untuk tetap bersembunyi di balik salah satu pohon besar di sekitar taman, berusaha mendengar percakapan mereka tanpa mengganggu.
Louis tidak bisa menangkap semua isi percakapan mereka, namun ia mendengar sepatah dua patah kata yang cukup menarik perhatiannya.
"Kau terlalu kaku, Theo."
Theodore tidak segera menanggapi. Ada jeda dalam percakapan mereka, seolah-olah Theodore sedang mempertimbangkan sesuatu sebelum menjawab, "Dan kau terlalu santai."
Meski tidak dapat mendengar banyak, Louis melihat bagaimana Jay melangkah pergi dengan bahu sedikit turun, seperti seseorang yang menyimpan beban yang cukup berat di pikirannya.
Saat Jay menghilang di balik gedung akademi, Louis kembali menatap Theodore yang masih berdiri diam, matanya mengikuti sosok Jay yang menjauh. Louis mengernyit. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Apa hubungan di antara mereka berdua?
Namun sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, sesuatu membuatnya terkejut.
"Kau menguping, ya?" Suara Theodore terdengar jelas di tengah kesunyian taman.
Louis tersentak. Theodore berbalik, menatapnya dengan ekspresi datar. Louis merasa sedikit bersalah, tapi lebih dari itu, dia merasa penasaran.
"Aku hanya kebetulan lewat," jawab Louis cepat, berusaha bersikap tenang. "Aku tidak berniat menguping, tapi—"
"Tapi tetap saja mendengar, kan?" potong Theodore, nada suaranya terdengar santai tapi ada ketajaman di dalamnya.
Louis menggaruk tengkuknya, merasa agak canggung. "Aku tidak mendengar semuanya," katanya jujur. "Tapi... kalian terlihat cukup serius."
Theodore tidak menjawab. Ia hanya menghela napas ringan, lalu menatap Louis dengan mata cokelatnya yang seakan menyelidik.
"Jadi, kau mau ke mana malam-malam begini?" tanya Theodore, seolah tidak ingin membahas lebih jauh tentang percakapannya dengan Jay.
Louis mengangkat buku yang ia bawa. "Baru kembali dari perpustakaan," katanya. "Aku pinjam buku tentang pelatihan dasar perang."
Theodore melirik buku itu sekilas. "Apa kau tipe yang tertarik dengan perang?"
Louis mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Teman-temanku lebih antusias dibanding aku. Tapi... aku ingin tahu lebih banyak. Lagipula, tidak ada salahnya belajar, bukan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
7 PRINCES
RomanceDi Tanah Aurion, perang telah mereda, tetapi bayang-bayangnya masih mengintai di setiap sudut istana. Dendam lama belum terkubur, dan rahasia yang telah lama disembunyikan mulai terungkap sedikit demi sedikit. Sebastian Whitmore dan Theodore Ashford...
