Langit malam di atas Akademi St. Britannia diguyur rembulan pucat yang menggantung lesu di balik tirai awan tipis. Jam berdenting dari kejauhan, menandakan bahwa waktu telah melangkah melewati pukul sembilan malam. Sunyi menyelimuti bangunan tua yang berdiri angkuh dengan dinding-dinding batu abu-abu, seolah menyimpan ribuan rahasia para penghuninya.
Theodore baru saja menyelesaikan mandinya. Uap hangat masih mengepul pelan dari balik pintu kamar mandi yang terbuka. Rambutnya yang basah meneteskan sisa air ke lehernya, sementara ia mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil. Langkah kakinya tenang saat ia keluar dari kamar mandi, namun langkah itu langsung terhenti saat matanya menangkap sosok yang seharusnya tak ada di dalam kamarnya.
Sebastian sedang berbaring di ranjangnya. Dengan pakaian tidur yang rapi dan lengan disilangkan di belakang kepala, pria itu tampak santai seolah kamar itu memang miliknya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Theodore cepat, suaranya tidak meninggi, tetapi jelas memuat keterkejutan dan ketidaksenangan. "Pintuku terkunci."
Sebastian menoleh pelan, bibirnya melengkung sedikit. "Aku minta kunci cadangan."
"Apa?" Theodore mengerutkan kening. Ia meletakkan handuk di pundaknya. "Aku sedang mandi. Kau bisa mengetuk dan menunggu."
"Aku mengetuk. Tapi tak ada jawaban. Aku tidak suka menunggu," balas Sebastian, duduk perlahan di tepi ranjang. Matanya menatap Theodore dengan tajam.
Theodore mendesah pelan, menyandarkan diri pada kusen pintu kamar mandi. Air masih menetes dari ujung rambutnya.
"Kau bisa menunggu. Kau tahu aku tidak akan mengabaikan ketukan."
"Mungkin. Tapi aku tidak datang hanya untuk duduk di depan pintu," ujar Sebastian, kali ini nadanya lebih berat. "Aku datang untuk bicara."
Theodore mengangkat alis. Ia berjalan menuju meja kecil dan mengambil sisir. "Tentang apa?"
Sebastian tidak segera menjawab. Ia menatap langit-langit, seakan menyusun kata.
"Isabella."
Theodore menghentikan gerakan menyisirnya. Diam.
Sebastian berdiri, mendekat dengan langkah pelan namun mantap. "Benarkah kau dan dia menjalin hubungan?"
Theodore tidak segera menatapnya. Ia memandangi cermin bundar di depannya. Kilatan ragu melintas di matanya. Ada ribuan jawaban yang berkelebat di kepalanya, namun tak satu pun keluar dengan pasti.
"Kau diam. Jadi rumor itu benar?" tekan Sebastian, kini berdiri tepat di belakang Theodore.
Theodore mengangkat wajah, menatap pantulan Sebastian di cermin. "Seharusnya itu bukan urusanmu."
"Tentu saja itu urusanku," ujar Sebastian cepat. "Kau sepupuku, bagian penting dari Ravellion. Kau tahu betul kenapa aku bertanya."
Theodore menutup mata sejenak. Ia teringat percakapan di tangga asrama, di mana Louis mengajak Sebastian dalam rencananya yang dingin dan penuh kalkulasi. Rencana yang, meskipun tidak diungkapkan secara gamblang, menyimpan ancaman. Percakapan mereka yang dia dengar di depan kamarnya pun masih membekas karena masih baru.
Saat membuka mata kembali, Theodore tahu ia tak bisa mengatakan yang sebenarnya. Ia tahu, jika ia menyebut bahwa ia dan Isabella tak menjalin hubungan, maka kemungkinan besar Isabella akan terus menjadi sasaran.
Ia menarik napas pelan, lalu berkata, "Ya. Kami berpacaran."
Sebastian terdiam. Ekspresinya sulit ditebak, antara terkejut, kecewa, atau bahkan... bingung.
"Sejak kapan?" tanyanya dingin.
"Tidak penting. Yang jelas, perasaan itu murni. Dan aku tak berniat menjelaskan lebih dari itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
7 PRINCES
Fiksi SejarahDi Tanah Aurion, perang telah mereda, tetapi bayang-bayangnya masih mengintai di setiap sudut istana. Dendam lama belum terkubur, dan rahasia yang telah lama disembunyikan mulai terungkap sedikit demi sedikit. Sebastian Whitmore dan Theodore Ashford...
