Langit siang di atas St. Britannia Academy tampak berwarna kelabu keperakan, pertanda musim gugur telah merasuk perlahan dalam setiap sudut bangunan akademi tua itu. Dedaunan yang semula hijau cerah mulai berguguran, berubah jingga dan cokelat, terbawa angin ringan yang berhembus menyusuri lorong-lorong panjang bangunan batu.
Louis Leon de Beaumont baru saja melangkah keluar dari ruang kelas di lantai dua, jubah akademiknya bergoyang lembut mengikuti langkahnya yang tenang namun penuh wibawa. Di belakangnya, keempat sahabat setianya—Vlad Pavel, Daniel Dimitry, Roderic Anteros, dan Stephan Diego—mengikutinya sambil berbincang ringan mengenai tugas filsafat yang baru saja diselesaikan. Canda tawa mereka berpadu dengan suara langkah kaki yang berderak di lantai marmer, mengisi koridor dengan kehidupan.
Namun langkah Louis tiba-tiba terhenti kala pendengarannya menangkap sesuatu yang tak biasa.
"Hei, tak ku sangka jika Sebastian berada di posisi ketiga dalam angkatan mereka," ujar seorang siswa yang melintas bersama temannya. Suaranya lirih, tapi cukup jelas untuk didengar Louis.
Temannya tertawa kecil, suaranya penuh ironi. "Meski sudah menduga jika Theodore berada di peringkat pertama, tapi mengetahui fakta jika Sebastian berada di peringkat ketiga itu... lucu."
"Benar, bahkan fakta bahwa Jay menduduki peringkat kedua sungguh membuat sejarah yang seru."
Kedua siswa itu terus berjalan, tak menyadari bahwa ucapan mereka telah menghentikan langkah seorang pangeran Althera.
Louis menoleh cepat, tatapannya tajam menyoroti punggung kedua siswa yang kini makin menjauh. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, bukan karena kemarahan, melainkan keterkejutan yang menyelinap begitu saja. Ia berdiri diam, seolah mencari konfirmasi dari udara.
"Louis?"
Suara Roderic memecah lamunannya. Louis menoleh, melihat keempat temannya yang menatapnya dengan bingung.
"Ada apa?" tanya Vlad, keningnya berkerut.
Louis menggeleng pelan, senyum tipis yang dipaksakan muncul di wajahnya. "Tidak apa-apa. Aku hanya mengingat sesuatu. Ayo, kita lanjutkan."
Meski kata-katanya ringan, isi kepalanya sama sekali tidak. Ia melangkah lagi, namun kini langkahnya terasa lebih berat. Pikirannya berputar-putar, membongkar kemungkinan demi kemungkinan.
Sebastian Whitmore. Pangeran Ravellion. Sosok yang dikenal selalu menyandang kehormatan, selalu tampil sempurna, dan konon, terlalu menjunjung tinggi martabat keluarganya. Bagaimana mungkin seseorang seperti itu hanya berada di posisi ketiga?
Louis mengingat tatapan dingin Sebastian, pembawaannya yang percaya diri, bahkan kadang nyaris arogan. Selama ini ia tak pernah melihat pria itu kehilangan pijakan. Maka, mendengar bahwa Sebastian kalah dari dua nama lainnya—Theodore dan Jay—bukan hanya mengejutkan, melainkan juga membingungkan.
Apakah benar Sebastian kalah karena nilai? Ataukah ada hal lain yang terjadi di balik layar?
Louis merasa ada sesuatu yang tidak selaras, seperti nada sumbang dalam orkestra. Ia tidak bisa begitu saja melupakan percakapan tadi.
"Kau yakin kau baik-baik saja?" tanya Daniel, yang berjalan di sampingnya. Suaranya penuh perhatian.
Louis mengangguk. "Aku hanya sedikit lelah."
"Mungkin karena cuaca," sahut Stephan. "Musim gugur membuat semuanya terasa lamban."
Louis tersenyum samar, tapi pikirannya masih terhenti di nama itu: Sebastian.
Sesampainya mereka di Britannia Hall, suara riuh para siswa yang tengah makan siang menyambut mereka. Hall besar itu dipenuhi aroma roti panggang, sup kaldu hangat, dan daun teh kering yang baru diseduh. Tapi bagi Louis, semuanya terasa hampa.
KAMU SEDANG MEMBACA
7 PRINCES
Roman d'amourDi Tanah Aurion, perang telah mereda, tetapi bayang-bayangnya masih mengintai di setiap sudut istana. Dendam lama belum terkubur, dan rahasia yang telah lama disembunyikan mulai terungkap sedikit demi sedikit. Sebastian Whitmore dan Theodore Ashford...
