Chapter 28: Melodi Malam di Istana Lunar

120 5 0
                                        

Malam itu, setelah Isabella meninggalkan ruangannya, Raja Frederik tetap duduk di kursinya, menatap pintu yang telah tertutup rapat. Wajahnya tanpa ekspresi, namun pikirannya terus berputar. Ia tahu, Isabella tidak sepenuhnya jujur. Bukan karena putrinya ingin mengkhianatinya, tetapi karena ada sesuatu yang disembunyikan—sesuatu yang membuatnya memilih untuk berkata demikian.

Frederik bukan raja yang mudah dibohongi. Bertahun-tahun memimpin Kerajaan Lunar telah mengajarkannya bagaimana membaca manusia, memahami kebohongan yang terselubung dalam nada bicara dan gerak-gerik seseorang. Namun, kali ini ia memilih untuk diam. Ia memilih untuk mempercayai putrinya, meski hatinya sedikit tergores karena ketidakjujuran itu. Sebagai seorang ayah, ia menginginkan keterbukaan dari Isabella, tetapi sebagai seorang raja, ia memahami bahwa terkadang kebenaran harus disimpan.

Ia menghela napas panjang, lalu bangkit dari kursinya. Rasa sesak dalam dadanya tidak kunjung mereda, dan ia memutuskan untuk berjalan-jalan di dalam istana. Ditemani hanya oleh suara langkah kakinya sendiri, Frederik menyusuri lorong-lorong yang diterangi cahaya obor dan lampu minyak. Bayangan dirinya tercetak di dinding, memanjang dan bergoyang seiring nyala api yang berkelip.

Langkahnya terhenti di salah satu ruangan yang tidak sering ia kunjungi—sebuah ruangan besar dengan langit-langit tinggi dan dinding yang dihiasi lukisan-lukisan keluarga kerajaan. Matanya tertuju pada satu lukisan besar yang menggambarkan dirinya berdiri di samping seorang wanita muda bergaun putih dengan mahkota kecil di kepalanya. Anneliese.

Dada Frederik seakan diremas. Rasa rindu itu datang begitu saja, menghantamnya dengan keras.

Tangannya terulur, jemarinya menyentuh bingkai kayu ukiran yang melingkupi lukisan itu. Ia ingat hari ketika potret itu dilukis. Anneliese sedikit menggerutu karena harus berdiam diri terlalu lama, tetapi akhirnya ia tersenyum dan berpose dengan anggun seperti yang diinginkan sang pelukis. Senyum itu... masih sama seperti dalam ingatannya.

Kenangan lain muncul dalam benaknya, lebih jauh ke masa lalu. Saat pertama kali ia melihat Anneliese.

Kala itu, Frederik masih berusia lima belas tahun, seorang pangeran muda yang baru saja mulai memahami apa itu cinta. Ia melihatnya dalam satu acara jamuan kerajaan, di mana Anneliese yang baru berusia dua belas tahun diperkenalkan sebagai calon penerus keluarga Wei. Ia begitu cantik, dengan rambut pirang keemasan yang tergerai lembut dan mata biru yang berkilau seperti safir. Saat itulah, untuk pertama kalinya, hati seorang pangeran berdetak lebih cepat.

Ia tahu saat itu juga bahwa ia ingin Anneliese menjadi permaisurinya.

Setelah perjamuan itu, Frederik muda memberanikan diri untuk berbicara pada orang tuanya. Ia meminta agar dirinya dijodohkan dengan Anneliese. Ibunya tertawa kecil mendengar permintaannya, sementara ayahnya mengusap dagunya, mempertimbangkan permintaan putra sulungnya dengan bijak. 

"Kau bahkan belum mengenalnya, Frederik," ujar Raja Pieter saat itu. "Bagaimana jika kau berubah pikiran?"

Namun, Frederik tidak berubah pikiran. Tahun-tahun berlalu, dan ia tetap memegang teguh keinginannya. Hingga akhirnya, saat Anneliese berusia enam belas tahun, ia dijadikan putri mahkota—sebuah gelar yang kelak membawanya menjadi permaisuri.

Frederik menikahinya pada usia dua puluh dua tahun. Sebuah pernikahan yang disaksikan oleh seluruh rakyat Kerajaan Lunar. Saat itu, ia masih menyandang gelar putra mahkota, karena ayahnya, Raja Pieter, masih menduduki takhta. Ayahnya adalah seorang raja yang bijaksana, tetapi juga keras. Frederik tidak segera diberi tanggung jawab untuk memimpin karena Raja Pieter merasa putranya masih terlalu muda. Dan tentu saja, ada satu hal lagi yang menjadi pertimbangan sang raja—kebucinannya terhadap Anneliese.

Frederik tersenyum kecil saat mengingat itu. Ya, ayahnya benar. Ia memang sangat mencintai Anneliese, bahkan hingga kini, setelah bertahun-tahun berlalu dan sang ratu telah tiada.

7 PRINCESCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang