Malam itu ruang makan kamp pelatihan diselimuti cahaya redup dari lampu minyak yang bergoyang lembut di langit-langit kayu. Api kecil di balik kaca membuat bayangan kursi dan meja menari di dinding, seakan menambah kesan mencekam pada perjamuan sederhana tersebut. Meja panjang dari kayu ek dipenuhi piring tanah liat, mangkuk sup panas, dan roti kasar yang dibagikan untuk semua siswa. Aroma kaldu daging bercampur rempah memenuhi ruangan, namun suasana hati para penghuni di dalamnya jauh dari hangat. Tidak ada yang benar-benar merasa nyaman setelah keributan besar pagi tadi.
Jay duduk di ujung meja dengan kepala sedikit menunduk. Atasan merah marunnya tampak kusut, bercampur noda tipis dari latihan sore yang belum sempat ia rapikan. Rambutnya masih agak lembap, menempel di dahi karena ia mandi terburu-buru sebelum makan malam. Mata cokelatnya yang biasanya bersinar penuh kehangatan kini terlihat muram, lebih banyak menatap sup di depannya ketimbang orang-orang di sekelilingnya. Wajahnya berusaha netral, namun jelas terlihat ada pergulatan yang ia tahan di dalam.
Marco duduk dengan postur yang jauh berbeda, begitu santai seakan tidak peduli pada norma apa pun. Atasan merah marunnya setengah terbuka, memperlihatkan dada bidangnya yang tampak tidak terurus. Ia menyandarkan tubuh ke kursi dengan kaki terentang, sikapnya semena-mena. Senyum tipis terus menghiasi bibirnya, bukan senyum ramah melainkan lebih kepada ejekan yang siap meledakkan suasana kapan saja. Sorot matanya liar, penuh kesembronoan, seperti menunggu momen untuk memprovokasi lagi.
Di sisi meja yang lain, Theodore duduk dengan tegak dan penuh disiplin. Atasannya tampak tanpa cela, tidak ada kerutan, seolah tubuhnya diciptakan untuk seragam itu. Wajahnya dingin, tatapannya tajam, namun tidak ada ekspresi berlebihan yang ia tunjukkan. Ia seperti batu karang di tengah ombak, tidak terusik meski keadaan di sekelilingnya goyah. Keheningan yang ia pelihara justru membuatnya semakin terasa berjarak dari yang lain.
Sebastian berbeda sekali dari sepupunya. Ia tampak gelisah, terus-menerus memainkan sendok di atas mangkuk meski tidak benar-benar menyuap makanan. Rambut pirangnya jatuh ke dahi, membingkai wajah yang penuh ekspresi. Tatapannya bolak-balik antara Jay dan Marco, seakan mengantisipasi letupan api yang sewaktu-waktu bisa muncul. Suasana hati Sebastian mudah terbaca, drama kecil terlihat dari gerakan tubuhnya yang tak bisa diam.
Kevin duduk di tengah dengan wibawa yang berbeda. Tubuhnya tegap, sorot matanya penuh pengendalian. Sesekali ia mengetuk meja ringan dengan jarinya, seperti sedang mengukur jarak sebelum melakukan langkah penting. Atasan merah marunnya paling rapi, bahkan kerahnya terpasang sempurna, menunjukkan bahwa ia peduli pada penampilan sebagai lambang wibawa. Keberadaannya seolah menjadi jangkar di meja itu, menahan ruangan agar tidak pecah berkeping-keping.
Deon duduk bersebelahan dengan Noah, dan keduanya tampak asyik dengan bisikan kecil di antara mereka. Sesekali suara tawa tertahan terdengar, meski mereka pura-pura menutup mulut dengan tangan. Tatapan mereka menyipit, melirik Jay maupun Marco dengan rasa puas. Bagi mereka, drama ini adalah hiburan yang patut dinantikan. Mereka tampak seperti burung gagak yang senang melihat bangkai.
Tiga siswa lain yang belum banyak dikenal justru memilih jalan aman. Mereka sibuk dengan makanan, sendok bergerak cepat untuk segera menghabiskan isi mangkuk. Wajah mereka tertunduk, tidak berani menatap siapa pun. Mereka tampak ingin segera meninggalkan meja, seolah setiap detik di sana adalah beban yang berat. Diam mereka adalah perisai yang paling ampuh.
Suasana ruang makan terasa berat. Bayangan kursi menari di dinding, suara sendok beradu dengan mangkuk menjadi satu-satunya musik pengiring. Tidak ada yang berani membuka suara tentang peristiwa pagi tadi, meski jelas itu ada di kepala semua orang. Hanya suara angin dari luar jendela yang sesekali membuat kaca bergetar. Seolah seluruh alam pun menahan napas menunggu apa yang akan terjadi.
Kevin akhirnya memutuskan untuk memecah kesunyian. Suaranya dalam, tegas, tapi tetap hangat, seperti seorang pemimpin yang berusaha meredakan ketegangan. "Hari ini panjang sekali," ujarnya sambil meletakkan sendok dengan tenang. Nada bicaranya tidak memaksa, hanya memberi jalan agar obrolan bisa dimulai. Semua orang pun mendongak sedikit, memperhatikan arah suaranya. Bahkan Marco pun melirik dengan senyum tipisnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
7 PRINCES
Fiksi SejarahDi Tanah Aurion, perang telah mereda, tetapi bayang-bayangnya masih mengintai di setiap sudut istana. Dendam lama belum terkubur, dan rahasia yang telah lama disembunyikan mulai terungkap sedikit demi sedikit. Sebastian Whitmore dan Theodore Ashford...
