Aula megah itu dipenuhi oleh para siswa baru yang duduk dengan tertib sesuai dengan aturan akademi. Putra-putra bangsawan menempati sisi kiri aula, sementara putri-putri bangsawan duduk di sisi kanan. Aula ini berwarna khas Ravellion—red, gold, black, and white—menampilkan kemegahan yang sesuai dengan status akademi sebagai sekolah elite para bangsawan.
Di depan aula, sebuah panggung besar berdiri megah. Di atasnya, Raja Charles dari Ravellion berdiri dengan penuh wibawa, mengenakan jubah raja berwarna merah maroon dengan bordiran emas yang menunjukkan lambang kerajaan. Matanya tajam, menunjukkan otoritas seorang pemimpin yang dihormati di seluruh wilayah Ravellion dan sekitarnya.
"Para pewaris masa depan kerajaan," suara Raja Charles bergema di aula, membuat semua siswa memperhatikannya.
"Kalian telah diterima di St. Britannia, akademi yang telah melahirkan pemimpin-pemimpin besar sepanjang sejarah. Di tempat ini, kalian akan mengasah kecerdasan, keberanian, dan kehormatan. Kalian bukan hanya datang untuk belajar, tetapi juga untuk membangun koneksi, membentuk masa depan kerajaan kalian, dan memahami tanggung jawab kalian sebagai bangsawan."
Semua siswa yang berada di aula mendengarkan dengan saksama setiap kata yang diucapkan sang raja. Tak ada siapapun dari mereka yang berani angkat bicara selagi Raja Charles menyampaikan pidatonya.
"St. Britannia bukan hanya sekadar akademi—ini adalah tempat di mana kalian akan diuji. Kesetiaan, strategi, dan diplomasi akan menjadi senjata kalian. Manfaatkan waktu kalian dengan baik, jadilah yang terbaik di antara yang terbaik."
Pidato itu singkat, tapi penuh makna. Setelah itu, Raja Charles mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat bahwa pidatonya selesai. Aula kembali sunyi sebelum akhirnya diisi dengan tepuk tangan tertata dari para siswa.
Di antara mereka, Jay duduk sendiri, menatap panggung dengan tatapan penuh tekad. Theodore duduk beberapa baris di belakangnya, sementara Sebastian duduk di barisan paling depan.
Di sisi lain aula, Isabella duduk di sebelah Eleanor, keduanya tampak lebih santai setelah berkenalan lebih jauh.
Setelah pidato selesai, Raja Charles kembali duduk di kursi yang telah disediakan di atas panggung. Duduk bersama para ahli akademi di St. Britannia.
Kepala Akademi St. Britannia—Sir Victor Blackwood, seorang pria tua dengan rambut putih dan postur tegap, naik ke podium. Dengan suara tegas, ia berkata: "Setiap siswa akan ditempatkan berdasarkan latar belakang dan bidang yang ingin mereka kuasai. Pembagian kelas akan dibacakan oleh wakil kepala akademi yaitu Sir Cedric Devereux."
Wakil Kepala Akademi yang kini telah berdiri di podium, menggantikan Kepala Akademi, mulai membacakan pembagian kelas yang berlaku di semester ini. Di aula hanya terdengar suara Sir Cedric, membacakan setiap nama demi nama yang termasuk di dalam kelas itu."
Jay, Theodore, Sebastian, Isabella, dan Eleanor akan bertemu dalam kelas yang sama: Diplomasi dan Administrasi.
Setelah pengumuman selesai, para siswa pun diminta untuk beranjak menuju kelas masing-masing.
Isabella menoleh ke Eleanor dengan senyum kecil. "Sepertinya kita akan sering bertemu di kelas," katanya. Dibalas dengan anggukan anggun dari Eleanor.
Melihat beberapa siswa mulai beranjak, Jay lantas berdiri dari tempat duduknya. Jay, yang baru pertama kali menginjakkan kaki di akademi ini, sempat berhenti sejenak di tengah aula, matanya menyapu sekeliling, mencoba memahami tata letak bangunan yang baru. Jay masih harus menyesuaikan diri.
Sebastian belum terlihat di mana pun, dan Jay belum memiliki kesempatan untuk mencarinya. Di antara kerumunan siswa berseragam rapi, seorang pengawas asrama datang menghampiri dan memberi arahan tentang lokasi kelas pertama.
KAMU SEDANG MEMBACA
7 PRINCES
RomanceDi Tanah Aurion, perang telah mereda, tetapi bayang-bayangnya masih mengintai di setiap sudut istana. Dendam lama belum terkubur, dan rahasia yang telah lama disembunyikan mulai terungkap sedikit demi sedikit. Sebastian Whitmore dan Theodore Ashford...
