Mentari pagi menggantung tenang di langit cerah tanpa awan, menyinari halaman depan istana Althera yang anggun dan berselimut cahaya keemasan. Arsitektur istana memancarkan kemegahan bergaya klasik dengan tiang-tiang marmer putih gading dan jendela lengkung tinggi berukir detail dedaunan. Di kejauhan, puncak-puncak menara istana menjulang bagaikan pena-pena agung yang tengah menuliskan sejarah baru.
Kereta kuda kerajaan berwarna biru tua dengan lambang singa bersayap keemasan di sisinya melambat di depan gerbang utama. Kaca jendela kereta menampakkan sosok Raja Frederik yang duduk tegak, mengenakan mantel panjang berwarna midnight blue dengan bordir perak di kerah dan ujung lengan. Topi bundarnya bertengger rapi di pangkuannya, dan di sisinya tergantung tongkat berkepala singa.
Pintu kereta terbuka, dan sang raja turun dengan anggun. Sepatu bot hitam menginjak permukaan batuan yang disusun rapi, serupa jalan pelataran istana di negeri-negeri dongeng. Matanya yang tajam memindai sekeliling, dan senyum tipis menghiasi wajahnya ketika Raja Frans dan Ratu Elise muncul dari sisi halaman, menyambut tamu istimewa mereka.
Raja Frans, yang mengenakan jubah berwarna abu-abu pucat dengan lapisan dalam biru langit, berjalan mantap sambil membentangkan kedua tangannya. Di sisinya, Ratu Elise mengenakan gaun renda putih mutiara dengan detail ungu muda yang menyapu tanah, rambutnya disanggul tinggi dengan hiasan kristal kecil.
"Selamat datang, sahabat lama," ujar Frans dengan aksen ringan dan hangat, menyambut Frederik dengan pelukan singkat penuh penghormatan.
Frederik membalas dengan anggukan penuh hormat. "Terima kasih atas sambutan hangatnya, Frans, Elise. Aku senang akhirnya bisa mengunjungi Althera lagi setelah sekian lama."
"Sebagaimana kami pun gembira menerima kunjunganmu kembali," timpal Elise lembut. "Kuharap perjalanan tidak membosankan."
"Penuh renungan," jawab Frederik. "Jalan-jalan panjang membuat seseorang berpikir banyak."
Tak lama, para pelayan dengan pakaian formal berwarna krem dan abu muda membimbing mereka menuju taman istana. Deretan pohon cemara pendek dan mawar putih membentuk dinding alami yang anggun. Sebuah paviliun marmer berdiri di tengah taman, dengan meja bulat dari rotan putih dan kursi-kursi yang dilapisi kain linen biru pucat.
Secangkir teh uap mengepul di atas piringan porselen bergaris emas. Wanginya menebar harum—wangi earl grey dengan sentuhan vanila dan bunga lavender. Udara di sekitar mereka hangat lembut, sementara semilir angin menyelipkan nyanyian pelan dari dedaunan dan celoteh burung kutilang di atas dahan.
Mereka duduk, saling melempar pandang dan senyum sebelum memulai obrolan ringan. Elise memulai terlebih dahulu.
"Kami mendengar anak-anak dari beberapa kerajaan sudah berkumpul di akademi. Bagaimana kesan Anda terhadap keadaan ini, Tuan Frederik?"
Frederik mengangkat cangkir teh, menyesap perlahan sebelum menatap mata Elise. "Sungguh melegakan sekaligus menantang. Anak-anak terlihat bahagia, meski aku tahu itu bukan tempat yang mudah."
"Kau benar," sahut Frans. "Anak-anak tumbuh cepat dan dunia juga ikut berubah."
"Benar," sahut Frederik lirih, matanya menerawang pada semesta kecil di taman. "Kadang aku bertanya-tanya, apakah kita terlalu banyak membebankan harapan pada bahu mereka?"
Frans meletakkan cangkirnya, menatap Frederik dalam. "Atau barangkali harapan itulah satu-satunya warisan yang bisa kita titipkan."
Mereka terdiam sejenak, suara angin menggantikan percakapan. Matahari bergerak perlahan di balik cabang pepohonan yang menjuntai. Seekor kupu-kupu putih melayang di antara kelopak bunga lavender, seperti lambang kesunyian yang lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
7 PRINCES
Historical FictionDi Tanah Aurion, perang telah mereda, tetapi bayang-bayangnya masih mengintai di setiap sudut istana. Dendam lama belum terkubur, dan rahasia yang telah lama disembunyikan mulai terungkap sedikit demi sedikit. Sebastian Whitmore dan Theodore Ashford...
