Langit malam di atas St. Britannia bergelayut tenang, kelam, dan nyaris tanpa bintang. Hanya cahaya redup dari lentera-lentera akademi yang menjadi penerang, memantul lembut di atas jalanan bebatuan yang lembap oleh embun. Udara musim gugur membawa kesejukan yang menggigit, menusuk kulit siapa pun yang nekat berjalan tanpa mantel.
Di lantai dua gedung asrama putra, Sebastian Whitmore tengah duduk di tepi ranjangnya, mengusap rambut basah dengan handuk tipis setelah mandi. Ia mengenakan kemeja tidur berwarna merah yang masih kusut, dan celana panjang berbahan katun. Mata kelamnya menatap jendela yang sedikit terbuka, membiarkan udara malam menyelinap masuk. Ada kekosongan yang menyelimuti dirinya, seperti sisa bara api yang kehilangan pijar.
Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu.
Tok. Tok. Tok.
Sebastian memalingkan wajah, sedikit heran. Waktu telah lewat pukul sepuluh malam, dan biasanya tidak ada kunjungan pada jam ini. Ia bangkit perlahan, mengenakan jubah panjangnya, lalu berjalan ke arah pintu. Dengan satu tarikan napas, ia membuka daun pintu itu.
"Louis?" ujarnya, terkejut.
Di hadapannya berdiri Louis Leon de Beaumont, pangeran dari Althera, mengenakan mantel panjang berwarna hitam dengan lapisan merah marun di dalamnya. Wajahnya tenang, namun mata tajam itu menyimpan sesuatu yang sulit ditebak—campuran antara kemarahan, kebingungan, dan tekad yang tak tergoyahkan.
"Aku perlu bicara," kata Louis tanpa basa-basi.
Sebastian mengangguk, meski rasa herannya belum reda. Ia mempersilakan Louis masuk. Kamar Sebastian sangat besar, dan juga rapi. Dindingnya dihiasi beberapa lukisan kecil dan peta wilayah Aurion, meja tulis di pojok kamar dipenuhi buku-buku tebal, dan lilin yang menyala di atasnya menebar cahaya hangat kekuningan.
Louis berjalan masuk dengan langkah pasti, lalu berdiri mematung begitu mereka tiba di tengah ruangan. Sebastian menutup pintu di belakang mereka.
"Ada apa?" tanya Sebastian, mencoba terdengar tenang.
Tanpa membuang waktu, Louis menatapnya tajam dan bertanya, "Apakah benar Isabella dan Theodore menjalin hubungan?"
Sebastian membeku. Pertanyaan itu datang tiba-tiba, menusuk seperti anak panah yang dilepaskan tanpa peringatan.
"Apa maksudmu?"
"Aku yakin kau tahu maksudku. Apakah mereka memiliki hubungan lebih dari sekadar teman?"
Sebastian mengernyit. Ia berjalan ke sisi tempat tidurnya, duduk, dan menatap Louis dengan pandangan rumit. "Kau datang ke kamarku malam-malam hanya untuk menanyakan itu?" Suaranya terdengar sinis saat bertanya.
Louis tetap berdiri tegak. "Benar. Dan aku ingin jawaban jujur."
"Aku kira ada urusan penting. Louis, kita punya masalah lain yang lebih besar daripada urusan perasaan dua orang anak muda—"
"Tidak bagiku." Louis memotong ucapan itu. Suaranya tidak meninggi, namun penuh penekanan. "Bagiku, ini penting."
Sebastian menyandarkan punggungnya, lalu menghela napas. Matanya menatap langit-langit kamar, seakan berharap jawaban datang dari sana.
"Aku tidak tahu," jawabnya akhirnya. "Aku tidak tahu pasti. Aku pun terkejut mendengar rumor itu. Bahkan aku belum pernah melihat mereka berdua berbicara secara pribadi."
Louis menyipitkan mata. "Kau tidak menyelidikinya? Kau tidak bertanya pada Isabella?"
"Mengapa aku harus mencampuri urusan hati orang lain, Louis? Aku bahkan belum sempat mengurus diriku sendiri."
"Karena kau telah membuat perjanjian denganku!"
Keheningan mengambang di antara mereka. Lilin di meja berkedip ditiup angin kecil dari celah jendela.
KAMU SEDANG MEMBACA
7 PRINCES
RomantikDi Tanah Aurion, perang telah mereda, tetapi bayang-bayangnya masih mengintai di setiap sudut istana. Dendam lama belum terkubur, dan rahasia yang telah lama disembunyikan mulai terungkap sedikit demi sedikit. Sebastian Whitmore dan Theodore Ashford...
