Setelah libur musim panas yang panjang, para siswa mulai kembali ke St. Britannia Academy. Udara musim gugur menyelimuti akademi dengan angin sejuk yang berembus lembut, membawa serta aroma tanah basah setelah hujan ringan semalam. Langit kelabu dengan awan tipis, namun suasana di halaman depan akademi terasa lebih ramai dari biasanya.
Kereta-kereta yang membawa para siswa kembali berhenti satu per satu di pelataran akademi. Saat salah satu kereta berhenti, pintunya terbuka dengan perlahan, memperlihatkan dua sosok yang langsung menarik perhatian banyak orang. Sebastian Whitmore dan Theodore Ashford turun dari dalam kereta, langkah mereka mantap, namun tanpa disadari, puluhan pasang mata telah tertuju pada mereka.
Bisikan-bisikan pelan mulai terdengar di antara para siswa. Ada yang terkejut, ada yang sekadar memperhatikan, dan ada pula yang mulai berspekulasi di balik kedatangan mereka.
"Lihat, itu Sebastian dan Theodore."
"Mereka tampak lebih berwibawa dibanding tahun lalu..."
"Sebastian terlihat semakin berkarisma... dan Theodore... bukankah dia yang disebut-sebut sebagai putra mahkota yang asli?"
Sebastian mendengar bisikan-bisikan itu, begitu pula Theodore, namun tak ada reaksi berlebihan dari keduanya. Mereka tetap berjalan dengan tenang menuju asrama, tak sekalipun melirik ke arah siswa lain yang memperhatikan mereka.
Sebastian menoleh sedikit ke arah Theodore dan berbisik pelan, hanya cukup untuk didengar oleh sepupunya itu, "Kau sadar, kan? Mulai sekarang, kau akan jauh lebih terkenal dibanding tahun sebelumnya."
Theodore hanya melirik sekilas ke arah Sebastian sebelum kembali menatap lurus ke depan. "Biarkan saja," jawabnya singkat, seolah tak peduli dengan perubahan besar yang mungkin menanti dirinya.
Langkah mereka semakin cepat ketika mendekati area asrama. Begitu tiba, Sebastian berhenti di depan pintu kamar Theodore, mengangkat satu alisnya dan menyandarkan bahu ke kusen pintu, menghalangi Theodore yang hendak masuk.
"Mulai detik ini," kata Sebastian dengan suara rendah namun penuh ketegasan, "aku akan menganggapmu sebagai saingan untuk memperebutkan takhta."
Theodore menghela napas pelan, menatap mata Sebastian yang dipenuhi ambisi. "Jangan terlalu banyak bermimpi," jawabnya dengan nada datar. "Takhta itu sudah menjadi hakku."
Sebastian menyeringai kecil, ekspresi khasnya yang menandakan bahwa ia tidak akan mundur begitu saja. "Itu kalau kau bisa mempertahankannya, Theo. Selagi kau belum diangkat secara resmi, selagi statusmu masih belum diakui oleh seluruh kerajaan, aku tidak akan menyerah mendapatkan apa yang aku inginkan."
Theodore menatap Sebastian lebih lama kali ini. Ada sesuatu dalam mata sepupunya yang sulit ia baca, sesuatu yang lebih dari sekadar ambisi biasa. Ia tahu bahwa Sebastian bukan seseorang yang mudah menyerah begitu saja.
"Kalau kau benar-benar ingin bersaing denganku, lakukanlah dengan cara yang adil," kata Theodore, suaranya terdengar lebih tegas. "Bagaimanapun juga, kita masih sepupu."
Sebastian hendak membalas, namun sebelum ia sempat mengucapkan sepatah kata pun, Theodore sudah lebih dulu masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Sebastian yang masih berdiri di depan pintu.
Suasana yang semula terasa biasa perlahan berubah menjadi lebih tegang. Angin musim gugur berembus lebih kencang, seakan membawa serta sebuah tanda bahwa tahun ini, persaingan mereka akan lebih tajam daripada sebelumnya.
Sebastian menarik nafas panjang, berniat meninggalkan kamar Theodore sebelum matanya menangkap sosok yang tidak seharusnya berada di sana.
Louis Leon de Beaumont berjalan santai di koridor tingkat dua, tempat para siswa tahun kedua tinggal. Hal itu sontak membuat Sebastian mengernyitkan dahi.
KAMU SEDANG MEMBACA
7 PRINCES
Storie d'amoreDi Tanah Aurion, perang telah mereda, tetapi bayang-bayangnya masih mengintai di setiap sudut istana. Dendam lama belum terkubur, dan rahasia yang telah lama disembunyikan mulai terungkap sedikit demi sedikit. Sebastian Whitmore dan Theodore Ashford...
