Setelah satu semester penuh mendapatkan pendidikan di St. Britannia, sekarang para siswa mulai berkemas untuk bersiap kembali ke rumah masing-masing. Jay, yang juga sudah merapikan barang-barangnya, berencana menemui Isabella sebelum mereka pulang. Namun, saat ia hendak meminta staf akademi untuk memanggil Isabella di asramanya, sebuah percakapan di lorong membuatnya menghentikan langkah.
"Kau sudah dengar? Isabella dan Reine terlibat perkelahian antar putri di dekat kolam ikan!" bisik seorang siswa dengan nada antusias.
Jay tertegun. Matanya melebar seketika. Perkelahian? Isabella? Tanpa berpikir panjang, ia bergegas menuju kolam ikan yang terletak di taman belakang akademi. Langkahnya cepat, pikirannya dipenuhi kekhawatiran. Meski hubungan mereka tetap sama setelah kedatangan Hendrik ke akademi, rumor tentang siapa penerus takhta Lunar semakin liar. Beberapa mengatakan Isabella hanyalah alat untuk menutupi aib kerajaan, sementara yang lain berpendapat bahwa Jay yang seharusnya menggantikan Raja Frederik. Namun, di balik semua rumor itu, satu hal yang pasti: Isabella adalah adiknya, dan Jay tetap peduli padanya.
Ketika Jay tiba di kolam ikan, yang dilihatnya membuat darahnya mendidih. Isabella dan Reine sedang berkelahi habis-habisan. Rambut mereka saling tertarik, sementara pakaian mereka sudah berantakan. Gaun Isabella kotor, bahkan ada bagian yang sobek di lengannya. Nafas mereka tersengal, dan tatapan mereka penuh amarah. Rosalie berdiri di dekat mereka dengan ekspresi ketakutan, terlihat ingin membantu namun tidak berani bergerak.
"Cukup!" Jay berseru lantang, menghentikan seisi taman.
Namun, baik Isabella maupun Reine tidak menggubrisnya. Isabella mencengkram bahu lawannya dengan kuat, matanya menyala penuh emosi. Reine tak mau kalah, ia membalas dengan mencengkram lengan Isabella dan menariknya ke belakang.
Jay melangkah lebih dekat, lalu tanpa ragu ia menarik Isabella dari pertengkaran itu. Gadis itu memberontak sejenak sebelum akhirnya sadar siapa yang menariknya. Nafasnya masih memburu, dadanya naik turun, tapi begitu melihat ekspresi Jay—campuran antara marah, khawatir, dan kecewa—Isabella akhirnya diam.
Reine menyeka sudut bibirnya yang sedikit berdarah. "Seharusnya dia yang meminta maaf lebih dulu!" katanya ketus.
Jay menatap Isabella, berharap mendapat penjelasan. Namun, Isabella tetap diam, bibirnya terkatup rapat. Hanya ada satu hal yang Jay yakini sekarang—perkelahian ini bukan sekadar masalah sepele, dan apa pun yang terjadi, Isabella tidak akan mengalah begitu saja.
Jay mengembuskan napas tajam, matanya masih tertuju pada Isabella yang berdiri dengan napas memburu. Pakaiannya berantakan, rambutnya kusut, dan wajahnya merah padam karena amarah yang belum surut. Di seberangnya, Reine berdiri dengan kepala tegak, masih berusaha mempertahankan harga dirinya meski ada sedikit goresan di pipinya akibat tarik-menarik tadi.
"Isabella," Jay berusaha menekan emosinya, tangannya mengepal di sisi tubuh. "Kenapa kau berkelahi? Aku butuh penjelasan."
Isabella diam, rahangnya mengeras. Matanya yang masih berkilat karena kemarahan tidak berpaling dari Reine, seolah menantang putri bangsawan itu untuk berkomentar lagi. Jay menghela napas dalam-dalam, lalu menoleh ke Reine yang tampaknya lebih siap bicara.
"Aku tidak punya masalah dengan Putri Isabella," kata Reine dengan nada angkuh. "Aku hanya mengungkapkan pendapatku tentang sesuatu, tapi dia langsung tersulut. Jika ada yang menyulut api di sini, itu bukan aku."
Isabella yang sedari tadi berusaha mengendalikan emosinya akhirnya meledak. "Bukan kau?! Kau pikir aku tidak tahu apa maksud dari ucapanmu?!"
Jay menatap Isabella, menunggu lebih lanjut. Namun, Isabella menggigit bibirnya sejenak, tampak ragu apakah ia harus mengungkapkan semuanya di depan Jay atau tidak. Namun, amarahnya sudah mencapai puncak.
KAMU SEDANG MEMBACA
7 PRINCES
RomanceDi Tanah Aurion, perang telah mereda, tetapi bayang-bayangnya masih mengintai di setiap sudut istana. Dendam lama belum terkubur, dan rahasia yang telah lama disembunyikan mulai terungkap sedikit demi sedikit. Sebastian Whitmore dan Theodore Ashford...
