Chapter 30: Awal Dari Segalanya

129 5 0
                                        

Suara derap kuda terdengar tergesa, menyusuri jalan hutan yang sempit dan berliku. Kereta kuda melaju di bawah langit yang gelap, mengguncang tubuh di dalamnya seiring roda yang menabrak bebatuan. Di dalam kereta itu, Ratu Eleanor mendekap putri kecilnya erat, wajahnya dipenuhi ketakutan. Di hadapannya, Raja Frederik duduk dengan rahang mengeras, tangannya menggenggam pedang seolah bersiap menghadapi sesuatu.

"Kita hampir sampai," ujar Frederik, suaranya penuh kecemasan. "Tetaplah tenang, Anneliese. Aku bersumpah akan melindungimu dan putri kita."

Ratu Anneliese mengangguk, meski ketakutan jelas terpancar dari matanya. Tangannya membelai lembut kepala bayi yang tengah terlelap dalam dekapannya. 

"Frederik, jika sesuatu terjadi... lindungilah dia. Kumohon."

Sebelum sang raja sempat menjawab, suara derap kuda lain terdengar mendekat dengan cepat. Matanya menyipit, berusaha menembus kegelapan. Seketika, dari antara bayangan pepohonan, muncul beberapa sosok berpakaian gelap dengan pedang terhunus.

"Berhenti!" Teriak salah seorang dari mereka.

Kereta kuda berhenti mendadak, membuat tubuh mereka terhempas sedikit ke depan. Sang kusir berusaha mengendalikan kuda-kuda yang meringkik panik, sementara tiga pengawal yang menyertai mereka langsung menarik pedang dari sarungnya.

Raja Frederik membuka pintu kereta, turun dengan waspada, pedangnya terangkat. "Siapa kalian? Apa tujuan kalian menghadang kami?"

Salah satu pria bertopeng maju ke depan, suaranya dingin dan tajam. "Kami hanya menjalankan tugas, Yang Mulia. Tugas untuk memastikan tidak ada penerus bagi keturunanmu."

Tanpa aba-aba, mereka langsung menyerang. Pedang beradu, suara denting logam memenuhi udara. Raja Frederik melawan dengan sekuat tenaga, meski jumlah mereka jauh lebih banyak. Pengawal yang mendampinginya berusaha menahan serangan, namun satu per satu mereka tumbang, darah mereka mengalir membasahi tanah yang basah.

Di dalam kereta, Ratu Anneliese memeluk putrinya semakin erat. Jantungnya berdegup kencang, tangannya gemetar. Ia menatap keluar jendela kecil, melihat suaminya bertarung mati-matian.

Tiba-tiba, salah satu musuh berhasil meraih pintu kereta dan membukanya dengan paksa. Ratu Anneliese berteriak, berusaha melindungi putrinya, tetapi sebuah tangan kasar menariknya keluar dengan paksa.

"Frederik!" Teriaknya, matanya dipenuhi ketakutan.

Raja Frederik menoleh, dan di detik itulah pedang musuh menembus tubuh istrinya. Waktu seakan berhenti. Darah mengalir dari luka di dadanya, matanya yang indah mulai kehilangan sinarnya. Dengan napas tersengal, Ratu Anneliese jatuh ke tanah.

"TIDAK!" Teriak Raja Frederik. 

Dengan amarah yang meluap, ia menebas lawannya dengan satu serangan kuat. Namun semuanya telah terlambat. Tubuh istrinya telah tak bernyawa, terbujur kaku di antara tanah dan rerumputan yang basah.

Tiba-tiba, suara tangisan bayi memecah udara. Raja Frederik tersentak. Dari dalam kereta, putrinya menangis dengan nyaring, suara yang seakan memohon perlindungan.

"Jangan sentuh dia!" Raung Raja Frederik, berusaha menerjang ke arah kereta, namun dua musuh menahannya.

Salah seorang dari mereka meraih bayi itu dari dalam kereta. Raja Frederik berjuang sekuat tenaga, berusaha membebaskan diri, namun tenaga mereka terlalu kuat. Ia hanya bisa melihat, tanpa daya, bayinya diangkat ke udara, diiringi suara tangisan yang semakin memilukan.

Frederik berteriak, memanggil nama putrinya, tapi suaranya seakan tenggelam dalam badai yang semakin menggila.

Dan tiba-tiba—ia terbangun.

7 PRINCESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang