Mentari belum tinggi ketika gema lonceng kecil menggema dari ujung koridor timur, menandakan waktu masuk kelas telah tiba. Udara musim gugur yang menyeruak melalui celah-celah jendela yang tak sepenuhnya tertutup membuat suasana pagi itu lebih senyap dari biasanya. Bangku-bangku mulai terisi oleh para siswa yang mengenakan seragam akademi. Aula kelas dipenuhi suara langkah dan bisik lirih para murid yang bersiap mengikuti pelajaran pertama.
Luca duduk dengan setengah cemas di bangkunya yang terletak di barisan tengah, sesekali menoleh ke arah pintu kelas yang masih terbuka. Di sisi kirinya, Matthias tampak lebih resah. Jari-jarinya mengetuk pelan permukaan meja, menandakan ketidaksabarannya menanti seseorang yang belum juga muncul.
"Kenapa dia belum datang juga..." gumam Matthias, nyaris tak terdengar.
Luca tidak menjawab, namun tatapannya yang penuh tanya sudah cukup menggambarkan isi pikirannya. Nicolas tak biasanya terlambat. Bahkan saat ia tampak malas sekalipun, ia akan tetap datang tepat waktu—atau setidaknya masuk kelas bersamaan dengan dentang bel terakhir.
Hingga akhirnya, tepat saat seorang guru laki-laki paruh baya melangkah masuk ke dalam ruangan, sosok yang dinanti pun muncul.
Dengan langkah tergesa, Nicolas memasuki kelas. Rambutnya tersisir rapi meski masih terlihat lembap, dan jas akademinya juga terlihat rapi. Ia menapakkan langkah ringan menuju bangkunya di barisan belakang, tepat di belakang Luca dan Matthias.
Luca menoleh cepat ke belakang, napasnya lega. "Akhirnya," ucapnya pelan.
Matthias ikut menoleh. Namun saat melihat Nicolas duduk, alih-alih merasa lega, hatinya justru didera keraguan.
Nicolas tersenyum pada Luca. Senyuman itu aneh—hangat, lapang, bahkan terlalu ramah. Tak pernah sekalipun selama mereka berteman Matthias melihat Nicolas tersenyum seperti itu. Nicolas selalu bersikap tenang, bahkan dingin. Jika pun ia tersenyum, itu akan menjadi senyuman tipis penuh sarkas, atau senyum setengah hati yang lebih seperti ejekan.
Namun pagi ini, sudut matanya melengkung. Bahkan nada suaranya saat menyapa Luca mengandung keramahan yang janggal.
"Maaf aku telat. Tadi ada yang harus kuselesaikan sebentar," ucap Nicolas sambil duduk.
Luca hanya mengangguk dan membalas dengan senyum. Ia tak menangkap keganjilan itu.
Matthias diam. Ia mengamati Nicolas dari sudut mata. Bukan hanya senyumnya yang berubah, cara duduknya pun lebih santai. Kedua tangannya diletakkan di atas meja dengan tenang, matanya lurus ke depan.
Guru itu mulai membuka pelajaran, menuliskan beberapa pokok bahasan di papan tulis dengan kapur putih yang mengeluarkan suara khas.
Matthias berusaha fokus, namun pikirannya terus teralihkan oleh Nicolas. Ada sesuatu yang mengusik.
Beberapa menit berlalu tanpa suara dari murid-murid. Hingga tiba saat sang guru melemparkan pertanyaan sederhana kepada kelas.
"Siapa di antara kalian yang dapat menjelaskan prinsip dasar dari hukum Newton kedua, dalam konteks sistem tertutup?"
Kelas hening.
Biasanya, tidak akan ada yang menjawab kecuali terpaksa. Namun pagi itu, sesuatu yang di luar dugaan terjadi.
"Jika percepatan suatu objek berbanding lurus dengan gaya total yang bekerja padanya dan berbanding terbalik dengan massanya, maka sistem tertutup akan menunjukkan korelasi linier antara perubahan momentum dan gaya eksternal," jawab Nicolas, lantang dan tanpa ragu.
Beberapa kepala menoleh ke belakang. Termasuk Luca.
Guru itu tampak terkejut, namun kemudian tersenyum puas. "Jawaban yang baik, Tuan Moreau."
KAMU SEDANG MEMBACA
7 PRINCES
RomansaDi Tanah Aurion, perang telah mereda, tetapi bayang-bayangnya masih mengintai di setiap sudut istana. Dendam lama belum terkubur, dan rahasia yang telah lama disembunyikan mulai terungkap sedikit demi sedikit. Sebastian Whitmore dan Theodore Ashford...
