III

444 34 37
                                        

Jiwoo berdiri di balkon besar villanya, ia mendongak keatas melihat bintang-bintang kecil yang menghiasi langit malam. Mujin memeluk dan melingkarkan lengannya diperut istrinya dan mengusapnya.

Mujin mengecup berkali-kali leher dan bahu Jiwoo.
Jiwoo berbalik dan melingkarkan lengannya di leher Mujin. Ia lalu mencium suaminya. Mujin membalas ciuman itu dengan dalam, ia terus melumat bibir mungil yang membuatnya candu, membuat bibir keduanya bengkak dan kemerahan.

Jiwoo melepas ciuman itu lalu memeluk Mujin dengan erat. Mujin memegang dan mengangkat kedua paha Jiwoo untuk menggendongnya ke kasur. Ia kembali mencium bibir istrinya sembari menindihnya dan mulai membuka bajunya.

......


Mujin dan Jiwoo sampai di bandara Incheon, Taeju sudah menunggu mereka berdua. Tangan kiri Mujin menarik koper, tangan kanannya menggenggam erat tangan Jiwoo.

Taeju segera berjalan ke arah Mujin dan mengambil alih koper tersebut sembari melaporkan beberapa hal penting.

Mereka bertiga sampai di mobil, Mujin membuka pintu untuk Jiwoo masuk lalu ia masuk duduk disampingnya dan mobil mereka melaju pergi.

Sesampainya dipenthouse, sudah ada seorang housemaid ahjumma yang menyambut mereka, Mujin memang meminta Taeju untuk menempatkannya dipenthouse, ia tidak ingin Jiwoo melakukan pekerjaan berat.

"Mwoya? Yeobo.. kenapa ada ahjumma?" tanya Jiwoo bingung sesampainya dikamar dan duduk dikasur.

"Aku tidak ingin kau melakukan hal berat, mulai hari ini ahjumma yang akan mempersiapkan semuanya" balas Mujin berganti pakaiannya.

"Yeobo.. aku ada klien penting, aku akan pergi sebentar dan secepatnya kembali" ucap mengancing kemejanya dan memakai dasi.

"Yeobo.. mulai sekarang bekerja lah seperti biasa, aku bisa sendiri, kau tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku" balas Jiwoo membantu merapikan dasi dan memakaikan jas suaminya.

"Andwae.. aku hanya akan pergi jika itu sangat penting. Aku bisa bekerja dirumah" ujar Mujin memegang kedua bahu Jiwoo.

"Aku tidak ingin kejadian bulan lalu itu terulang lagi, kau mengatakan kau baik-baik saja tapi kau mual-mual sampai lemas" Mujin mengecup kening dan bibir Jiwoo.

"Mungkin karena ini kehamilan pertama, aku menjadi lebih sensitif" balas Jiwoo menatap suaminya yang sudah rapi dan tampan.

"Maka dari itu aku tidak ingin membiarkanmu sendiri. Aku akan menghubungi nanti" Mujin melangkah keluar dari kamar.

Jiwoo membuka kopernya dan menyusun beberapa baju yang mereka bawa di pulau Jeju. Ia memutuskan untuk beristirahat sebentar karena pinggangnya terasa pegal.

Sorenya Mujin pulang ke penthouse dan segera menuju kamarnya, ia melihat istrinya tertidur pulas. Ia membuka jas dan dasinya lalu merebahkan dirinya di sampingnya Jiwoo, memeluknya memberi kehangatan, mencium aroma rambut dan tubuh Jiwoo menenangkan. Mujin juga tertidur.

Beberapa jam tertidur, membuat Jiwoo terbangun dengan badan yang lebih segar. Ia menoleh ke Mujin yang tertidur pulas. Ia mengusap pipi suaminya dengan jempolnya yang terasa mungil diwajahnya.
Mujin terbangun dengan membuka matanya.

"Yeobo.." panggil Mujin dengan suara berat bernada manja. Ia menggeser membenamkan wajahnya di leher Jiwoo dan mengecupnya.

"Yeobo.. berhenti mencium leherku" ucap Jiwoo tertawa geli.

"Yeobo.. besok kita akan kedokter untuk periksa rutin kan?" tanya Mujin.

"Kau mengingatnya? Bukankah kau sangat sibuk?" ujar Jiwoo.

Love Struck 2 : PainfulCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang