Chapter 16: Nada dan Rahasia

161 13 0
                                        

Setelah dua minggu berlalu di St. Britannia, sore hari di taman akademi tampak begitu menenangkan. Isabella melangkah perlahan di antara jalan setapak berbatu yang diapit oleh semak bunga dan pohon-pohon rimbun. Udara segar dan lembut menyelimuti taman, membawa harum bunga mawar dan melati yang mekar di sudut-sudut tersembunyi.

Isabella, dengan rambut pirang keemasan yang jatuh lembut di bahunya, mengenakan gaun santai yang memancarkan keanggunan alami—berwarna pastel biru muda dengan aksen renda halus berwarna putih dan sentuhan lembut emas di detailnya. Gaun itu jatuh mengalir dengan anggun, menonjolkan siluetnya yang ramping, dan dilengkapi dengan sepasang sandal kulit tipis yang nyaman untuk berjalan di taman. Di tangannya, ia memegang sebuah kipas kecil berwarna emas, sebuah aksesori sederhana namun mencerminkan status bangsawan dari Kerajaan Lunar.

Di sebuah bangku batu antik yang terletak di bawah naungan pohon besar, duduk seorang pemuda dengan penampilan yang tak kalah anggun. Sebastian, dengan rambut pirang yang tersisir rapi namun tampak natural, mengenakan pakaian santai yang menonjolkan kepribadian bangsawan namun tanpa formalitas seragam akademi. Ia mengenakan kemeja linen putih yang longgar dengan lengan yang sedikit digulung, dipadukan dengan rompi berwarna burgundy lembut yang terbuat dari bahan yang nyaman, serta celana panjang dari katun atau wol ringan berwarna gelap. Di pergelangan tangannya, sebuah jam tangan antik kecil menandakan sentuhan tradisional yang dipadukan dengan gaya modern. Di sisi pakaiannya, sebuah lencana kecil berbentuk singa emas masih terpampang, sebagai pengingat akan asal usul bangsawan dari Ravellion yang melekat dalam dirinya.

Ketika Isabella mendekati bangku itu, ia tertarik oleh irama lembut yang mengalun dari biola yang dimainkan dengan penuh perasaan oleh Sebastian. Suara biola itu seakan meresapi keheningan sore, menyatu dengan rintik hujan ringan yang baru saja berhenti.

Tanpa ragu, Isabella mendekat, senyum tipis menghiasi wajahnya. Begitu ia duduk di samping bangku, pandangannya bertemu dengan mata Sebastian yang hangat dan penuh cerita. Suasana itu begitu alami—dua jiwa bangsawan yang sedang menikmati waktu luang di tengah keindahan taman akademi, sejenak melupakan kekakuan kehidupan sekolah.

Saat nada terakhir dari biola mereda, Sebastian perlahan meletakkan busurnya di sampingnya. Udara yang baru saja dibersihkan oleh hujan masih terasa segar, dan senyuman tipis terpancar di wajahnya—seperti kelegaan setelah lama terpendam. Isabella, yang masih terpukau oleh alunan melodi itu, membuka pembicaraan dengan penuh kekaguman.

"Permainanmu sungguh indah, Sebastian," ucap Isabella dengan tulus, matanya yang biru bersinar penuh penghargaan. "Aku bisa merasakan setiap nada yang kau mainkan, seolah-olah biola itu menceritakan sebuah kisah."

Sebastian tersenyum, menatapnya sejenak dengan pandangan yang penuh kehangatan. "Terima kasih, Isabella. Aku harus mengaku, sudah lama sekali aku tak menyentuh biolaku sejak aku masuk akademi. Hanya ketika cuaca seolah mengundang, seperti sekarang, aku merasa terpanggil untuk memainkan lagu-lagu lama."

Isabella tersenyum, tampak tertarik. "Biola itu memiliki suara yang begitu khas. Bolehkah aku tahu lebih banyak tentangnya? Aku selalu terpikat oleh alat musik, terutama biola, yang seolah menyimpan jiwa dari pemiliknya."

Mata Sebastian sejenak mengembun mengenang masa lalu, lalu ia menjawab dengan nada lembut, "Biola ini, sebenarnya, adalah warisan keluarga. Sudah beberapa generasi, alat musik ini menjadi saksi bisu perjalanan dan perjuangan para bangsawan Ravellion. Dibuat dari kayu maple pilihan dengan ukiran halus dari ebony, biola ini pernah dimainkan oleh kakek buyutku—seorang musisi terkemuka di masa itu. Dia percaya bahwa setiap nada yang dihasilkan memiliki kekuatan untuk menyentuh jiwa. Saat hujan turun, seolah-olah alam sendiri ikut bernyanyi, dan aku merasa biola ini pun merespon dengan nada-nada penuh harapan dan kenangan."

7 PRINCESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang